Ketupat yang Ikonik Saat Lebaran Ternyata Punya Filosofi Mendalam

Ketupat yang Ikonik Saat Lebaran Ternyata Punya Filosofi Mendalam

Diah Afrilian - detikFood
Senin, 09 Mar 2026 17:00 WIB
Ilustrasi ketupat
Foto: Getty Images/ROHE Creative Studio
Jakarta -

Saat lebaran, suguhan ketupat hadir meramaikan meja makan. Ternyata penyajian ketupat beserta lauk pauknya punya makna mendalam.

Ketupat menjadi salah satu hidangan yang paling identik dengan perayaan Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Ditambah beberapa lauk pauk yang juga ikut disajikan sebagai pelengkapnya.

Makanan yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda ini bukan sekadar sajian kuliner. Namun juga memiliki makna simbolis yang mendalam dalam budaya masyarakat Nusantara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keberadaan ketupat dalam tradisi Lebaran telah berlangsung selama berabad-abad. Selain menjadi makanan yang lezat dan mengenyangkan, ketupat juga dianggap memiliki filosofi yang kuat.

Baca juga: Nekat Jual Makanan Sejak Pukul 9 Pagi Saat Ramadan, Pedagang Ditahan!

ADVERTISEMENT

Berikut ini 5 filosofi ketupat yang identik dengan lebaran, dilansir dari berbagai sumber:

Ketupat lebaran.Penyajian ketupat konon diinisiasi oleh sosok Sunan Kalijaga. Foto: iStock

1. Asal Usul Ketupat

Tradisi ketupat sering dikaitkan dengan tokoh penyebar Islam di Jawa, yaitu Sunan Kalijaga. Sosoknya tak terlepas dari penyebaran ajaran Islam di pulau Jawa yang dikenal sebagai bagian dari Wali Songo.

Kupatan berasal dari kata "ngaku lepat" yang berarti "mengakui kesalahan". Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk saling memaafkan setelah menjalani Ramadan.

Ketupat kemudian menjadi simbol dari proses tersebut, yakni pengakuan kesalahan dan harapan untuk kembali suci setelah berpuasa. Selain itu, bentuk anyaman daun kelapa yang rumit melambangkan berbagai kesalahan manusia selama hidup.

2. Simbol Bentuk Ketupat

Proses pembuatannya memerlukan keterampilan khusus, terutama dalam menganyam daun kelapa menjadi bentuk kantong. Di banyak daerah di Indonesia, keterampilan membuat anyaman ketupat biasanya diwariskan secara turun-temurun.

Janur atau daun kelapa muda dipilih sebagai bagian pembungkus ketupat. Jamur sering dimaknai sebagai "jatining nur" atau "cahaya sejati" yang melambangkan petunjuk dari Tuhan.

Anyaman ketupat yang sulit menggambarkan kesalahan manusia yang kompleks selama menjalani kehidupan. Dengan bentuknya yang segi empat melambangkan kesempurnaan serta keseimbangan dalam kehidupan manusia.

3. Makna Isian Nasi Putih di Dalamnya

Ketupat dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa muda atau janur. Beras diisi setengah dari rongga ketupat.

Anyaman tersebut kemudian direbus selama beberapa jam hingga beras mengembang dan padat membentuk nasi yang khas. Setelah dibelah akan terlihat beras yang padat dan berwarna putih.

Isinya dianggap melambangkan hati yang kembali suci setelah saling memaafkan. Sesuaikan dengan arti fitri dalam 'Idul Fitri' yang bermakna kembali kepada kesucian.

Ketupat lebaran.Di berbagai daerah di Indonesia, ada tradisi penyajian ketupatnya masing-masing. Foto: iStock

4. Ketupat di Berbagai Daerah

Walaupun identik sebagai hidangan Lebaran nasional, ketupat ternyata punya berbagai variasi di daerah-daerah Indonesia. Di Jawa, ketupat biasanya disajikan bersama opor ayam, sambal goreng ati, dan sayur labu siam.

Di Sumatra Barat, ketupat sering disajikan bersama gulai nangka atau rendang. Sementara di Bali, terdapat variasi ketupat yang disebut tipat, yang juga digunakan dalam berbagai upacara keagamaan.

Di Sulawesi Selatan, ketupat dikenal dengan nama "katupat" dan menjadi bagian penting dari hidangan Lebaran bersama coto Makassar atau buras. Tetapi hampir semua jenisnya tetap memiliki makna yang serupa.

5. Menu Pelengkapnya

Salah satu menu yang identik sebagai pelengkap ketupat ialah opor. Ternyata opor juga punya makna filosofis.

"Jadi opor itu dipakai oleh Islam yang berasal dari orang Jawa. Artinya itu 'ngapura ing ngapuro' (bermakna) maaf dan memaafkan. Sebelum ada Islam, 'ngapura ing ngapuro' sudah menjadi tradisi orang Jawa untuk meminta maaf," kata Wira Hardiansyah selaku travelling chef sekaligus sejarawan kuliner.

Budaya meminta maaf yang berkembang di Jawa ini juga menjadi media yang digunakan oleh Wali Songo untuk menyebarkan agama Islam. Makna yang tidak berbenturan dengan budaya Jawa memudahkan Wali Songo untuk masuk dan mengenalkan arti kesucian.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Kata Chef Yongki Soal Tren Makanan Viral & Kekinian"
[Gambas:Video 20detik]
(dfl/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads