Jamu, minuman herbal tradisional Indonesia, kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, jamu ramai dibahas media internasional sebagai tonik alami berbasis rempah.
Minuman berbahan kunyit, jahe, dan asam ini dikenal turun-temurun di Indonesia. Jamu tak hanya diminum untuk kesehatan, tapi juga sarat nilai budaya dan sejarah.
Di tengah tren 'wellness global', jamu semakin dilirik di luar negeri. Kafe modern hingga restoran di Amerika Serikat mulai menghadirkannya dalam beragam bentuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih dari sekadar minuman, jamu menjadi simbol warisan kuliner Nusantara. Lantas, apa sebenarnya jamu dan mengapa minuman ini begitu istimewa?
Situs media Food and Wine (2/2) membahas serba-serbi menarik soal jamu. Berikut fakta menarik tentang jamu:
1. Apa Itu Jamu dan Dari Mana Asalnya?
Jamu adalah minuman herbal tradisional Indonesia yang terbuat dari rempah. Foto: iStock |
Jamu adalah minuman herbal tradisional Indonesia yang terbuat dari rempah dan akar seperti kunyit, jahe, asam, dan serai. Minuman ini telah dikenal lebih dari 1.300 tahun lalu.
Jamu dipercaya berasal dari lingkungan keraton sebagai ramuan untuk kesehatan dan umur panjang. Hingga kini, jamu tetap dikonsumsi sebagai penambah stamina dan penjaga daya tahan tubuh.
"Jamu bukan sekadar minuman, tapi warisan budaya yang merepresentasikan kekayaan alam Indonesia," ujar Ibu Lilik, herbalis generasi ketiga di Bali.
2. Mengapa Jamu Penting bagi Orang Indonesia?
Jamu merupakan obat dari segala penyakit. Foto: iStock |
Bagi banyak keluarga Indonesia, jamu diwariskan turun-temurun dengan resep khas masing-masing. Proses pembuatannya pun sarat nilai tradisi dan kedekatan keluarga.
Jamu kerap dianggap sebagai obat segala penyakit, mirip sup ayam bagi masyarakat Amerika. Minuman ini diminum saat tubuh terasa tidak enak atau butuh pemulihan.
"Sejak kecil ibu selalu memberi jamu kunyit asam atau beras kencur saat saya mau sakit," kata Ochi Latjuba, co-owner restoran Wayan di New York yang juga menawarkan menu jamu di restorannya.
3. Kebangkitan Jamu di Era Modern
Popularitas jamu meningkat pesat saat pandemi Covid-19 karena dianggap menyehatkan. Kafe jamu modern seperti Acaraki dan Suwe Ora Jamu pun bermunculan.
Anak muda dan pengusaha kreatif mengemas jamu dengan tampilan modern tanpa meninggalkan khasiatnya. Bahkan jamu mulai diolah menjadi minuman koktail.
"Saya ingin jamu tetap berkhasiat, tapi rasanya lebih bersahabat," ujar Shanley Alya Suganda, pendiri Djamu asal New York.
4. Jamu Mulai Dikenal di Amerika Serikat
Jamu mulai diekenal masyarakan Amerika. Foto: iStock |
Komunitas jamu di Amerika Serikat memang kecil, tetapi terus berkembang. Produk jamu kini dijual di restoran, juice bar, hingga toko kesehatan.
Djamu dan Jamulogy menjadi contoh merek yang memperkenalkan jamu ke pasar Amerika Serikat. Jamu juga disajikan sebagai minuman dingin hasil cold-pressed.
"Respons konsumen sangat positif karena mereka menyukai manfaat dan rasa autentiknya," kata Suganda.
5. Warisan Jamu untuk Masa Depan
Ilustrasi jamu. Foto: Fima Purwanti/detikJatim |
Diperkirakan ada lebih dari 15 ribu resep jamu di seluruh Indonesia. Setiap daerah memiliki racikan yang disesuaikan dengan alam setempat.
Jamu tak hanya menyehatkan tubuh, tapi juga menghubungkan manusia dengan alam. Nilai spiritual dan keseimbangan menjadi bagian penting di dalamnya.
"Jamu adalah tonik bagi tubuh dan jiwa," tutur Ibu Lilik. "Setiap tegukan membawa rasa warisan dan budaya Indonesia," tutupnya.
Simak Video "Main ke Malioboro, IShowSpeed Sempat Cicipi Jamu dan Bakpia"
[Gambas:Video 20detik]
(raf/adr)





KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN