ADVERTISEMENT

Segar Gurih Gado-gado

Gado-gado, Berawal dari Makan Racikan Salad Eropa Tanpa Nasi

Andi Annisa Dwi R - detikFood
Selasa, 28 Jun 2022 18:30 WIB
Gado-gado, Berawal dari Makan Racikan Salad Eropa Tanpa Nasi
Foto: Getty Images/iStockphoto/Kadek Bonit Permadi
Jakarta -

Jadi salah satu ikon kuliner Indonesia, gado-gado punya sejarah panjang dan menarik. Hidangan ini merupakan wujud akulturasi budaya Eropa pada sekitar abad 18-19.

Gado-gado kini mudah ditemui di banyak daerah Indonesia, terutama Jakarta. Racikan salad tradisional Indonesia ini terdiri dari aneka sayuran rebus yang diaduk bersama bumbu kacang.

Membicarakan sejarahnya, gado-gado ternyata punya cerita menarik. Asal kata 'gado' rupanya berkaitan dengan cara menikmati dan mengolah gado-gado.

Dihubungi detikfood (27/6), chef Wira Hardiyansyah yang juga merupakan sejarawan kuliner mengungkap detil sejarah gado-gado. Diracik dari pecel yang merupakan 'induk' gado-gado.

"Pecel itu sudah ada dari kitab Ramayana. Pecel itu di Jawa identik dengan kita makan pecel selalu pakai nasi. Makanya ada istilah sego pecel," katanya membuka cerita. Kehadiran sego pecel jauh lebih dulu sebelum Belanda tiba di Indonesia.

"Nah ketika orang-orang Portugis dan Eropa datang, itu seperti memperkenalkan tradisi makan salad. Sedikit aneh orang Indonesia pada saat itu melihat orang-orang Eropa makan sayuran tanpa nasi, karena mereka identiknya dengan makan kentang," kata Wira.

Gado-gado, Berawal dari Makan Racikan Salad Eropa Tanpa NasiGado-gado punya sejarah panjang, berawal dari diperkenalkannya salad sayur ala Eropa ke Indonesia. Foto: Getty Images/iStockphoto/Kadek Bonit Permadi

Kemudian muncul peran orang priyayi yang menjembatani orang-orang pribumi yang dipekerjakan dengan kaum Eropa. Mereka menjadi pelopor akulturasi budaya Indonesia dengan Eropa, jelas Wira.

"Orang-orang pribumi yang dipekerjakan itu meniru tradisinya. Tradisi makan saladnya. Karena kita identiknya makan urap pakai nasi, makan pecel pakai nasi... Nah orang Eropa punya budaya baru, ditirulah budaya tersebut," kata Wira yang menyebut hal ini terjadi sekitar abad 18-19 dimana akulturasi Eropa, terutama Belanda, sedang gencar-gencarnya.

Adapun penamaan gado-gado juga unik. Hal ini terkait dengan istilah 'digado' dalam bahasa Jawa yang merujuk pada praktik makan tanpa menggunakan nasi. "Seperti ada istilah ketika kamu makan, nasinya sudah habis, ayamnya masih sisa, maka ayamnya 'digado'," kata Wira.

Ia melanjutkan, "Jadi ketika orang Eropa makan salad tanpa nasi, itulah persepsi orang-orang priyayi bahwa si sayur itu 'digado' karena mereka memakannya tanpa nasi. Jadi sekarang kita mengenal istilahnya itu dengan gado-gado."

Istilah gado ternyata punya arti dalam bahasa Portugis. Baca artikel di halaman selanjutnya.



Simak Video "Gado-gado Portal Bu Mar yang Legendaris dan Langganan Para Artis"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT