ADVERTISEMENT

Tips Bisnis Kuliner dari Ibnu Jamil yang Tak Gengsi Jualan Nasi Goreng

Andi Annisa Dwi R - detikFood
Minggu, 12 Jun 2022 11:00 WIB
Jamilos: Sikat Jon! Nasi Goreng Gerobakan ala Ibnu Jamil yang Mlekoh Bumbunya
Foto: detikfood
Jakarta -

Ibnu Jamil pernah melakoni beberapa bisnis kuliner sebelum akhirnya membuka nasi goreng Jamilo's miliknya sendiri. Begini tips sukses bisnis kuliner dari suami Ririn Ekawati itu.

Tiga bulan lalu, Ibnu Jamil membuka usaha nasi goreng gerobakan di kawasan Bangka, Jakarta Selatan. Diberi nama Jamilo's, bisnis kuliner ini bukanlah yang pertama dirintis oleh Ibnu Jamil.

Kepada detikfood (6/6), pria ramah ini mengatakan sudah pernah alami jatuh bangun dalam bisnis serupa. "Dulu pernah jual mie ayam, viral sehari bisa jual ratusan porsi, tapi berhubung ada kendala jadi saya nggak bisa expand (perluas) mie ayam saya," katanya. Ia juga sempat bisnis batagor bersama rekannya, tapi juga berujung selesai.

Kegagalan ini tak membuat Ibnu Jamil patah semangat. Ia juga tak gengsi untuk memulai kembali bisnis kulinernya sendiri. Kali ini berupa nasi goreng gerobakan bernama Jamilo's yang konsepnya ia matangkan bersama sang istri.

Nasi goreng dijual mulai dari Rp 18 ribuan. Ibnu Jamil menawarkan pilihan nasi goreng biasa, usus, ayam, daging, ikan asin, hingga pete.

Tak ada kata gengsi dalam hidup Ibnu Jamil

Jamilo's: Sikat Jon! Nasi Goreng Gerobakan ala Ibnu Jamil yang Mlekoh BumbunyaIbnu Jamil saat menyiapkan nasi goreng pesanan pelanggan di Jamilo's, Bangka (6/6/2022). Foto: detikfood

Meski sosoknya dikenal sebagai artis tanah air, Ibnu Jamil tak gengsi berjualan makanan di gerobak dengan harga murah meriah. Baginya yang terpenting, bisnisnya bisa berjalan lancar.

"Saya juga nggak pernah ada kata gengsi ya. Mungkin ada orang yang "Kok artis jualannya nasi goreng gerobakan?", kalau saya nggak pentingin itu. Yang penting bisnis saya berjalan dengan lancar dan menu yang kita tawarkan bisa dinikmati sama banyak orang. Kita punya manajemen yang bagus dan sehat, dan hasil akhirnya CUAN yaitu untung yang bukan hanya mensejahterakan pemilik, tapi juga buat karyawan-karyawan yang terlibat," katanya yakin.

Menurutnya kalau mau memulai bisnis kuliner, seseorang tidak perlu malu atau ragu. Dua hal ini hanya akan menghambat berkembangnya bisnis kuliner ke depan.

Ibnu Jamil mengatakan, "Terus kalau ada yang cobain dan bandingin (makanan yang kita jual dengan bilang) 'masih enak di sini', itu pasti selalu ada. Selalu dibandingin. Saya juga gitu. Mungkin yang lebih enak dari nasi goreng saya itu banyak, tapi yang bedanya apa? Silakan saja coba sendiri. Saya menawarkan sesuatu yang beda dan dijamin dengan keluar uang Rp 18 ribu yang penting kenyang dan puas dengan rasanya."

Manfaatkan media sosial dan coba sistem pre order

Jamilo's: Sikat Jon! Nasi Goreng Gerobakan ala Ibnu Jamil yang Mlekoh BumbunyaRoti goreng yang dijual di Jamilo's awalnya dijajakan secara pre order. Foto: detikfood

Ibnu Jamil juga mengatakan, saat ingin bisnis kuliner tak perlu takut atau khawatir. Yakinlah bahwa semua rezeki sudah diatur Tuhan.

"Karena setiap lahan dan orang itu, atau rumah makan, pasti beda-beda (pengunjungnya). Tenang saja karena rezeki nggak akan pernah direbut orang, nggak akan pernah hilang. Di sini banyak banget penjual nasi goreng, tapi setiap tempat pasti ada pembelinya. Tergantung kitanya saja, gimana mau jual, gimana mau usaha," katanya.

Salah satu usaha yang ia maksud adalah mengoptimalkan fungsi media sosial. Ia tak memungkiri memanfaatkan media sosial miliknya untuk memperkenalkan nasi goreng Jamilo's.

"Peran media sosial sangat besar. Banyak yang merasakan dampaknya, nggak cuma saya. Dari unggahan orang-orang di media sosial jadi tahu nasi goreng saya. Banyak juga orang-orang yang makan, dia sudah bayar, dia foto, cobain, dan masukkin ke media sosial saya. Saya lebih berharga dengan yang kayak gitu karena honest review dari pelanggan," katanya.

Bagi pebisnis kuliner baru yang tak punya modal tempat atau dana lebih, Ibnu Jamil menyarankan terapkan sistem pre order (PO). Dengan sistem ini berarti pembeli memberi uang dulu sebelum mendapat pesanannya.

"Ada yang namanya sistem pre order. Pertama kali saya jual roti goreng saya PO, jadi udah pasti ada. Kalau ada yang bilang, 'Nyewa toko mahal banget apalagi di kawasan strategis', tapi kalau memang masakan kita punya ciri khas dan enak, sampai di ujung jalan pun orang cari. Saya juga awalnya nggak percaya diri, jualan di Bangka, tapi saya merasa nasi goreng saya layak jual dan berbeda dengan nasi goreng lainnya," kata Ibnu Jamil.

Tips bisnis kuliner dari Ibnu Jamil masih ada di halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT