Ahli Fisika Ini Bikin Daging dari Udara, Diprediksi Jadi Makanan Masa Depan

Devi Setya - detikFood
Selasa, 01 Mar 2022 13:00 WIB
Daging dari Udara
Foto: Instagram @airprotein
Jakarta -

Perkembangan teknologi semakin hari semakin canggih. Kini bahkan ada daging yang dibuat dari udara dan diprediksi jadi makanan di masa depan.

Teknologi makanan saat ini sudah berhasil menciptakan daging dengan bahan nabati. Tekstur dan rasanya dianggap sangat mirip. Daging nabati ini diklaim menjadi solusi untuk mengurangi konsumsi daging biasa.

Alternatif daging nabati seperti 'Impossible Foods' atau 'Beyond Meat' sangat populer akhir-akhir ini dan disebut-sebut sebagai masa depan industri daging yang berkelanjutan. Kini tengah dilakukan penelitian untuk membuat daging dengan bahan udara.

Daging dari UdaraDaging dari Udara Foto: Instagram @airprotein

Dilansir dari Oddity Central (23/2) daging berbahan udara ini sekilas memang terkesan tidak masuk akal. Namun teknologi makanan ini sedang dikembangkan oleh seorang ahli fisika dan produk daging berbahan udara ini rencananya akan diberi nama Air Protein.

Air Protein adalah startup di balik proyek daging berbasis udara. Perusahaan ini didirikan oleh Dr. Lisa Dyson, seorang ahli fisika yang ingin menghasilkan produk daging alternatif.

Para peneliti pada dasarnya mengandalkan sekelompok mikroba khusus yang mampu mengubah CO2 menjadi asam amino. Produk akhir dari proses ini adalah tepung berbasis protein yang dapat digunakan untuk membuat produk daging.

"Ini fermentasi yang dibayangkan kembali," kata CEO Air Protein, Lisa Dyson. Lebih lanjut Dyson menjelaskan proses fermentasi ini menghasilkan gas CO2 yang mampu menghasilkan tepung bergizi dan bebas karbon.

Air Protein adalah satu-satunya startup yang saat ini terlibat dalam pembuatan sumber protein dari udara. Teknologi ini terinspirasi oleh penelitian yang dilakukan NASA pada tahun 1960-an. Para peneliti mencoba menemukan cara agar astronot dapat menumbuhkan makanan mereka sendiri dalam perjalanan luar angkasa.

Kemudian para peneliti menemukan mikroba yang disebut hidrogentrof, yang dalam keadaan yang tepat dapat memakan CO2 dan menghasilkan asam amino.

"Dr John Reed dan saya sendiri sedang melihat bagaimana kita dapat memiliki dampak positif pada masalah perubahan iklim," kata Dyson kepada New Food Magazine. "Kami memikirkan untuk memecahkan masalah yang sama yakni minim ruang dan minim waktu untuk membuat makanan. Air Protein ini adalah sesuatu yang dibutuhkan dunia saat ini. Kami mampu memanfaatkan pemikiran para ilmuwan NASA dalam konteks yang sama sekali berbeda."

Hanya dengan mengandalkan mikroba pemakan CO2, Dyson mengklaim bahwa Air Protein bisa menjadi alternatif daging yang murah dan berkelanjutan.

"Input utama produk ini adalah elemen udara yang kita hirup, sehingga jumlahnya melimpah dan ada di sekitar kita," kata CEO Air Protein. Dengan demikian industri daging udara ini bisa lebih efisien dibandingkan daging asli ataupun daging buatan lainnya.

"Jika Anda ingin membandingkan proses produksi kami dengan salah satu produksi kedelai, dibutuhkan pertanian kedelai seukuran Texas, negara bagian yang sangat luas di AS, untuk membuat jumlah protein yang sama dengan peternakan protein udara hanya seukuran Walt Disney World," tambah Dyson.

Keuntungan utama lain yang dimiliki produk protein berbasis udara ini adalah waktu produksi. Untuk menghasilkan daging asli, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk merawat sapi. Sementara saat membuat daging nabati dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menunggu masa panen kedelai.

Lain halnya dengan daging berbasis udara yang diklaim bisa diproduksi hanya dalam hitungan hari. Air Protein diharapkan bisa menjadi solusi makanan di masa depan sebagai salah satu sumber protein.

Target pertamanya adalah orang-orang yang sadar pada lingkungan. Kemudian pihak perusahaan juga berharap rasa dari daging berbahan udara ini bisa diterima dengan cepat dan baik oleh masyarakat.



Simak Video "Resep Oseng Mercon Daging Sapi yang Menggugah Selera"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/odi)