Bukan Hanya Islam, Makanan Haram juga Ada dalam Agama Yahudi

Diah Afrilian - detikFood Selasa, 18 Jan 2022 19:00 WIB
Jewish father and son reading Hebrew bible before family dinner during Hanukkah. Foto: Getty Images/iStockphoto/Drazen Zigic
Jakarta -

Tidak hanya dalam agama Islam, aturan makanan halal dan haram ternyata juga ada untuk penganut Yahudi. Dikenal dengan istilah kosher dan kashruth, ini makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi.

Selain tata cara ibadah, beberapa agama juga mengatur makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh umatnya. Jika di dalam agama Islam, umat Muslim mengenal dengan istilah makanan haram dan halal.

Makanan halal adalah makanan yang diperbolehkan untuk dikonsumsi, sedangkan makanan haram sama sekali tidak boleh dikonsumsi. Ternyata, aturan tentang makanan ini tak hanya ada dalam agama Islam.

Makanan halal dan haram juga diatur dalam kepercayaan Yahudi. Bagi penganut agama Yahudi mereka juga memiliki aturan makan yang cukup ketat karena ada beberapa makanan yang tak boleh dikonsumsi.

Baca juga: 7 Makanan Selain Babi yang Juga Diharamkan Dalam Islam

babiMengenal hukum halal dan haram dengan istilah kosher dan kashruth, penganut Yahudi dilarang makan babi. Daging babi termasuk makanan kashruth atau haram. Foto: Istimewa

Mengutip unggahan akunTikTok @bdguy97 (16/1), warganet ini memperlihatkan isi percakapan dengan temannya yang merupakan seorang penganut Yahudi. Dalam unggahan tersebut, dirinya terlihat sedang membahas tentang makanan halal untuk penganut agama Yahudi atau disebut sebagai makanan kosher.

Dendy bertanya langsung kepada temannya, Yuval yang merupakan orang Israel dan penganut agama Yahudi. Dendy, selaku pemilik akun, menanyakan dengan lengkap makanan-makanan apa saja yang tidak boleh dimakan oleh penganut Yahudi.

"Yuval, apa benar kamu nggak bisa makan babi?" tanya Dendy.

"Benar, karena itu tidak kosher. Aku juga tidak bisa makan udang dan yang lainnya," jawab Yuval.

Bukan hanya tidak diperbolehkan mengonsumsi suatu jenis makanan, penganut Yahudi juga tidak diperbolehkan meminum susu berbarengan dengan daging. Mereka harus menunggu hingga 6 jam setelah makan daging untuk bisa minum susu.

Baca juga: Kehabisan Nasi, Pria Ini Makan Pecel Lele Pakai Mashed Potato!

KPPU Sidak ke Pemotongan SapiBukan hanya jenis hewannya ternyata penyembelihan juga menjadi pertimbangan penting. Penganut Yahudi harus mengonsumsi hewan yang disembeli dengan aturan hukum Yahudi. Foto: Citra Fitri Mardiana/detikFinance

Jika kosher merupakan makanan yang dihalalkan atau diperbolehkan untuk dikonsumsi, makanan yang diharamkan dikenal dengan istilah kashruth. Makanan kashruth ini dilarang untuk dikonsumsi para penganut Yahudi walaupun hanya dalam jumlah sangat sedikit.

Makanan-makanan yang masuk dalam deretan kashrut atau haram adalah susu yang bersamaan dengan daging, daging babi, hewan bercangkang dan seafood serta hampir semua jenis serangga. Layaknya Muslim, daging dan unggas yang boleh dikonsumsi juga harus melewati tata cara penyembelihan sesuai aturan Yahudi.

"Kami juga nggak boleh makan daging yang proses penyembelihannya tidak dalam hukum kosher. Itulah mengapa banyak orang Yahudi memutuskan untuk tidak memakan daging dan keju saat mereka berada di luar negeri," ungkap Yuval.

Menurut World Kosher Certification, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar suatu makanan bersertifikasi kosher atau halal versi Yahudi. Mulai dari bahan utama, bahan-bahan tambahan dalam makanan, hingga proses penyembelihan dan pengolahan yang wajib disesuaikan dengan hukum aturan Yahudi.

Biasanya makanan-makanan kosher ini akan diberikan stempel atau cap berwarna hijau yang bertuliskan 'kosher' layaknya makanan berlogo halal bagi Muslim. Stempel dan cap tersebut menjadi panduan utama bagi penganut Yahudi untuk memilih makanan yang boleh dikonsumsi atau tidak.

Baca juga: Mau Diet Keto? Perhatikan Dulu 6 Tips Ini Agar Diet Sukses



Simak Video "Restoran China Utara Autentik yang Sajikan Masakan Halal di Bintaro"
[Gambas:Video 20detik]
(dfl/adr)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com