5 Fakta Jagung Pelangi, Tak Hanya Cantik Tapi Juga Kaya Nutrisi

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Jumat, 12 Nov 2021 10:30 WIB
5 Fakta Jagung Pelangi, Tak Hanya Cantik Tapi Juga Kaya Nutrisi Foto: Getty Images/iStockphoto/glaflamme
Jakarta -

Terlihat cantik seperti pelangi dan permata mengkilap, jagung ini aman dikonsumsi. Jagung pelangi juga memiliki banyak nutrisi dan fakta menarik di baliknya.

Jagung yang kita kenal umumnya adalah jagung manis yang pipilannya berwarna kuning muda. Lalu ada juga jagung putih yang merupakan sumber karbohidrat, vitamin, serta mineral yang baik.

Namun pernahkah kamu melihat jagung pelangi? Sesuai namanya, pipilan jagung ini penuh warna berbeda sehingga sering disebut jagung pelangi.

Di Amerika Serikat, jagung ini punya sebutan lain yaitu 'glass gem corn'. Nama ini merujuk pada bentuk pipilannya yang mengkilap dan agak bening seperti permata dan kaca.

Kemunculan jagung pelangi begitu menyita perhatian. Bermula pada tahun 2012 ketika foto-foto jagung pelangi viral di media sosial seperti Instagram dan Facebook.

Awalnya banyak orang tak menyangka kalau warna-warni cantik pada jagung pelangi adalah warna asli. Jagung ini tidak melalui proses pewarnaan sama sekali.

Sebenarnya apa itu jagung pelangi? Bagaimana nutrisinya dibandingkan dengan jagung manis biasa? Berikut detikfood merangkum serba-serbi soal jagung pelangi:

1. Bagaimana jagung pelangi tercipta?

Mengutip Mashed (10/11), jagung pelangi dikenal juga dengan sebutan jagung 'Indian' atau 'calico'. Tanaman aslinya berasal dari Amerika Utara. Menurut Gastro Obscura, jagung pelangi ditemukan oleh Carl Barnes, seorang petani di Oklahoma, Amerika Serikat.

Untuk menciptakan pipilan jagung aneka warna dalam satu bonggol, Barnes mengumpulkan benih-benih jagung kuno dan mengawinkan beberapa varietas jagung itu. Hingga jadilah satu jenis jagung yang tiap bonggolnya berisi banyak spektrum warna.

Barnes yang wafat tahun 2016 ini mendedikasikan hidupnya sebagai petani. Ia bertekad melestarikan benih jagung kuno asli Amerika supaya tetap ada. Ia lalu melakukan eksperimen penanaman jagung pelangi selama bertahun-tahun, dengan pola dan warna yang berbeda-beda.

Seiring pertambahan usia dan Barnes sadar dirinya harus pensiun sebagai petani, ia mewariskan koleksi benih jagung miliknya kepada anak didiknya yang bernama Greg Schoen. Benih jagung pelangi lalu sampai ke Bill McDorman yang merupakan pemilik perusahaan bibit tanaman. Ia lantas menyebarluaskan benih jagung ini. Jagung pelangi sendiri bisa tumbuh subur di lingkungan yang panas dan kering. Jenis jagung ini bisa dipanen 110-120 hari setelah ditanam.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com