Mitos Micin Disebut Bikin Otak Lemot, Ini Penjelasannya

Devi Setya - detikFood Minggu, 22 Agu 2021 17:30 WIB
Mitos Micin Disebut Bikin Otak Lemot, Ini Penjelasannya Foto: Getty Images/iStockphoto/panida wijitpanya
Jakarta -

Monosodium glutamat (MSG) atau vetsin atau micin sering disebut jika dikonsumsi berlebihan bisa jadi penyebab otak lemot dan bodoh. Benarkah demikian?

Penambahan micin atau vetsin pada makanan sudah lama digunakan, namun hingga kini masih saja menuai kontroversi. Micin disebut sebagai penyebab otak lemot dan berbagai masalah kesehatan lainnya, termasuk pemicu kanker.

Padahal serangkaian penelitian menyebutkan kalau micin aman dikonsumsi asalkan sesuai takaran yang dianjurkan. Pro dan kontra soal micin sebagai penyebab otak lemot juga diunggah lewat instagram @najwashihab (21/8). Dalam tayangan ini dijabarkan peran MSG atau micin dalam makanan dan efeknya pada kesehatan.

Mitos Micin Disebut Bikin Otak Lemot, Ini PenjelasannyaMitos Micin Disebut Bikin Otak Lemot, Ini Penjelasannya Foto: Getty Images/iStockphoto/panida wijitpanya

Micin atau MSG ditemukan pertama kali oleh Kikunae Ikeda, profesor kimia Universitas Tokyo pada tahun 1908. Rasa gurih micin diperoleh dari proses pengolahan rumput laut. Seiring perkembangan waktu, micin kemudian dibuat secara masal dengan proses pengolahan canggih di pabrik.

Micin terbuat dari molekul garam natrium yang dikombinasikan dengan air dan asam amino L-glutamat. Kombinasi ketiga molekul ini menghasilkan rasa gurih yang mirip dengan rasa gurih umami rumput laut.

Asam glutamat dalam micin membuat sel-sel saraf otak lebih aktif sehingga menciptakan sensasi gurih nikmat saat makan. Hal inilah yang membuat makanan jadi terasa lebih lezat dan bikin ketagihan.

Asam glutamat sebenarnya bisa diproduksi sendiri secara alami oleh tubuh, dan secara alami terdapat juga pada beberapa makanan segar seperti tomat dan keju. Ini menandakan kalau micin sebenarnya aman dikonsumsi.

FDA sebagai Badan Pengawas Obat Makanan di Amerika Serikat menyatakan MSG aman digunakan sebagai campuran makanan. Keputusan FDA ini juga disepakati oleh World Health Organization (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), serta Kementerian Kesehatan RI.

Dilansir dari Discover Magazine (22/8) micin memiliki reputasi buruk karena sindrom restoran China yang muncul pertama kali di Amerika Serikat. Sebuah surat tentang 'sindrom restoran Cina' yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine pada tahun 1968, memicu kekhawatiran tentang konsumsi MSG.

Sindrom ini pertama kali dikemukakan oleh Robert Ho Man Kwok. Ia melaporkan merasa mati rasa di bagian belakang lehernya dan berbagai kelemahan umum setelah makan di restoran China di Amerika Serikat. Dalam hal ini ia menyebut kemungkinan penyebabnya adalah MSG yang ditambahkan dalam makanan.

Dia juga menulis bahwa kemungkinan penyebabnya adalah MSG yang ditambahkan ke makanan. Semenjak itu, muncul berbagai gejala yang diduga terkait dengan tambahan MSG dalam makanan. Termasuk di dalamnya sakit kepala, berkeringat, mual dan nyeri dada.

Padahal di tahun-tahun itu MSG sedang populer di AS. Saking populernya, pada tahun 1969 Amerika Serikat memproduksi 58 juta pon MSG per tahun dan memasukkannya ke dalam berbagai makanan.

mono sodium glutamate (MSG) or seasoning ,gourmet powder on wooden tablemono sodium glutamate (MSG) or seasoning ,gourmet powder on wooden table Foto: Getty Images/iStockphoto/Doucefleur

Akibat isu sindrom restoran China, otoritas kesehatan New York meminta produsen makanan China untuk membatasi kadar MSG dengan sangat rendah.

Hal tersebut diperparah dengan temuan Dr John Olney dari Universitas Washington yang menyuntikkan MSG pada tikus. Pada tahun 1969, John Olney menyuntikkan dan memberi makan tikus yang baru lahir dengan micin dalam dosis besar hingga empat gram/kg berat badan.

Dia melaporkan bahwa tikus ini menderita lesu otak dan mengklaim bahwa MSG dalam satu mangkuk sup kalengan akan berdampak sama pada otak anak berusia dua tahun.

Prof. Ahmad Sulaeman, Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB mengatakan tikus diinject dengan MSG dalam dosis banyak yang kalau dikonversi ke manusia mungkin bisa jadi berapa ratus gram. "Manusia tidak mungkin makan sebanyak itu. Karena MSG diregulasi sebagai penambah rasa dan bersifat self limiting. Tidak ada aturan penggunaan jadi silakan gunakan secukupnya,"

Padahal bayi sekalipun membutuhkan asupan glutamat untuk proses tumbuh kembangnya. Sebuah studi oleh Berthold Koletzko yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Nutrition and Metabolism 3 Desember 2018 menjelaskan bahwa kadar glutamat bebas dalam ASI 6 kali lebih tinggi dari susu formula lainnya.

Pada bayi baru lahir, glutamat dan glutamin merupakan faktor pertumbuhan sel epitel usus. Glutamat dan glutamin meningkatkan fungsi penghalang usus dan mempengaruhi perkembangan sel-sel imunitas. Dari segi anthropometri, glutamat dan glutamin ternyata juga membantu peningkatan tinggi dan berat bayi.

Jadi kesimpulannya, MSG alias micin alias vetsin aman digunakan sebagai bahan campuran makanan asalkan dikonsumsi dengan porsi sewajarnya atau takaran yang dianjurkan.



Simak Video "Selamat Hari MSG Sedunia!"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com