Ini Pandangan Islam Soal Orang yang Perutnya Buncit

Devi Setya - detikFood Sabtu, 10 Jul 2021 08:00 WIB
Low angle view of beautiful young woman in gray undershirt feeling pain, standing in the bathroom Foto: iStock
Jakarta -

Orang dengan perut buncit ternyata juga dibahas dalam ajaran Islam. Perut yang buncit karena terlalu banyak makan, dikaitkan dengan kesulitan beribadah.

Memiliki badan ideal memang dambaan semua orang namun ada kalanya nafsu makan sulit dikontrol. Hasilnya, tubuh menjadi gemuk dan lemak menumpuk di perut dan perut jadi buncit.


Islam tidak melihat fisik dan bentuk tubuh seseorang. Muslim yang tinggi, pendek, cantik atau tampan, semua sama di mata Allah SWT. Karena yang Allah SWT lihat adalah soal ketaqwaannya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian." (HR. Muslim no. 2564)

Dalam satu hadist, Rasulullah pernah mengatakan generasi terbaik adalah generasi pada zamannya.

"Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian masa setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiaannya, bernazar tapi tidak melaksanakannya, dan nampak pada mereka kegemukan". (HR. Bukhari 2651 dan Muslim 6638)

Perut buncitIni Pandangan Islam Soal Orang yang Perutnya Buncit Foto : iStock

Menurut keterangan al-Qurtubi (wafat 671 H), Hadits ini ditujukan sebagai sindiran bagi orang gemuk. Fisik yang gemuk bisa terjadi karena banyak faktor, salah satunya yakni karena banyak mengasup makanan dan menjalani pola hidup yang tidak baik.

Gemuk yang bukan bawaan penyebabnya banyak makan, minum, santai, foya-foya, selalu tenang, dan terlalu mengikuti hawa nafsu. Ia adalah hamba bagi dirinya sendiri dan bukan hamda bagi Tuhannya, orang yang hidupnya seperti ini pasti akan terjerumus kepada yang haram.

Al-Qurthubi juga menegaskan, orang yang terlalu banyak makan adalah kebiasaan orang kafir. Allah mencela orang kafir karema banyak makan. Barangsiapa yang banyak makan dan minum, maka ia akan semakin rakus dan tamak, bertambah malas dan banyak tidur di malam hari. Siang harinya dipakai untuk makan dan minum, sedangkan malamnya hanya untuk tidur. (Tafsir al-Qurthubi, 11/67,)


Dalam suatu kisah, sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab pernah bertemu seseorang di jalan, dan bertanya kepadanya; "Kenapa perutmu besar seperti ini (buncit)?", tanya Umar bin Khattab. "Ini karunia dari Allah," jawab orang tersebut. "Ini bukan berkah, tapi azab dari Allah!", seru Umar.

Lebih lanjut, Umar berkata: "Hai sekalian manusia. Hindari perut yang besar. Karena membuat kalian malas menunaikan shalat, merusak organ tubuh, menimbulkan banyak penyakit. Makanlah kalian secukupnya. Agar kalian semangat menunaikan shalat, terhindar dari sifat boros, dan lebih giat beribadah kepada Allah."

Badan yang terlalu gemuk dan perut buncit dikaitkan dengan proses ibadah. Jika memiliki badan yang terlalu gemuk maka akan sulit menjalani gerakan sholat. Orang yang gemuk juga cepat merasa lelah sehingga sulit melakukan berbagai aktivitas.

Tak hanya itu, orang yang terlalu gemuk juga berpotensi lebih mudah terserang penyakit. Oleh karena itu Islam mengajarkan untuk tidak berlebihan dalam segala hal.

Rasulullah pernah bersabda, "Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas".



Simak Video "Cita Rasa Bubur Cilamaya Khas Karawang yang Legendaris"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com