Sejarah Sambal di Indonesia, Sambal Favorit KH Dewantara hingga Soekarno

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Rabu, 17 Mar 2021 14:30 WIB
5 Resep Sambal Tradisional untuk Pelengkap BBQ Tahun Baru Foto: iStock
Jakarta -

Sambal seolah tak terpisah dari menu makanan orang Indonesia. Tapi tahukah kamu bagaimana sejarah sambal di Indonesia? Siapa yang memperkenalkan sambal pertama kali?

Banyak orang Indonesia merasa makan makanan tradisional kurang nikmat jika tanpa sambal. Rasa pedas sambal justru membuat mereka semakin bersemangat makan.

Apalagi varian sambal Nusantara sangat banyak. Tiap jenis sambal seolah punya 'jodoh' hidangannya masing-masing. Ada sambal terasi, sambal dadak, sambal matah, sampai sambal dabu-dabu yang menyegarkan.

Tapi sebenarnya bagaimana sejarah sambal di Indonesia? Dosen Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Fadly Rahman, M.A., memberi penjelasannya seperti dikutip detikfood atas seizinnya (17/3) dari situs Universitas Padjajaran.

Fadly menyebut fungsi sambal sebagai penggugah selera makan sudah ada jauh sebelum cabai (Capsicum) dari benua Amerika diperkenalkan orang-orang Portugis ke Indonesia, sekitar abad ke-16.

Jejak sambal di Nusantara

Cara bikin stok sambal terasiSejarah Sambal di Indonesia, Sambal Favorit KH Dewantara hingga Soekarno Foto: detikfood

"Sebelum cabai masuk ke Nusantara, nenek moyang orang Jawa menggunakan cabya jawa (Piper retrofractum), lada (Piper nigrum), dan jahe (Zingiber officinale) sebagai bahan membuat sambal. Lain hal dengan di Sumatra Utara yang memiliki andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC), tanaman khas yang sejak dulu hingga kini digunakan sebagai pecitarasa pedas," kata Fadly.

Ia mengatakan budidaya cabai dari benua Amerika di Indonesia bisa berkembang karena masyarakat Nusantara memang menyukai rasa pedas. Mereka tergila-gila akan kelezatan sambal.

Buktinya pada tahun 1621, petualang Prancis bernama Augustin de Beaulieu dijamu makan di Istana Aceh. Ia disuguhi berbagai hidangan.

"Satu sajian yang tidak ia sentuh adalah sambal. Bagi orang Eropa seperti Beaulieu, sensasi pedas sambal terkesan begitu mengkhawatirkan bagi pencernaannya. Kesan itu tetap bertahan pada abad-abad kemudian," tulis Fadly.

Simak video 'Bikin Laper: Lembutnya Iga Sapi Sambel Tempong di Jakarta Selatan':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com