Konsumsi Telur Disebut Bisa Tingkatkan Risiko Kematian, Begini Penjelasannya

Diah Afrilian - detikFood Jumat, 12 Feb 2021 05:00 WIB
Konsumsi Telur Disebut Bisa Tingkatkan Risiko Kematian, Begini Penjelasannya Foto: Getty Images/iStockphoto/Nungning20
Jakarta -

Konsumsi setengah butir telur disebut bisa meningkatkan risiko kematian seseorang hingga 7%. Begini penjelasan para peneliti.

Telur merupakan salah satu sumber protein yang murah dan mudah didapat. Telur juga menjadi bahan makanan yang bisa dikonsumsi oleh berbagai kalangan.

Telur yang beredar di pasaran banyak jenisnya. Misalnya telur ayam, bebek dan ayam kampung. Umumnya, telur ayam menjadi yang paling banyak dikonsumsi.

Sayangnya, baru-baru ini sebuah penelitian mengungkapkan bahayanya konsumsi telur. Telur disebut-sebut bisa meningkatkan risiko kematian. Benarkah begitu? Berikut penjelasan para peneliti.

Dilansir dari Daily Mail UK (9/2), para peneliti menemukan bahwa konsumsi setengah butir telur, termasuk kuning dan putih telur, dapat meningkatkan risiko kematian sebesar 7%. Bahkan, risiko kematian ini akan meningkat 2 kali lipat jika seseorang mengonsumsi 1 butir telur utuh.

Konsumsi Telur Disebut Bisa Tingkatkan Risiko Kematian, Begini PenjelasannyaKonsumsi Telur Disebut Bisa Tingkatkan Risiko Kematian, Begini Penjelasannya Foto: Getty Images/iStockphoto/Nungning20

Baca Juga: Apakah Makan Telur Setiap Hari Aman untuk Kesehatan?

Baik diolah dengan cara direbus, digoreng maupun cara lainnya, telur tetap diklaim dapat meningkatkan risiko kematian. Peneliti asal Tiongkok yang memimpin penelitian ini mempercayai bahwa penyebabnya berasal dari kadar lemak dan kolesterol yang tinggi dalam telur.

Para peneliti menganjurkan untuk mengonsumsi putih telur saja atau beralih ke sumber protein lainnya yang lebih sehat dan tidak memicu peningkatan risiko kematian. Misalnya dengan konsumsi kacang-kacangan yang dapat mengurangi risiko kematian hingga sepertiganya.

Para peneliti melakukan penelitian ini dengan mengambil data melalui kuesioner kepada lebih dari 500 ribu orang Amerika. Kuesioner diambil pada tahun 1995-1996 dan diobservasi selama 16 tahun.

Data dari hasil penelitian yang diterbitkan dalam PLOS ONE ini menunjukkan bahwa 129.328 partisipan yang mengisi kuesioner telah meninggal. Hal ini dikaitkan dengan asupan telur dan kolesterol yang dikonsumsi.

Konsumsi Telur Disebut Bisa Tingkatkan Risiko Kematian, Begini PenjelasannyaKonsumsi Telur Disebut Bisa Tingkatkan Risiko Kematian, Begini Penjelasannya Foto: Getty Images/iStockphoto/Nungning20

"Dalam penelitian ini, asupan telur dan kolesterol dikaitkan dengan penyebab penyakit kardiovaskular dan kanker yang lebih tinggi dibanding yang lainnya," kata Profesor Yu Zhang.

Peningkatan kematian yang terjadi pada partisipan ini dikaitkan dengan pengaruh telur dan asupan kolesterol. Sebenarnya, hubungan antara kolesterol dan telur ini sudah diperdebatkan selama bertahun-tahun.

Telur banyak ditambahkan pada pedoman pola makan nasional di beberapa negara. Nyatanya, telur dan secara khusus kuning telur justru mengandung kolesterol yang cukup tinggi dan berbahaya.

Setelah diteliti lebih dalam, para partisipan diketahui mengonsumsi telur dan tambahan 300 miligram kolesterol per hari. Pola makan yang seperti ini dikatakan dapat meningkatkan 19% risiko kematian dalam 16 tahun ke depan.

Secara khusus, risiko kematian ini disebabkan oleh kanker dan penyakit kardiovaskular yang masing-masing naik sebesar 24% dan 16%. Sedangkan, pada putih telur ayam tidak ditemukan kolesterol seperti di kuning telur yang mengandung 186 miligram kolesterol.

"Temuan kami menyarankan untuk membatasi asupan kolesterol dan mengganti telur utuh dengan putih telur atau sumber protein alternatif lainnya untuk kesehatan kardiovaskular dan kelangsungan hidup jangka panjang," kata para peneliti.

Cooking Eggs Sunny-side-up in a non-stick pan on a gas stove. Frying a batch of eggs for breakfast in a non-stick pan with a gas stove.Cooking Eggs Sunny-side-up in a non-stick pan on a gas stove. Frying a batch of eggs for breakfast in a non-stick pan with a gas stove. Foto: iStock

Telur sebenarnya bisa menjadi salah satu pilihan sumber protein kaya vitamin dan mineral yang bisa ditambahkan dalam pola makan sehari-hari. Tetapi ketika kamu menggoreng telur, itu akan menambahkan kadar lemaknya sekitar 50%.

Hanya saja penelitian ini mendapat kritik dari Dr Ada Garcia, dosen senior Public Health Nutrition di University of Glasgow yang tidak terlibat dalam penelitian.

Menurutnya metodologi dan kesimpulan penelitian bisa jadi kurang tepat. Dr Garcia mengatakan ada banyak faktor lain yang jauh lebih penting untuk dipertimbangkan sebagai penyebab kematian partisipan.

"Kelebihan berat badan atau obesitas, merokok atau mengonsumsi terlalu banyak alkohol, dan tidak aktif secara fisik adalah faktor yang jauh lebih penting untuk dipertimbangkan untuk pencegahan penyakit kronis dan kematian terkait," ujarnya.

Ia juga menyebut kesimpulan dari penelitian ini berlebihan. "Menyalahkan telur saja untuk peningkatan risiko penyakit kardiovaskular adalah pendekatan yang simplistik dan reduksionis terhadap konsep diet dan pencegahan penyakit," pungkasnya.

Baca Juga: Makan Telur Mentah, Sehat atau Justru Berbahaya?



Simak Video "Masak Masak: Tips Bikin Telur Barendo "
[Gambas:Video 20detik]
(sob/adr)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com