Pisang Pernah Jadi Pemicu Konflik hingga Simbol Rasisme

Diah Afrilian - detikFood Rabu, 20 Jan 2021 09:00 WIB
Pisang Pernah Jadi Pemicu Konflik hingga Simbol Rasisme Foto: Getty Images/iStockphoto/pressdigital
Jakarta -

Di balik rasanya yang manis, pisang punya sejarah kelam yang mengerikan. Konflik hingga penjajahan di sebuah negara pernah terjadi gegara pisang.

Pisang merupakan buah kedua yang paling banyak dipanen di seluruh dunia setelah tomat. Menurut survei pada tahun 2019, dikatakan bahwa sekitar 114,7 juta ton pisang dihasilkan setiap tahunnya di dunia.

Rasanya yang manis serta banyaknya jenis pisang membuat buah yang satu ini mudah diolah menjadi berbagai hidangan. Tetapi, ternyata ada cerita kelam di balik manis dan nikmatnya pisang.

Pada tahun 2004, seorang algojo bernama Mullick mendapatkan pujian karena dirinya menggunakan pisang saat mengeksekusi pelaku kriminal.

Mullick mengatakan kepada wartawan bahwa ia 'dibantu' pisang tumbuk untuk melumasi jerat yang digunakan untuk mengeksekusi terdakwa kriminal. Hal ini rupanya menjadi bumerang. Pasalnya anak-anak mungkin memperhatikan pernyataan Mullick dan menerapkan cara menjerat itu pada teman-teman bahkan keluarganya.

Hal mencengangkan lain mengenai pisang adalah buah ini pernah dipakai sebagai senjata penaklukan pada awal abad ke-20. Pisang dijadikan senjata mematikan oleh Amerika Serikat saat melawan Amerika Latin.

Mulai dari buah yang memicu konflik hingga penjajahan sebuah negara, berikut beberapa sejarah kelam yang terkait pisang. Informasinya dikutip dari Mashed (16/1) seperti berikut:

Buah Pemicu Konflik

Pisang Pernah Jadi Pemicu Konflik hingga Simbol RasismePisang Pernah Jadi Pemicu Konflik hingga Simbol Rasisme Foto: Getty Images/iStockphoto/pressdigital

Pada 327 SM, penguasa Makedonia yaitu raja Alexander mengakui dirinya sebagai raja dari pasukan India. Saat melakukan pembantaian di India, menurut perkiraan University of Illinois Urbana Champaign, ia mulai tertarik dengan pisang.

Raja Alexander ternyata menyukai rasa manis pisang dan seringkali menikmatinya sebagai hidangan penutup. Kemudian ia berpikir untuk membawa pisang ke negara-negara Barat.

Alexander mulai bermigrasi ke Timur Tengah untuk sebuah pisang. Karena bentuknya yang saat baru tumbuh hanya sebesar jari manusia, di Timur Tengah buah ini disebut "banan" atau yang berarti jari.

Baca Juga: Kisah Awal Mula Manusia Makan Daging hingga Sereal

Sekitar abad 1 SM, kapal Arab dan India bersama-sama membawa pisang dan rempah-rempah untuk mulai menginvasi pantai Afrika Timur. Mereka menukar pisang dengan budak, gading gajah, serta emas di Afrika Timur.

Invasi ini mengubah Afrika Timur menjadi pusat perbudakan yang tidak manusiawi hingga berujung konflik. Kebebasan penduduk Afrika Timur mulai dibatasi bahkan wilayahnya dirusak untuk diambil sumber dayanya. Secara ilmiah bahkan terbukti 3 dari 4 budak meninggal karena kelaparan, kelelahan atau penyakit yang diderita selama menjadi budak.

Makanan Para Budak dan Simbol Rasisme

Pisang Pernah Jadi Pemicu Konflik hingga Simbol RasismePisang Pernah Jadi Pemicu Konflik hingga Simbol Rasisme Foto: Getty Images/iStockphoto/pressdigital

Pada tahun 1402, pelaut Portugis menemukan pisang di Guinea Afrika Barat untuk pertama kalinya. Buah itu kemudian dibawa ke kepulauan Canary untuk ditanam dan dibudidayakan secara besar-besaran.

Pada tahun 1516, pisang mulai masuk di kepulauan Karibia dibawa oleh seorang biksu asal Portugis, Friar Tomas de Berlanga. Semenjak pisang masuk di Karibia, mulai dari pertengahan tahun 1520 hingga 1860-an sebanyak 12,5 juta orang diperbudak untuk membudidayakan pisang.

Bahkan, menurut University of California, pisang seringkali ditanam untuk menghasilkan keuntungan bagi tanaman maupun sebagai bayaran para budak. Pisang diberikan sebagai makanan dan upah bagi orang-orang yang diperbudak dan bekerja tanpa henti.

Pada awal 1900-an, pisang juga menjadi simbol rasisme untuk orang kulit hitam. Hal ini terlihat pada tahun 1915 dimana seorang legislator asal California Selatan yang berkulit hitam digambarkan sebagai simian atau kera yang memakan ayam goreng dan pisang.

Bukan hanya itu, selama tahun 1970-an hingga 1980-an, penggemar sepak bola di Eropa bahkan memukuli hingga melemparkan kulit pisang kepada pemain berkulit hitam. Hal ini bahkan masih berlangsung hingga 2014 dimana seorang pelatih sepak bola asal Spanyol melemparkan pisang ke salah seorang pemain bola asal Brasil yang berkulit hitam.

Penjajahan Sebuah Negara

Sebuah perusahaan buah asal Amerika Serikat mendirikan republik pisang pertama. Adalah Samuel Zemurray, seorang politikus Honduras yang terkenal dengan kebijakan dan pengaruhnya yang kejam, menjadi pemilik dari perusahaan buah tersebut.

Perusahaan buah yang bernama Cuyamel ini bahkan menjajah sebuah negara di Amerika Latin untuk dapat menanam pisang secara banyak dengan biaya yang jauh lebih murah. Perusahaan yang dipimpin oleh Zemurray ini bahkan sempat mengkudeta presiden pada tahun 1911.

Perusahaan ini dikenal sebagai perusahaan gurita yang mampu mengunci Guatemala, Kolombia serta Honduras dalam ikatan perusahaan mereka.

Pada tahun 1928, para pekerja yang ditugaskan menanam pisang di Kolombia melakukan aksi mogok dan menuntut untuk waktu kerja serta upah yang lebih layak. Enam hari kerja dalam seminggu, akses ke perawatan medis, kontrak aktual dengan perusahaan serta pembayaran upah dalam bentuk uang tunai.

Pemerintah Kolombia pada saat itu mengerahkan 300 tentara untuk mencegah pemerintah Amerika Serikat turun tangan dalam masalah ini. Alih-alih membela masyarakatnya, pasukan justru melakukan pembantaian dan menembak jatuh para pekerja perkebunan pisang.

Perusahaan buah ini ternyata masih menjalankan misi gelapnya pada tahun 1954 dengan bekerja sama dengan CIA untuk menggulingkan pemerintahan Guatemala. Tetapi, kemudian perusahaan buah ini dituntut dengan sebesar 25 Juta USD atau lebih dari Rp 3,5 Triliun setelah mengakui telah mendanai pasukan Kolombia selama sepuluh tahun.

Baca Juga: 5 Brand Makanan Terkenal Ini Ternyata Punya Sejarah Kelam



Simak Video "Masak Masak: Tips Bikin Permen Buah"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com