Sejarah Popcorn hingga Jadi Camilan Bioskop Favorit

Diah Afrilian - detikFood Selasa, 05 Jan 2021 11:00 WIB
Sejarah Popcorn hingga Jadi Camilan Bioskop Favorit Foto: iStock

Popcorn Masuk Bioskop

PopcornPopcorn Foto: shutterstock

Sekitar 1920-1930 kehadiran pengunjung bioskop mencapai 25 juta orang per minggu. Penjual makanan ringan mencatat bahwa mereka yang biasanya hadir di acara olahraga atau festival mulai mendirikan toko di luar bioskop.

"Banyak bioskop telah memasang lobi mereka dengan karpet untuk meniru lobi teater besar," tulis Andrew Smith dalam Popped Culture: A Social History of Popcorn di Amerika.

Sayangnya, pergeseran ini menyebabkan kerugian untuk industri lain. Komunitas kecil atau teater pedesaan ditutup karena tidak mampu menyaingi teknologi baru. Kemudian mulai ada pergeseran camilan pada bioskop juga yang awalnya berupa makanan dengan sampanye menjadi popcorn dengan soda.

Namun saat depresi ekonomi besar terjadi di Amerika, popcorn menjadi salah satu makanan mewah. Depresi ekonomi ini bahkan berdampak juga ada bioskop yang mulai menyewakan lobinya untuk para penjual popcorn.

Smith juga menulis tentang seorang petani Oklahoma yang membeli kembali tiga peternakan dengan uang hasil penjualan popcorn sebesar $ 190.000 d atau setara dengan Rp 2 miliar dari penjualan popcorn di beberapa lokasi.

Salah satu vendor Kansas City, Julia Braden, juga mendapatkan penghasilan tahunan senilai hampir $ 230.000 atau setara dengan Rp 3 miliar setelah berhasil bernegosiasi dengan teater lokal untuk membiarkannya menjual popcorn kepada penonton film.

Bioskop akhirnya mulai menawarkan minuman mereka bahkan penjualan satu paket tiket beserta popcorn dan minuman. Bioskop bahkan bersedia mengambil kerugian pada tiket untuk mendorong tamu membeli camilan yang ternyata lebih menguntungkan.

Keuntungan ini ternyata masih berlanjut sampai hari ini dimana penjualan popcorn dapat menghasilkan markup antara 800 dan 1.500 persen.

Popcorn Kemasan

popcornpopcorn Foto: Istimewa/Facebook

Dengan penjualan popcorn yang sangat menguntungkan, bisnis besar popcorn beralih ke target berupa pelanggan di rumah, terutama setelah orang Amerika mulai menonton televisi selama tahun 1940-an. Popcorn dibuat untuk bisa dinikmati mereka yang menonton pertandingan atau acara hobi lain di rumah dengan memanaskan popcorn di atas kompor.

Setelah popcorn terkenal sebagai camilan untuk menonton di rumah, kemudian microwave hadir. Microwave mulai diciptakan 2 tahun setelah popcorn kemasan dijual secara bebas.

Microwave untuk membuat popcorn secara nasional mendatangkan keuntungan hingga $53 Juta atau setara dengan lebih dari Rp 7 Triliun. Semenjak saat itu perkembangan dan penjualan popcorn dan microwave terus meningkat.

Kegagalan Popcorn

popcornpopcorn Foto: Istimewa/Facebook

Sebuah penelitian tahun 2008 menemukan bahwa diacetyl, bahan kimia yang digunakan dalam penyedap mentega buatan, dapat menyebabkan Alzheimer dan paru-paru. Hal ini berasal dari kantong yang bisa dimicrowave dilapisi dengan asam perfluorooctanoic (PFOA) yang terkait dengan kondisi yang dijuluki paru-paru popcorn karena penyakit pernapasan yang diderita akibat pengaruh penggunaan microwave.

Pada tahun 2013, AdAge melaporkan bahwa konsumen juga mulai bosan saat memasak popcorn terlalu lama. Pertumbuhan popcorn microwave sangat kecil, dibandingkan dengan pertumbuhan di antara popcorn yang telah muncul seperti Smart Food dan Skinny Pop. Tren tersebut menunjukkan bahwa konsumen menginginkan popcorn yang siap dimakan.

Popcorn microwave memiliki kecenderungan untuk mudah terbakar. Beberapa waktu belakangan ini juga ada kasus serupa saat memasak popcorn menggunakan microwave.

Baca Juga: Begini Ceritanya Popcorn Bisa Jadi Camilan Wajib di Bioskop Seluruh Dunia

Halaman
1 2 3 Tampilkan Semua

(raf/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com