Apa Benar Rasa Vanila Pada Makanan Berasal dari Dubur Berang-berang?

Devi Setya - detikFood Rabu, 11 Nov 2020 13:00 WIB
Apa Benar Rasa Vanila Pada Makanan Berasal dari Dubur Berang-berang? Foto: Getty Images/iStockphoto/LuVo
Jakarta -

Bukan rahasia kalau vanila termasuk bahan makanan mahal di dunia. Para produsen makanan mencoba mengganti vanila dengan ekstrak dubur berang-berang. Benarkah?


Berawal dari unggahan video tiktok oleh akun @Sloowmoee yang menjelaskan asal usul rasa dan aroma vanila pada makanan. Pemilik akun ini mengatakan kalau perisa vanila pada es krim, biskuit dan kue sebenarnya berasal dari dubur berang-berang yang sudah diekstraksi.

Video ini langsung viral dan menuding sang pemilik akun menyebarkan berita bohong. Padahal sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya palsu, ada ekstrak vanila yang benar-benar berasal dan terbuat dari dubur berang-berang.

Apa Benar Rasa Vanila Pada Makanan Berasal dari Dubur Berang-berang?Apa Benar Rasa Vanila Pada Makanan Berasal dari Dubur Berang-berang? Foto: Getty Images/iStockphoto/LuVo

Dilansir dari Metro (11/11) rasa vanila pada makanan yang dibuat secara masal di pabrik memang tidak berasal dari tanaman vanila asli. Ini berkaitan dengan harga vanila yang sangat mahal, apalagi kalau digunakan dalam jumlah yang sangat banyak.

Produsen makanan tentu tak mau menanggung kerugian untuk membeli banyak vanila. Salah satu solusinya yakni menggunakan castoreum. Zat ini merupakan penghasil aroma vanila yang aslinya terbuat dari kantung dubur berang-berang.

Castoreum berada tepat di antara panggul dan pangkal ekor berang-berang. Bagian inilah yang banyak diambil untuk dimanfaatkan sebagai penghasil aroma vanila.

Saking banyak perusahaan yang mencari ekstrak dubur berang-berang, akhirnya banyak perburuan liar yang kemudian membuat populasi berang-berang semakin sedikit. Sebagai informasi, ekstrak dubur berang-berang ini memang mengandung zat alami yang menghasilkan aroma mirip vanila.

Menurut Robert Chilcott dari University of Hertfordshire, ekstrak dubur berang-berang ini sudah sedikit digunakan karena perburuan liar yang dilarang di berbagai negara. Sebagai gantinya, ada bahan alami berbasis tumbuhan yang juga menghasilkan aroma mirip vanila.

"Seorang ahli kimia asal Jerman menemukan bahwa vanillin (salah satu bahan kimia yang bertanggung jawab atas rasa vanilla) dapat diekstraksi dari berbagai tumbuhan. Ekstrak tumbuhan ini kemudian dikenal sebagai vanili sintetis," ujar Robert.

Penggunaan vanila sintetis pada bahan makanan saat ini mencapai angka 94% atau sekitar 37.286 ton per tahunnya. Sementara sisanya yakni 6% produk makanan dibuat dengan mencampurkan vanila asli.

Es krim yang kamu nikmati selama ini bisa mengungkap seperti apa karakter yang kamu miliki dan telah dibuktikan melalui penelitian. Suka vanila atau chocolate?Apa Benar Rasa Vanila Pada Makanan Berasal dari Dubur Berang-berang? Foto: thinkstock

Ditemukannya ekstrak vanila dari tumbuhan ini menjadikan perburuan kantung dubur berang-berang lambat laun berhenti. Kini produsen makanan berhenti menggunakan ekstrak dubur berang-berang.

Meskipun demikian, ada satu minuman khas Swedia yang masih diolah menggunakan ekstrak dubur berang-berang. Minuman ini dikenal dengan sebutan Bäverhojt dan dibuat dengan cara merendam dubur berang-berang di dalam botol.



Simak Video "Bikin Laper: Lembutnya Kebab Sapi Jumbo 1 Meter"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com