Seram Tapi Enak, Ulat Jedung Goreng dari Gunungkidul yang Empuk Gurih

Pradito Rida Pertana - detikFood Kamis, 16 Mei 2019 13:40 WIB
Foto: Pradito Rida Pertana Foto: Pradito Rida Pertana
Gunungkidul - Selain terkenal akan wisatanya, Kabupaten Gunungkidul jugapunya beragam kuliner ekstrem, salah satunya ulat jedung goreng. Rasanya empuk gurih juga kaya protein. Mau cicip?

Ulat jedung banyak ditemukan di Kabupaten Gunungkidul, khususnya di pohon-pohon mahoni. Karenanya tak sedikit warga yang memilih untuk mencari ulat jedung untuk selanjutnya diolah dan dikonsumsi.

Seperti Sajiyo (58), warga Dusun Singkil, Desa Giring, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul yang gemar mencari ulat jedung untuk dikonsumsi bersama keluarganya. Sajiyo mengatakan, bahwa kegiatannya itu dilakukannya setiap sore hari.

Seram Tapi Enak, Ulat Jedung Goreng dari Gunungkidul yang Empuk GurihUlat jedung sebelum digoreng. Foto: Pradito Rida Pertana

"Bisa dikatakan hampir sepulang kerja saya mencari ulat jedung di kebun sekitar rumah. Tidak ada peralatan khusus, hanya pakai pring (bambu) panjang untuk mengambil ulat sama modal mata yang jeli," ujarnya kepada wartawan, Rabu (15/5/2019).

Baca juga: Oishii! Ramen Topping Jangkrik dan Ulat Goreng dari Tokyo

Menurut Sajiyo, kejelian mata saat mencari ulat jedung sangat diperlukan karena ulat jedung sendiri terbungkus di dalam kepompong berwayna cokelat. Terlebih, kepompong itu berada di sela-sela dedaunan yang kering sehingga terkadang susah untuk mengenalinya.

Sedangkan bentuk ulat jedung berukuran sebesar jempol orang dewasa dengan warna hijau dan terdapat sedikit bulu pada permukaan kulitnya. Tetapiukuran ulat jedung ini bisa mencapai ukuran jempol kaki orang dewasa.

"Biasanya ulat jedung itu banyak ditemukan di pohon mahoni. Kalau sehari dapat berapa ya tidak tentu, kadang banyak, kadang sedikit tapi tidak sedikit sekali," ucapnya.

Seram Tapi Enak, Ulat Jedung Goreng dari Gunungkidul yang Empuk GurihSajiyo saat mengupas ulat jedung untuk selanjutnya digoreng dengan bumbu bacem. Foto: Pradito Rida Pertana

Menurut Sajiyo, untuk pengolahan ulat jedung sendiri terbilang cukup mudah. Yang cukup menguras tenaga adalah saat mengeluarkan ulat jedung dari kepompong. Mengingat kulit kepompong yang membungkus ulat tersebut cukup keras.

"Karena kulit kepompongnya agak keras mengupasnya harus pakai pisau yang tajam. Setelah dikupas lalu ulat jedungnya dicuci bersih dan diberi bumbu," kata Sajiyo.

"Bumbunya bumbu bacem terus digoreng kering itu," sambungnya. Bumbu bacem terdiri dari bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, gula Jawa, daun salam dan lengkuas.

Bagi orang awam pasti enggan memakan ulat jedung karena ukurannya yang besar-besar dan tampilannya menyeramkan. Padahal, rasa dari ulat jedung sendiri tidak seburuk bentuknya dan memiliki kandungan protein yang tinggi.

"Rasanya gurih dan untuk teksturnya sendiri empuk meski sudah digoreng, keluarga saya saja suka semua. Kalau cara makannya bisa tanpa nasi dan pakai nasi, sesuai seleralah," ujarnya.

Seram Tapi Enak, Ulat Jedung Goreng dari Gunungkidul yang Empuk GurihUlat jedung saat berada di dalam kepompong. Foto: Pradito Rida Pertana

Selain itu, Sajiyo mengungkapkan bahwa ulat jedung memiliki nilai jual, meski harganya tidak semahal ulat jati atau ungkrung. Kendati demikian, Sajiyo belum memiliki niatan untuk menjual ulat jedung hasil berburunya.

"Kalau saya pribadi mencari ulat jedung untuk dikonsumsi sendiri, tapi kalau dapat banyak ya kemungkinan bisa dijual karena yang minat juga lumayan banyak," pungkasnya.

Baca juga: Selain Pho, Vietnam Punya Ulat Kelapa Hidup yang Enak Buat Camilan (lus/odi)