Untuk Deteksi Pemalsuan Makanan, Dubai akan Gunakan Peta DNA

Untuk Deteksi Pemalsuan Makanan, Dubai akan Gunakan Peta DNA

Annisa Trimirasti - detikFood
Minggu, 16 Apr 2017 16:58 WIB
Foto: Gulf News / FDA
Jakarta - Banyak pemalsuan di industri makanan membuat Dubai waspada. Dalam Food Safety Week, pemetaan DNA disebut akan jadi solusi tangani masalah.

Skandal kecurangan makanan banyak terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Seperti adanya melamin di susu formula, daging kuda untuk memalsukan daging sapi hingga beras plastik. Untuk menghadapi maraknya pemalsuan makanan, Dubai akan segera perkenalkan pemetaan DNA untuk memastikan kualitas makanan di UEA.

Meskipun selama ini produk yang masuk UEA melalui pemeriksaan ketat, ahli pangan Dubai menyebutkan pelunya kepedulian akan malpraktek global pada makanan. Hal ini menjadi kunci cegah kasus kecurangan di pasar lokal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk Deteksi Pemalsuan Makanan, Dubai akan Gunakan Peta DNAFoto: Gulf News / FDA
Disela konferensi Food Safety Week pada 15-21 April, Bobby Krishna, spesialis keamanan pangan Dubai menyebutkan bahwa menggunakan teknologi terbaru dan perangkat cerdas adalah kunci deteksi pemalsuan makanan yang lazim terjadi di pasar global. Terutama pada sektor makanan segar dan beku.

"Kami memiliki proses uji yang baik akan makanan impor tapi apa yang kami coba lakukan sekarang adalah menciptakan kesadaran pada sektor lokal dan pengecer tentang apa yang terjadi secara global. Pada saat yang sama memperkenalkan teknologi termutakhir untuk deteksi pemalsuan makanan," ujar Krishna dikutip dari Gulf News (16/4/17)

Menurut Krishna, pemetaan DNA sudah digunakan di Eropa dan Amerika. Kini saatnya digunakan di Dubai untuk melindungi hak-hak konsumen.

Untuk Deteksi Pemalsuan Makanan, Dubai akan Gunakan Peta DNAFoto: Gulf News / FDA
"Kami akan memperkenalkan teknologi yang membantu lacak produk sesuai sumbernya. Inggris dan Amerika sudah gunakan teknologi terenkripsi seperti pada ikan dan daging berkode yang membantu mengindentifikasi sumber produk dan menemukan data relevan hanya dengan pemindaian," jelas Krishna

Ia menambahkan Dubai sedang bekerja mengembangkan sistem terpadu mencakup seluruh produk makanan. Mulai dari yang tinggi risiko seperti susu formula dan makanan cepat rusak. Melihat dari kasus sebelumnya, disebutkan produk seafood, terutama yang dibudidaya, lebih rentan akan pemalsuan.

"Sekarang, sering terjadi kecurangan pada ikan, misal menggunakan bahan kimia dan antiobiotik untuk jaga kesegaran dan warnanya. Di sini, kami belum hadapi masalah itu tapi kami jaga-jaga dan ingin memberitahu industri untuk waspada akan masalah ini," tambah Krishna

Untuk Deteksi Pemalsuan Makanan, Dubai akan Gunakan Peta DNAFoto: Getty Images/Pinterest
Menurut FAO, konsumsi ikan per kapita global meningkat menjadi 20 kg/tahun dan diperkirakan pada 2030 akan jadi dua kali lipatnya. Di UAE sendiri, konsumsi ikan per kapita tinggi yaitu 24kg / tahun. Dari data tersebut, perhatian akan produk ikan diutamakan.

"Banyak kasus dimana ikan yang dijual berbeda dengan yang tertulis di label. Saat dibekukan dan dikuliti sulit untuk membedakannya. Lapisan es untuk mencegah seafood rusak akan menambah 2-5% beratnya. Namun banyak kasus berat ikan dimanipulasi hingga 40% dengan air. Itu beberapa malpraktek yang kami coba beritahu sebelum terjadi," tutup Krishna. (ani/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads