Italia Segera Miliki Undang-undang untuk Atasi Limbah Makanan

Lusiana Mustinda - detikFood Kamis, 04 Agu 2016 13:10 WIB
Foto: iStock
Jakarta - Limbah makanan kini menjadi masalah dunia. Pemerintah Italia membuat peraturan baru untuk kurangi limbah makanan.

Rancangan undang-undang penanganan limbah di Italia didukung oleh 181 senator dengan 2 menolak dan 16 abstain. Tujuannya untuk mengurangi limbah satu juta dari sekitar lima juta ton limbah setiap tahunnya.

Menurut Maurizio Martina, Menteri Pertanian Italia, pengurangan limbah menjadi fokus dari pameran internasional Expo Milano pada tahun 2015. Mengurangi kelaparan dan limbah makanan di seluruh dunia.

Limbah makanan yang dihasilkan dari bisnis dan rumah tangga telah menghabiskan biaya lebih dari € 12 billion atau sekitar 175 triliun rupiah per tahunnya. Studi ini menyebutkan limbah ini bisa mencapai lebih dari 1 persen GDP (Gross Domestic Product).

Tidak terbatas pada Italia saja, Food and Agricultural Organisation (FAO) memperkirakan bahwa beberapa sepertiga makanan dibuang sia-sisa di seluruh dunia. Limbah makanan di Eropa naik sekitar 40 persen. "Makanan yang terbuang di Eropa bisa memberi makan 200 juta orang," jelas FAO dalam BBC (03/08).

Ini bukan pertama kalinya Italia telah bertindak tegas atas masalah kelaparan dan limbah makanan. Tiga bulan yang lalu, pengadilan tertinggi memutuskan bahwa mencuri makanan dalam jumlah sedikit untuk mencegah kelaparan bukanlah suatu kejahatan.

Pemerintah Italia juga akan memberikan insentif kepada pemilik usaha yang mendonasikan sisa makanannya. Undang-undang ini akan memberikan potongan pajak serta beragam insentif, tergantung dari donasi yang diberikan. Selain itu, petani juga dapat memberikan hasil panen yang tidak dapat dijual untuk amal.

Kementerian Pertanian menghabiskan sekitar 1 juta euro untuk meneliti cara-cara inovatif untuk mencegah pembusukan dan memperpanjang umur simpan dalam paket pengiriman makanan jarak jauh. Juga kampanye informasi publik yang bertujuan untuk mengurangi pemborosan makanan.

Selain itu, pengadaan "family bags" bisa lebih menarik minat. Family bags atau lebih dikenal dengan "doggy bag" merupakan kantung kemasan sisa makanan yang disediakan oleh restoran.

Pengunjung dapat membungkus sisa makanan mereka dari restoran sehingga dapat meminimalisir limbah makanan.

Awal tahun ini supermarket di Prancis juga memiliki perarturan untuk kurangi limbah. Akan tetapi ada perbedaan diantara kedua negara ini. Prancis justru memberikan denda bagi mereka yang tidak menyumbangkan sisa makanannya. Sedangkan Italia lebih mendorong perubahan perilaku yang lebih baik tanpa denda.

Limbah makanan juga menjadi permasalahan negara lain seperti Qatar. Beberapa restoranpun telah mengenakan denda bagi pengunjung yang tak menghabiskan makannya. (lus/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com