Seperti dikutip dari Science Daily (19/08/15), para peneliti di Universitas Missouri menemukan bahwa membuang daging berdampak lebih buruk bagi lingkungan dibanding membuang buah atau sayur. Ini karena produksi daging juga menghabiskan energi lebih banyak.
Energi yang terbuang biasanya dalam bentuk sumber daya yang merugikan lingkungan seperti bahan bakar diesel atau pupuk kimia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, alat-alat pertanian yang digunakan untuk memberi makan dan memelihara ternak serta merawat tanaman menggunakan banyak bahan bakar diesel dan bahan bakar fosil. Ini berarti ketika seseorang membuang daging, maka ia juga membuang seluruh sumber daya yang dihabiskan untuk memproduksi daging tersebut.
βPenelitian kami juga menyarankan agar masyarakat dan lembaga-lembaga terkait tak hanya sekadar memikirkan jumlah limbah yang terbuang tetapi juga memikirkan jenisnya,β tutur Costello.
Selama penelitian, ia dan tim mengumpulkan limbah makanan dari beberapa restoran selama 3 bulan. Mereka mengkategorikan limbah dalam 3 jenis yaitu daging, sayur, dan pati. Kategori juga dibuat untuk bahan makanan yang dapa dimakan (edible) dan tidak dapat dimakan (inedible) seperti kulit atau ujung bagian buah dan sayur.
Setelah itu, Costello dan tim mulai menganalisa emisi gas rumah kaca yang disebabkan dari penggunaan pupuk, transportasi/kendaraan, dan penggunaan alat-alat pertanian lainnya. Perkiraan emisi gas diukur dari tahap persiapan tanaman atau binatang hingga tahap terakhir sebelum keduanya diproses lebih lanjut.
βKami menganjurkan agar konsumen sebisa mungkin menghindari pembuangan daging,β ujar seorang penulis penelitian, Ronald G. McGarvey.
Costello dan McGarvey sepakat bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek dari sumber daya yang digunakan saat menghitung jumlah pembuangan limbah di restoran all you can eat dan restoran a la carte.
(lus/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN