Chef Ardika Dwitama berhasil mendapat penghargaan chef pastry terbaik di Asia tahun 2026. Dirinya ungkap perjalanan dan ide kreatif di belakangnya, termasuk soal tidak terpaku dengan tren.
Tak hanya restorannya yang memenangkan penghargaan dalam ajang Asia's 50 Best Restaurant, chef pastry di August Restaurant juga dinobatkan sebagai chef pastry terbaik di Asia.
Kabar membahagiakan ini membuat chef Ardika Dwitama terkejut. Mengingat banyak sekali pastry chef bagus di Asia, seperti di Jepang, Korea, hingga Malaysia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada detikFood (9/4), ia mengungkap, "Kaget. Senang juga yang pasti. Eh, tapi lebih ke kagetnya aja sih karena enggak nyangka."
Mendapat penghargaan sebagai pastry chef terbaik di Asia 2026, chef Ardika mengungkap konsep yang diangkat olehnya bersama dengan August Restaurant. Berbeda dengan kebanyakan restoran, August Restaurant memang sengaja membuat kreasi hidangan yang belum ada sebelumnya.
"Contoh chef Hans gitu. Enggak bikin rendang, enggak bikin nasi goreng, sama di pastry juga saya enggak bikin es cendol, saya bikin dessert Indonesia yang lain," jelas chef Ardika.
Sesekali esensi atau bahan yang dipakai mungkin sama seperti dessert di tempat lain, tetapi tidak dibuat sama persis. Misalnya ingin membuat sebuah dessert berbahan dasar kopi. Chef Ardika tidak langsung mengolahnya menjadi sebuah tiramisu, melainkan diolah menjadi jenis dessert lain.
"Saya enggak bikin itu dessert yang ada di luar sana, tapi saya pakai kopinya kopi lokal misalnya. Saya coba cari yang cocok dengan yang saya mau," lanjutnya.
Contoh kreasi dessert dari chef Ardika Dwitama di August Restaurant. Foto: PRADITA UTAMA |
Chef lulusan Le Cordon Bleu tersebut lebih fokus terhadap dessert yang memang cocok disajikan di sebuah restoran. Bukan membuat kreasi, seperti cake shop yang membuat kue ulang tahun maupun bakery yang spesial di roti.
Seperti hidangan utama di August Restaurant, chef Ardika juga mengedepankan bahan-bahan lokal. Mulai dari kopi hingga gula lokal, seperti gula aren, dan lain sebagainya.
Ia pribadi memang lebih suka mengulik bahan-bahan Indonesia. Kebetulan preferensinya sesuai dengan apa yang ditawarkan oleh August Restaurant. Akhirnya tercipta sebuah kreasi yang memadukan konsep dari restoran dengan ide dari chef Ardika.
Dessert yang ditawarkan di August Restaurant juga berganti setiap 5-6 bulan sekali. Memang tidak ada yang 'signature' atau khas, tetapi ada beberapa yang sejak awal memang sudah diperkenalkan ke pelanggan.
Salah satunya adalah dessert kopi bernama Frozen Coffee. Kreasi ini dibuat menggunakan kopi lokal yang asalnya bisa dari Garut hingga Lampung. Lalu dipadukan dengan gula lokal, seperti aren.
Chef Ardika mengungkap dirinya tidak terpaku dengan tren dessert atau pastry yang ada. Lebih fokus terhadap kreasi sendiri. Foto: Detikcom / Atiqa Rana |
Head Pastry Chef di August Restaurant ini dikenal dengan kreasinya yang inovatif dan berkarakter. Ia juga turut menggunakan 70-80% bahan lokal dalam kreasinya. Soal tantangan terkait pemakaian bahan lokal, menurutnya konsistensi, kualitas, dan kuantitas sering menjadi masalah utama.
"Jadi harus pinter-pinter, kita harus lihat musim juga, jadi misalnya lagi musim sirsak atau musim markisa, kita usahakan pake yang ada saat itu. Kita nggak mau pake yang udah nggak musim, terus kita paksa, jadi lebih ke difficulty (kesusahannya) do situ sih," ujarnya kepada detikFood.
Dessert yang ditawarkan oleh chef Ardika bersama August Restaurant juga lebih mengedepankan nilai dan konsep yang mungkin tidak bisa ditemukan di restoran mana pun.
"Jadi lo nggak bisa nemuin di mana-mana. Itu yang kita pengin sih. Kita nggak mau disamain atau di-compare sama yang udah ada. Original? Yes, original. Jadi sama di dessert pun saya sama sih, pungkasnya.
Chef Ardika mengaku lebih fokus terhadap August dan diri sendiri dibandingkan sibuk 'menyontek' kreasi orang lain atau mengikuti tren yang ada.



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN