Jejak Perkebunan Kopi Tertua hingga Kenikmatan Lodeh Tewel di Bumi Bung Karno

ADVERTISEMENT

Street Food 101

Jejak Perkebunan Kopi Tertua hingga Kenikmatan Lodeh Tewel di Bumi Bung Karno

Andi Annisa Dwi R - detikFood
Jumat, 21 Okt 2022 15:00 WIB
Jejak Perkebunan Kopi Tertua hingga Kenikmatan Lodeh Tewel di Bumi Bung Karno
Foto: Andi Annisa DR/detikfood
Blitar -

Blitar menyimpan sejuta pesona untuk penikmat kuliner. Dalam Street Food 101 kali ini, detikfood bakal mengajak kamu melihat perkebunan kopi tertua di Jawa Timur yang ada di Blitar hingga dapur tradisional yang menyajikan soto sapi plus lodeh tewel nikmat.

Membicarakan Blitar, banyak orang langsung teringat sosok presiden pertama Indonesia, Sukarno. Di kota kecil inilah, ia dimakamkan.

Ketika Sukarno meninggal, pemimpin saat itu yaitu Presiden Soeharto memutuskan untuk memakamkan sang proklamator Republik Indonesia di Blitar. Posisi makam Sukarno diapit makam kedua orang tuanya.

Sampai sekarang, Blitar pun dikenal dengan sebutan 'Bumi Bung Karno'. Di kota ini, selain berwisata sejarah, para pencinta kopi dan penikmat kuliner juga bisa menelusuri banyak cerita menarik.

Jejak Perkebunan Kopi Tertua hingga Kenikmatan Lodeh Tewel di Bumi Bung KarnoCeri kopi sisa panen tahun ini yang ditemukan di Perkebunan Kopi Tugu Kawisari. Foto: Andi Annisa DR/detikfood

Salah satunya soal perkebunan kopi tertua di Jawa Timur yang ternyata ada di Blitar. Namanya Perkebunan Kopi Tugu Kawisari yang masih eksis sampai sekarang.

Perkebunan kopi ini sudah ada sejak 1870, didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda ketika pihaknya mencabut peraturan tanam paksa. Luas kebun kopi ini mencapai 850 hektar dengan peruntukkan bagi tanaman kopi sekitar 650 hektar.

Jenis kopi yang dihasilkan mayoritas berupa Robusta, meski ada juga Arabica yang luas perkebunannya hanya 40 hektar. Dalam setahun, perkebunan kopi yang terletak di lereng Gunung Kelud ini mampu menghasilkan rata-rata 500 sampai 600 ton biji kopi, ujar Agus Haryanto selaku petugas lapangan Perkebunan Kopi Tugu Kawisari.

Biji kopi di sini begitu istimewa dari segi kualitas dan rasa, apa lagi cerita di baliknya. Konon hasil kebun kopi ini merupakan satu-satunya produk yang dikonsumsi oleh tamu-tamu Societeit de Harmonie di Rijswijk Batavia, salah satu klub paling bergengsi di Asia Tenggara pada zaman penjajahan Belanda.

Kini Perkebunan Kopi Tugu Kawisari yang dikelola jaringan Hotel Tugu ini menghasilkan berbagai produk kopi artisan. Pilihannya beragam seperti Kawisari Arabic Wine Process, Kawisari Java Arabica Peaberry, hingga Kawisari Premium Java Robusta (Traditional Wood Roasting).

Lalu untuk menikmati aneka makanan tradisional Blitar, tempatnya tidak hanya di warung atau rumah makan. The Colony Restaurant dan Waroeng Jawa yang berada dalam kawasan Hotel Tugu Blitar bisa disambangi.

Jejak Perkebunan Kopi Tertua hingga Kenikmatan Lodeh Tewel di Bumi Bung KarnoSuasana di The Colony Restaurant yang ada di Hotel Tugu Blitar. Foto: Andi Annisa DR/detikfood

Pada The Colony Restaurant, bangunannya bahkan masih bergaya kolonial dengan pilar-pilar kokoh ala arsitektur Belanda. Di restoran ini, Chef Winarno menyuguhkan aneka makanan tradisional Blitar dengan tampilan menarik.

Menu-menu ini bahkan disukai keluarga Bung Karno, salah satunya sang anak, Megawati Sukarnoputri. Dari kategori Blitar Specials, Chef Winarno menyajikan Nasi Pecel Ndeso Blitar, Nasi Tahu Tek Blitar, Nasi Rawon, hingga Nasi Lodho Trenggalek yang bisa dinikmati tamu hotel atau pengunjung biasa.

Tak ketinggalan, deretan kue dan jajanan tradisional Jawa yang disuguhkan di Waroeng Djawa. Mulai dari cenil, nagasari, klepon ubi ungu, sampai pisang goreng kelapa bisa dinikmati di Hotel Tugu Blitar.

Jejak Perkebunan Kopi Tertua hingga Kenikmatan Lodeh Tewel di Bumi Bung KarnoAneka jajan pasar enak ada di Waroeng Djawa di Hotel Tugu Blitar. Foto: Andi Annisa DR/detikfood

Nantinya ada minuman pendamping khas, berupa teh atau wedang ronde. Harga untuk menyantap aneka jajanan tradisional Jawa di sini pun tidak bikin kantong bolong.

Petualangan kuliner tim Street Food 101 di Blitar juga masih berlanjut. Kami menyambangi dua penjual makanan tradisional yang masih eksis sampai sekarang, meski sudah puluhan tahun berjualan.

Keduanya begitu mempertahankan keautentikan rasa menu yang dijual. Ada penjual Soto Bok Ireng dan Warung Martumi yang juga masih memasak menunya dengan api dari kayu bakar.

Soto Bok Ireng bahkan sudah ada lebih dari 40 tahun. Di sini, semangkuk soto daging dan jeroan sapi dengan nasi dibanderol Rp 10.000. Rasanya sederhana, namun begitu nikmat. Apa lagi ada penggunaan kecap manis khusus.

Jejak Perkebunan Kopi Tertua hingga Kenikmatan Lodeh Tewel di Bumi Bung KarnoPenjual soto Bok Ireng yang legendaris ini sudah berjualan selama lebih dari 40 tahun. Foto: Andi Annisa DR/detikfood

Pada Warung Martumi yang lokasinya agak jauh dari pusat kota Blitar, menunya tak kalah istimewa. Di sini ada lodeh tewel (nangka muda) dan olahan ayam lodho yang selalu jadi incaran.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa bahkan jadi penggemar berat sajian Warung Martumi. Usaha kuliner ini pun masih terus bertahan dari pertama kali didirikan tahun 1960-an.

Seperti apa kisah lanjutan dari para penjual makanan tradisional dan legendaris di Blitar itu? Simak terus rangkaian artikel dan video Street Food 101 edisi Jajan di Blitar yang akan tayang hari ini (21/10) hingga Minggu (23/10). Pantau terus detikfood ya!



Simak Video "Gurihnya Sate Saikoro dan Segarnya Es Sinar Garut"
[Gambas:Video 20detik]
(adr/odi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT