Kekayaan Nusantara! Indonesia Punya 7.000 Jenis Beras Kuno

ADVERTISEMENT

Kuliner Pusaka Indonesia

Kekayaan Nusantara! Indonesia Punya 7.000 Jenis Beras Kuno

Diah Afrilian - detikFood
Sabtu, 20 Agu 2022 17:30 WIB
Kekayaan Nusantara! Indonesia Punya 7.000 Jenis Beras Kuno
Foto: detikcom/Diah Afrilian
Jakarta -

Beras ternyata tak hanya yang berwarna putih, tapi juga berwarna lain dengan varietas berbeda. Siapa sangka Indonesia memiliki ribuan jenis beras yang kini hampir punah.

Beras menjadi salah satu bahan makanan pokok yang populer di Indonesia. Beras dikenal sebagai sumber karbohidrat yang paling mengenyangkan dan jadi favorit masyarakat Indonesia.

Beberapa jenis beras yang terkenal misalnya beras merah, beras putih, beras ketan, beras cokelat, dan lainnya. Ternyata jenis-jenis beras tidak hanya yang biasa ditemukan di pasaran saja.

Konon Indonesia memiliki hingga 7.000 jenis beras kuno yang menjadi kekayaan alam murni dari limpahan berkat Tuhan yang tak banyak diketahui. Akibat peraturan agraria dan faktor lainnya, beras-beras kuno ini terancam punah.

Kekayaan Nusantara! Indonesia Punya 7.000 Jenis Beras KunoTak hanya beras merah atau putih, Indonesia ternyata menyimpan ribuan jenis beras. Foto: detikcom/Diah Afrilian

Melalui workshop Ancient Rice yang diselenggarakan di The Dharmawangsa Jakarta (20/8), Helianti Hilman selaku pendiri Javara Indonesia menyebutkan bahwa ada cerita panjang di balik kebiasaan orang Indonesia yang hobi mengonsumsi beras putih atau nasi putih.

Melalui perjalanan panjang yang dilakukannya, Helianti menceritakan kisahnya saat bertemu sosok almarhum Mbah Suko yang menyimpan banyak jenis beras kuno di halaman rumahnya.

"Jadi waktu itu saya ketemu Mbah Suko, saya kaget melihat banyak padi yang justru ditanam di dalam pot di rumahnya. Ternyata padi-padi ini adalah beras kuno yang disimpannya sejak masa orde baru," ungkap Helianti.

Keterbatasan memaksa Mbah Suko untuk 'menyembunyikan' beras-beras kuno tersebut dan hanya ditanam di dalam pot rumahnya. Sejak saat itu, Helianti mengaku menjadi tertarik untuk mencari tahu lebih banyak tentang beras-beras kuno.

Helianti menyebutkan banyak sekali pengalamannya berkenalan dengan alam termasuk ketika dirinya diajarkan untuk 'menyatu' dengan sawah. Untuk pertama kalinya, Helianti diajak turun langsung ke sawah tetapi dengan banyak persyaratan agar tidak mengganggu kesuburan padi para petani.

Kekayaan Nusantara! Indonesia Punya 7.000 Jenis Beras KunoPenanamannya yang 'organik' bahkan harus dilakukan dengan menyatu pada alam. Foto: detikcom/Diah Afrilian

"Waktu itu saya sempat diajak ke sawah tetapi harus buka sepatu karena konon untuk menyatu dengan alam tanpa jarak. Selain itu saya juga ditanya moodnya, apakah lagi bagus atau buruk. Kata petaninya mood seseorang menentukan suasana dan aura yang nantinya mempengaruhi pertumbuhan padi di sawah," ungkap Helianti.

Rasa penasaran yang semakin besar membawa Helianti mengumpulkan lebih dari 40 jenis beras dan membantu memakmurkan komunitas petani-petani yang pernah ditemuinya. Helianti mengaku selalu tak sabar untuk membawa beras-beras yang cantik ini agar lebih dikenal oleh masyarakat.

Helianti bahkan berhasil memasarkan beras kuno asal Indonesia pada sebuah konferensi di Italia. Menyaingi beras Thailand dan India yang begitu populer di dunia, Helianti mampu memasarkan 2 ton beras kuno dalam 3 hari pada acara konferensi tersebut. Ada setidaknya delapan jenis beras yang ditawarkannya yaitu Andel Abang, Menthik Susu, Cempo Hitam, Saudah, Menthik Wangi, hingga Cempo Merah.

Walaupun hanya berawal dari 200 kilogram, kini Javara telah berhasil membawa beras-beras kuno ini lebih dikenal bahkan hingga dikirim ke 33 negara di dunia.
Helianti berharap bahwa penggemar beras kuno bisa semakin meningkat, khususnya di Indonesia. Ia juga ingin melestarikan beras-beras ini sebagai warisan nenek moyang dan berkat Tuhan yang tak akan pernah punah.



Simak Video "Bikin Laper: Nagihnya Pad Thai Udang Jumbo di Pasar Thailand"
[Gambas:Video 20detik]
(dfl/adr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT