ADVERTISEMENT

Kriuk! Pedasnya Keripik Kaca Rp 5 Ribuan Cocok Jadi Teman Ngemil

Jihaan Khoirunnisa - detikFood
Selasa, 28 Jun 2022 10:40 WIB
Ilustrasi Keripik Kaca
Foto: Instagram.com/bucin_seuhah_
Jakarta -

Ketika bersantai paling asyik sambil menyantap camilan gurih. Kamu bisa pilih mau camilan basah ataupun kering seperti keripik.

Nah salah satu camilan keripik yang belakangan ini sedang ramai diminati adalah keripik kaca. Meskipun namanya keripik kaca, bukan berarti makanan ini terbuat dari kaca sungguhan, ya. Disebut keripik kaca lantaran bentuknya yang tipis dan bening menyerupai kaca. Ketika digigit terasa renyah.

Buat yang belum tahu, keripik kaca merupakan camilan khas Ciamis, Jawa Barat yang diolah dari bahan dasar singkong. Sekarang ini keripik kaca sedang digandrungi anak muda, terutama pencinta makanan pedas.

Disebut keripik kaca lantaran memiliki bentuk yang tipis dan bening menyerupai kaca. Ketika dimakan terasa renyah dan gurih. Camilan ini banyak dijumpai di warung maupun rumah makan. Namun kalau ingin mencobanya sekarang bisa dipesan via toko online, seperti di Bucin Seuhah.

Toko milik Siti Nurbaitilah ini menawarkan camilan keripik kaca dengan 2 rasa, yakni cabai merah dan cabai hijau. Untuk 1 kemasannya, kamu cukup membeli dengan harga Rp 5 ribu saja, lho.

Siti mengatakan keripik kaca menjadi salah satu produk terlaris, selain seblak dan baso aci.

"(Iya) jadi produk yang sangat diminati karena rasa kriuk dan pedasnya cocok untuk dijadikan camilan atau teman makan," katanya kepada detikcom.

Lebih lanjut, Siti mengaku sudah menekuni usaha ini sejak Maret 2020. Nama Bucin Seuhah sendiri dipilih karena mewakili kecintaan masyarakat yang suka camilan dengan sensasi pedas.

"Awal buat usaha sebenarnya mau sendiri, tapi ternyata bertemu dengan teman lama," katanya.

"Nama Bucin Seuhah sendiri yang artinya bumbu cabe Indonesia. Dan seuhah merajuk pada sensasi pedas. Tetapi pada saat ini baru terealisasikan aneka makanan pedas khas Jawa Barat," lanjut Siti.

Di awal usahanya berdiri, Siti sempat membuka toko offline. Namun tidak terlalu ramai karena pandemi COVID-19 yang semakin tinggi. Sehingga ia memutuskan untuk mulai merambah ke penjualan online melalui media sosial dan e-commerce.

"Hanya bertahan selama 6 bukan dikarenakan pandemi yang makin tinggi dan akhirnya memutuskan untuk konsep ghost kitchen dengan membeli rumah yang nggak terlalu besar di samping rumah ibu," terangnya.

Siti menyebut dalam sebulan kurang lebih ada 1.000 porsi snack atau camilan yang laku terjual. Di antaranya 550 porsi seblak, 250 porsi baso aci, dan 200 porsi keripik kaca (kripca). Di samping mendorong penjualan online, Siti juga ikut dalam program pengembangan usaha. Salah satunya program Kembangkan Bisnis Kulinermu yang digelar Kraft Heinz Food Service bersama detikcom.

"Cukup baik (acaranya) dan ilmunya bisa dipraktikkan secara langsung. Semoga bisa terus meningkat UMKM menjadi perusahaan yang besar, mempunyai brand, dan diminati banyak pelanggan," ungkapnya.

(akd/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT