Sedap dan Praktis, Bakmi Ayam Ini Tersedia dalam Kemasan Kering

Muhamad Yoga Prastyo - detikFood
Sabtu, 29 Jan 2022 11:36 WIB
Instagram/@kedaikoaliang
Foto: dok. Instagram/@kedaikoaliang
Jakarta -

Dalam berwirausaha, langkah awal dalam membangun usaha bukan hanya perkara memiliki modal yang cukup. Lebih dari itu, membangun usaha juga dibutuhkan tekad dan keyakinan untuk berani memulai.

Keinginan membangun usaha yang telah terpupuk sejak lama, ditambah situasi pandemi, memaksa Alissa Wiratno untuk berani merealisasikan keinginannya. Pada Mei 2020, ia resmi memulai usaha kuliner miliknya yang diberi nama Kedai Ko Aliang.

"Sebenarnya sudah ingin membuat usaha kuliner sejak lama, namun belum pernah dicoba direalisasikan sampai akhirnya baru memberanikan untuk memulai saat pandemi," kata Alissa kepada detikcom.

Usaha Kedai Ko Aliang milik Alissa ini mengusung konsep makanan 'home made' yang ia buat sendiri dari rumah. Adapun makanan yang ia jual bertemakan makanan ala chinese food, dengan menu andalannya yakni bakmi ayam.

Guna menjangkau target pasar yang lebih luas, ia pun mengusung konsep makanan halal pada makanan yang dijualnya. Hal ini juga membuat makanan buatannya dapat dinikmati semua kalangan. Terlebih, bakmi ayam buatannya juga tidak menggunakan bahan pengawet sehingga lebih aman dikonsumsi. Selain bakmi ayam, ada pula bakpao dan bakso yang tersedia dalam menu yang ia jual.

Dalam mengembangkan usahanya, Alissa pun cukup jeli dalam melihat keinginan para konsumennya. Selain menyediakan bakmi ayam siap saji, usaha Kedai Ko Aliang miliknya juga menyediakan bakmi ayam dalam kemasan kering. Inovasi ini memungkinkan pelanggan Alissa dapat membuat dan menikmati bakmi ayam sendiri dari rumah.

Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Satu porsi bakmi ayam yang ia jual berkisar antara Rp 27 ribu sampai dengan Rp 30 ribu tergantung varian. Dari harga tersebut, ia mampu menjual 75 hingga 120 bungkus per bulannya dengan keuntungan bersih satu sampai dua juta rupiah.

Namun diakui Alissa, usaha bakmi ayam miliknya ini juga terkena imbas dari situasi pandemi. Selain penjualan yang mulai menurun, ia pun harus mencari lagi supplier untuk bahan baku makanan yang ia produksi,

"Ada beberapa supplier yang tutup sehingga harus berganti, bahan baku yang naik sehingga juga menaikan operational cost, sedangkan penjualan belum begitu lancar," ucap Alissa.

Selama ini, metode pemesanan Kedai Ko Aliang hanya dilakukan melalui aplikasi pesan antar. Namun situasi pandemi yang tak kunjung usai ini memaksa Alissa untuk memutar otak agar jumlah pemesanan di kedai miliknya kembali meningkat, di antaranya dengan melakukan promosi di sosial media.

"Mencoba untuk promosi berbayar di sosial media, membuat toko di e-commerce dan aplikasi delivery," jelasnya.

Sebagai seorang pengusaha, usaha yang dilakukan Alissa untuk mempertahankan bisnisnya tidak berhenti sampai di situ saja. Alissa juga mengembangkan pengetahuan bisnisnya dengan mengikuti program pelatihan pengembangan usaha 'Kembangakan Usaha Kulinermu' dari detikcom dan Kraft Heinz Food Service untuk mendukung usaha kuliner Tanah Air agar bisa naik kelas.

"Untuk menambah pengetahuan dan bisa mempelajari lebih luas mengenai bisnis kuliner karena tidak memiliki basic bisnis ataupun kuliner yang kuat sebelumnya," kata Alissa.

Dari program yang diikutinya ini, diakui Alissa, ia pun mendapat banyak insight baru tentang industri kuliner. Ia pun berharap dari keikutsertaannya ini, ia bisa lebih berani dan percaya diri untuk mengembangkan usaha Kedai Ko Aliang miliknya.



Simak Video "Bikin Laper: Unik Banget! Ada Bakmi Ayam Merah di Kawasan Sunter"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)