Sarapan Khas Pangandaran, Surabi Biyungku yang Empuk Gurih dan Wangi

Aldi Nur Fadillah - detikFood Kamis, 20 Jan 2022 10:30 WIB
Surabi Biyungku Foto: detikcom/Aldi Nur Fadillah
Pangandaran -

Kulineran pagi hari di Pangandaran wajib coba surabi Biyungku. Makanan legendaris sejak 1998 ini berada di kawasan objek wisata pantai Barat dan Timur.

Pangandaran memang tak hanya keindahan alam dan pantainya yang bisa dinikmati. Ada jajanan surabi Biyungku yang berlokasi di Jalan Kidang Pananjung No. 98 Pangandaran. Surabi ini terkenal dengan rasanya yang empuk legit, terutama jenis surabi telur dan oncom.

Tampilan serabi ini terlihat biasa. Berwarna putih, mengembang di bagian tengahnya. Lalua da topping telur atau oncom ditambah isian lainnya. Gurih empuk rasanya dengan aroma bakaran yang enak, apalagi jika dinikmati pagi hari saat sarapan.

Surabi BiyungkuSurabi Biyungku yang ditawarkan ada 4 varian rasa dengan harga terjangkau Foto: detikcom/Aldi Nur Fadillah

Ada 4 varian rasa yang ditawarkan surabi Biyungku dengan harga terjangkau. Surabi polos dengan harga Rp 1.250 atau bisa beli Rp 5.000 dapat 4, surabi gula merah Rp 3.000, surabi oncom Rp 3.000 dan surabi telur Rp 7.000.

Pembeli juga bisa memilih topping campuran surabi oncom telur yang dihargai hanya Rp 8.000. Nikmatnya surabi Biyungku terasa alami. Tanpa bumbu tambahan surabi yang berbahan tepung beras dan kelapa parut ini rasanya enak sekali

Topping oncomnya terasa sedikit pedas, cocok dipadu dengan serabi yang empuk gurih. Surabi telur dimasak tanpa minyak. Memakai cetakan surabi tanah liat yang dipanaskan dengan api kayu bakar. Rasa telurnya garing gurih tanpa ada aroma amis.

Surabi BiyungkuSurabi Biyungku bisa disajikan dengan topping Foto: detikcom/Aldi Nur Fadillah

"Bahannya hanya tepung beras yang dicampur dengan air kelapa atau santan dan sedikit gula dan garam," kata salah satu pedagang surabi Biyungku, Sariem (60), kepada detikcom, Rabu (19/1/2022).

Serabi ini banyak diserbu pembeli sewaktu pagi hari sekitar pukul 05.00 hingga 08.00 WIB. "Biasanya habis ribuan surabi setiap harinya saat sedang ramai, apalagi waktu hari libur," ucapnya.

"Surabi Biyungku ini sudah ada sejak 24 tahun yang lalu, kurang lebih dari tahun 1998 ini resep keluarga secara turun temurun," ujar Sariem.

Ia menjelaskan kata Biyung itu diambil dari panggilan ibunya. "Kalo cucu suka bilang Biyung, itu panggilan nenek di keluarga, mungkin karena dulu dari Kebumen lalu hijrah ke Pangandaran," tutur Sariem.



Simak Video "H-1 Lebaran, Ketupat Air Tanjung Tasikmalaya Naik Omzet 100 Persen"
[Gambas:Video 20detik]
(raf/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com