ADVERTISEMENT

Gurih Enak Kue Legondo dan Intip, Dijual Tiap Kamis di Makam Ki Ageng Perwito

Achmad Syauqi - detikFood
Senin, 03 Jan 2022 06:00 WIB
Kue Legondo dan intip Goreng
Foto: detikFood/Achmad Syauqi
Jakarta -

Di Desa Ngreden, Kecamatan Wonosari, Klaten tidak hanya terdapat makam Ki Ageng Perwito. Di sana juga ada kue legondo dan intip goreng yang hanya dijual pada hari Kamis.

"Jualannya hanya setiap hari Kamis atau malam Jumat. Ramainya Jumat Wage," ungkap penjual legondo dan intip, Tiyem (80) pada detikcom, Sabtu (1/1/2021) siang.

Menurut Tiyem, legondo dan intip goreng merupakan makanan khas di desanya turun temurun dibuat warga. Dirinya berjualan sudah sejak muda meneruskan ibunya.

"Saya jualan sejak masih muda, dulu ibu saya. Dijual setiap malam Jumat untuk yang ziarah, jual makanan lain tidak laku," kata Tiyem.

Kue Legondo dan intip GorengKue Legondo dan intip Goreng Foto: detikFood/Achmad Syauqi

Legondo merupakan kue yang berbahan beras ketan dengan campuran kelapa. Dibungkus dengan janur (daun muda kelapa) dan dikukus. Tampilannya memanjang mirip lepet ketan. Sedangkan intip atau kerak nasi merupakan camilan dari kerak nasi yang bundar bentuknya dan digoreng kering.

"Dibungkus dengan janur lalu diikat dengan bilah bambu kecil lalu dimasak dikukus. Saya jual satu gandeng isi 5 harganya Rp 5.000," imbuh Tiyem.

Wiji, pedagang lainnya mengatakan legondo dan intip dibuat dan dijual turun- temurun di desanya. Dulu sebelum pandemi ada puluhan penjual.

Kue Legondo dan intip GorengKue Legondo dan intip Goreng Foto: detikFood/Achmad Syauqi

"Ini turun temurun dibuat dan penjualnya sekitar 50 orang tapi sekarang sekitar 5 orang. Untuk intip harganya Rp 10.000 per plastik dan legondo Rp 1.000 per biji," papar Wiji pada detikcom.

Dalam sehari, sebut Wiji, kadang jika ramai bisa mendapatkan uang Rp 300.000. Pembelinya dari peziarah atau orang lewat.

"Yang beli orang ziarah dan yang lewat, kadang untuk oleh- oleh. Kalau sejarahnya dulu karena ada Ki Ageng, dulu Intip dan legondo dikirab," kata Wiji.

Juru kunci makam Ki Ageng Perwito, Sucipto mengatakan Legondo dan intip itu adalah makanan kecil kesukaan Ki Ageng. Tapi juga ada maknanya.

"Kesukaan Ki Ageng tapi juga ada perlambang nya. Intip itu bentuknya seperti payung artinya Ki Ageng itu mengayomi masyarakat dan Legondo itu asal katanya legane dada (leganya dada) sehingga saat menuntut ilmu kesini harus lega, iklhas," ucap Sucipto pada detikcom.

Kue Legondo dan intip GorengKue Legondo dan intip Goreng Foto: detikFood/Achmad Syauqi

Legondo sendiri, imbuh Sucipto, dibuat dari beras ketan yang maknanya keteke Ben tekan (hasrat biar sampai). Dibungkus dengan janur artinya dibekali iman pada nur illahi.

"Janur itu nur illahi, pasrah pada Allah. Diikat dengan tutus, bambu bilah sehingga kuat, maka tekadnya harus kuat," terang Sucipto.



Simak Video "Melihat Produksi Mie Lethek, Kuliner Khas Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(yms/odi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT