Legit Semerbak Wangi Selai Mawar Buatan Warga Bandungan

Angling Adhitya Purbaya - detikFood Senin, 11 Okt 2021 07:00 WIB
Selai Mawar Buatan Petani Mawar di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah Foto: detikFood/Angling Adhitya Purbaya
Jakarta -

Bunga mawar untuk dekorasi, kosmetik, sabun mandi, bahkan sesaji sudah sering didengar, tapi bagaimana dengan selai mawar? Keluarga petani mawar di Kabupaten Semarang membuatnya jadi selai.

Kawasan Bandungan, di Kabupaten Semarang dikenal akan hasil sayur mayur yang melimpah. Selaibn itu juga dikenal sebagai pemasok bunga potong, termasuk beragam bunga mawar. Khususnya mawar lokal yang harum aromanya. Namun kini mereka tak hanya menjual sebagai bunga potong atau tabur tetapi mengolahnya jadi selai.

Widi Artanti, warga Bandungan, Kabupaten Semarang ini dari keluarga yang memiliki kebun mawar sendiri. Ia sebelumnya merupakan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan memberikan penyuluhan ke petani dan nelayan. Kemudian Widi pulang kampung dengan niat membantu petani bunga di daerahnya.

"Ya idenya karena daerah kami terkenal dengan bunga mawar dan sangat laku hanya di waktu tertentu semisal Lebaran. Harganya juga kalau lagi laku itu sebakul bisa Rp 300 ribu, tapi pas demand sedikit bisa juga hanya Rp 10 ribu," kata Widi sambil membawa produk selai mawaranya di acara Apresiasi Kreasi Indonesia di Semarang, Rabu (6/10/2021).

Selai Mawar Buatan Petani Mawar di Kabupaten Semarang, Jawa TengahSelai Mawar Buatan Petani Mawar di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah Foto: detikFood/Angling Adhitya Purbaya

Maka Widi berpikir untuk membuat produk dari mawar yang tahan lama dan tidak harus menunggu musimnya laku. Ia melakukan riset dan bahkan bertanya dengan ahli dan mendapati mawar ternyata punya manfaat untuk dikonsumsi.

"Di China ternyata untuk obat dan kuliner. Khasiatnya kaya vitamin C dan kaya anti depresan dan oksidan. Sudah riset, komunikasi dengan ahli mawar yang ada di Inggris, Mawar jenis apa yang bagus dikonsumsi. Ternyata jenis ini banyak, berlimpah," jelasnya.

Produk yang diberi nama Tanros itu baru mulai dibuat bulan September 2020 lalu. Saat ini Widi baru memanfaatkan kadang milik keluarga di Dusun Karanglo, Desa kenteng, Kecamatan Bandungan, namun ia berharap bisa segera mengambil Mawar dari para petani di sekitarnya karena Bandungan memang dikenal penghasil bunga.

Selai Mawar Buatan Petani Mawar di Kabupaten Semarang, Jawa TengahSelai Mawar Buatan Petani Mawar di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah Foto: detikFood/Angling Adhitya Purbaya

"Pengenalan ke komunitas gaya hidup sehat dan teman-teman, nanti akan dikembangkan. Saat ini ke Jakarta, Bali, Medan. Nanti akan kenalkan lebih luas lagi," jelasnya.

Lalu, bagaimana rasanya? Pertama dari aroma masih tercium khas harum bunga mawar, kemudian tekstur memang tidak dibuat sehalus selai pada umumnya sehingga ada sensasi ketika mengicipnya, untuk rasanya yaitu campuran manis dan sepet samar-samar yang cukup enak dimakan langsung maupun dioles di roti.

"Lho, ternyata enak ya, saya dapat pas banyak manisnya. Saya baru tahu kalau Mawar bisa dikonsumsi bentuk selai," kata salah satu pengunjung stan Tanros, Khanza.

"Saat ini kita mengemas dalam kemasan 50 ml dengan harga Rp 22 ribu hingga paling besar Rp 98 ribu itu kemasan 330 ml," imbuh Widi.

Tanros menjadi salah satu peserta Apresiasi Kreasi Indonesia. Ia sangat antusias karena dalam acara itu bisa mendapatkan berbagai ilmu seperti soal keuangan bahkan mendapatkan link sesama rekan UMKM dari berbagai daerah.

"Ini sangat membantu. Harapannya bisa berkembang dan juga membantu petani Mawar di daerah saya," ujar Widi.



Simak Video "Pepes Bluluk, Cita Rasa Pepes Tak Biasa dari Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(yms/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com