Roti Bokong di Purbalingga Ini Jadi Simbol Perlawanan Kemapanan Sosial

Vandi Romadhon - detikFood Senin, 31 Mei 2021 10:30 WIB
Roti Bokong di Purbalingga Ini Jadi Simbol Perlawanan Kemapanan Sosial Foto: detikcom/Vandi Romadhon
Purbalingga -

Jika mampir ke Purbalingga jangan lupa mencicipi roti khas yang namanya cukup unik. Roti legit dari adonan tepung beras, kacang hijau dan gula Jawa ini dikenal dengan nama roti bokong.

Secara harfiah bokong dalam bahasa Indonesia artinya pantat. Barangkali penamaan itu berasal dari bentuknya yang mirip pantat. Sekilas terdengar jorok atau tak sopan namun jika sudah menggingit roti bokong bisa dipastikan kamu akan ketagihan.

Teksturnya yang kelihatan kering dari luar cukup menipu, pasalnya ketiga digigit akan terasa kenyal. Perpaduan kacang hijau dan gula jawa yang menjadi bahan isian roti seolah lumer di mulut. Kamu dapat dengan mudah mendapatkan roti bokong di toko-toko roti dan pusat oleh-oleh dengan kisaran harga 20 Ribu pupiah perbungkusnya di Purbalingga.

Roti Bokong di Purbalingga Ini Jadi Simbol Perlawanan Kemapanan SosialRoti Bokong di Purbalingga Ini Jadi Simbol Perlawanan Kemapanan Sosial Foto: detikcom/Vandi Romadhon

Roti bokong mirip nopia tapi jika nopia bentuknya bulat roti yang satu ini bentuknya menyerupai pantat. Mengenai asal penamaan makanan itu tidak banyak yang tahu. Nama itu bertahun-tahun dikenal dari mulut kemulut dan akhirnya menjadi populer.

"Soal nama itu pasti yang memberi nama adalah laki-laki, karena imajinasi paling kuat pada diri laki-laki adalah hal semacam itu," Kata Budayawan Purbalingga Agus Sukoco saat ditemui di tempatnya, Minggu (30/5/2021)

Agus menduga sejarah munculnya penamaan makanan itu berasal dari struktur masyarakat kelas bawah. Karena menurutnya masyarakat Jawa kelas atas atau disebut begawan dalam memberikan nama makanan biasanya mengandung pesan moral.

Roti Bokong di Purbalingga Ini Jadi Simbol Perlawanan Kemapanan SosialRoti Bokong di Purbalingga Ini Jadi Simbol Perlawanan Kemapanan Sosial Foto: detikcom/Vandi Romadhon

"Kalau nama makanan di Jawa yang lahir dari kaum begawan ada pesan yang disembunyikan, misal takir akronim dari nata pikir (membangun pemikiran), Kupat akronim dari ngaku lepat (mengaku bersalah),' ungkap Agus.

Agus mengaitkan penamaan makanan itu dengan psikologis masyarakat. Menurutnya bisa jadi penamaan makanan yang aneh dan jorok berangkat dari naluri melawan. Menurutnya hal itu merupakan pemberontakan kultural dan pelampiasan psikologis kepada kemapanan.

"Insting pemberontakan kepada kondisi sosial yang timpang dan berbagai fenomena perilaku hipokrit , Jadi pola dan jenis ekspresinya cenderung vulgar," pungkasnya.

Roti simbol perlawanan sosial ini nyatanya enak, empuk dan legit sehingga jadi populer dan disukai banyak orang. Kalau ke Purbalingga pastikan mencicipi dan membawa oleh-oleh roti bokong ini. Harganya terjangkau, rasanya manis enak.



Simak Video "Cara Unik Penjual Soto di Boyolali Ingatkan Aturan Makan 20 Menit"
[Gambas:Video 20detik]
(raf/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com