Chef Haryo Hijrah: Dari Cuci Piring hingga Jadi Chef Sukses di Amerika

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Jumat, 17 Apr 2020 15:00 WIB
Chef Haryo Foto: Instagram @chefharyo
Jakarta -

Chef Haryo Pramoe memiliki perjalanan karir yang panjang. Ia telah mencicipi asam garam kehidupan sebagai chef di Belanda, Colorado hingga Kanada sebelum chef Haryo hijrah karena panggilan hati.

Sosok chef Haryo tentu tak asing di mata pencinta acara masak tahun 2000-an. Ia adalah pembawa acara 'Harmoni Alam' di Trans TV yang hadir dengan konsep unik. Chef Haryo bukan masak di studio atau dapur profesional, melainkan di gua, hutan, sampai bawah tanah.

Jauh sebelum menikmati kepopuleran di Indonesia, chef Haryo memiliki perjalanan karir yang panjang dan menarik. Diawali dari kisahnya yang nekat magang demi mencari biaya kuliah di Akademi Pariwisata Universitas Trisakti.

Chef HaryoChef Haryo Foto: Instagram @chefharyo

"Saya bekerja sebagai busser, asisten dari pelayan restoran. Kerjaannya bersihin muntah orang kalau weekend, orang mabok saya bersihkan muntahannya. Saya juga membereskan piring sampai membantu teknik order makanan," ungkap chef ramah ini pada detikFood (16/4). Hal ini berlangsung selama 1 tahun di sekitar tahun 1997.

Pengembaraan chef Haryo berlanjut ketika ia berhasil dapat beasiswa ke Amsterdam, Belanda tahun 1999. Ia menuturkan, "Saya magang di Selected Indonesian Restaurant. Bekerja paruh waktu, saya bekerja dan saya juga sekolah di Leeuwarden." Ketika di Belanda pula, chef Haryo mengenal kebebasan dan kesenangan duniawi.

"Kita mau lihat wisata seks, minuman keras, ganja, perdagangan manusia, itu hal yang biasa di sana. Kehidupan di Belanda itu 'Study hard, party hard'," katanya. Namun ia tidak begitu larut dalam kebebasan yang diceritakan. "Disela-sela party saya tidak ikut gila-gilaan pesta, justru saya masak," tambahnya. Dari masak itu, ia berhasil mengumpulkan uang untuk beli sepeda sebagai kendaraan ke kampus.

Chef HaryoChef Haryo Foto: Instagram @chefharyo

Baca Juga: Sebelum Hijrah, Ini Momen Chef Haryo Pramoe saat Masak di Alam Terbuka

Chef Haryo lantas bekerja di restoran Indonesia bergengsi di Amsterdam, Indrapura. "Salah satu restoran terbaik di Belanda. Yang pernah makan ada Celine Dion, Spice Girls, Mick Jagger, dan banyak artis Hollywood lain. Restorannya luar biasa bergengsi," katanya.

Lebih membanggakan, chef Haryo mengukir prestasi di sana. "Saya mendapat penghargaan karena membuat resep Lautan Cinta," jelasnya. Resep itu berupa salad dengan kuah mpek-mpek lalu di atasnya seafood. Tak hanya itu, ia juga membuat es krim rasa mawar, bawang putih, dan sereh yang jadi pembicaraan hangat di Belanda saat itu.

Sampai akhirnya chef Haryo menjadi Assistant Executive Chef di El Nino Tapas Restaurant. Ia menunjukkan jati dirinya sebagai orang Indonesia saat bekerja di sini. Chef Haryo mengatakan, "Resep Spanyol saya belokkan ke Indonesia. Jadi misalnya sate, saya beri nama bahasa Spanyol. Saya nakal dan kreatif membuat resep baru. Tapi itu jadi favorit karena restoran Spanyol tapi punya sentuhan rempah Asia."

Belum puas di Belanda, chef Haryo mencari beasiswa lagi ke Amerika Serikat. "Tahun 2000-2001, saya mendarat di Naples Florida. Saya mengambil program managing development di hotel di sana," lanjutnya. Ia mengenang pencapaiannya saat bekerja di Hyatt Hotel di Downtown Denver Colorado.

iga bakariga bakar Foto: Istimewa

Chef Haryo bercerita, "Saya memecahkan penjualan buffet terbaik dengan iga. Saya membuat iga bakar yang enak sampai membuat general manager hotel turun dari kantornya karena sangat kaget melihat penjualan restoran meningkat." Di Amerika pula chef Haryo mengakui hidup gaya kebarat-baratan di sana.

"Saya digaji besar di sana. Saya bisa hidup seperti orang Amerika, punya apartemen, bisa beli motor Harley Davidson. Tapi saya tidak pernah salat di sana, tidak pernah membawa agama, terlalu banyak bersenang-senang di sana. Dunia saya dapet, saya hidup kebarat-baratan pada waktu itu," tambahnya.

Ia juga pernah bekerja sebagai chef di hotel Marriott dan Best Western Hotel. Perjalanan karirnya tak selalu mulus, ia sempat difitnah hingga dipecat dari pekerjaannya. Namun Chef Haryo tak putus asa. Ia mencoba profesi lain, diantaranya merawat orang gila sampai pasien alzheimer.

Peristiwa 9/11 tahun 2001 membuatnya pindah dari Amerika Serikat karena saat itu Muslim dianggap berbahaya. Ia memilih ke Kanada. "Saya meminta suaka politik dengan membawa setumpuk ijazah dan prestasi dari sekolah Belanda dan pekerjaan dari Amerika Serikat. Saya dianggap overqualified, sehingga di perbatasan Michigan sampai Kanada, saya dapat 3 izin. Izin tinggal, sekolah, dan bekerja," ujarnya.

Chef HaryoChef Haryo Foto: Instagram @chefharyo

Di Kanada chef Haryo sempat bekerja sebagai tukang las sampai chef di restoran. Meski sudah hidup nyaman di sana, chef Haryo tidak ingin pindah warga negara. Ia mengikuti panggilan hatinya pulang ke Indonesia.

"Saya tidak mau cium bendera Kanada karena saya merasa kalau saya pindah warga negara, saya mengkhianati kakek moyang saya yang seorang pejuang yaitu Insinyur Soemanang. Beliau adalah pendiri Kantor Berita Antara. Nasionalis dia tinggi dan membela negara lewat tulisan pers-nya. Bagaimana mungkin punya seorang kakek nasionalis, tapi cucunya pindah warga negara? Itu yang membuat saya pulang akhirnya," ujarnya.

Barulah ia memulai karir sebagai pembawa acara masak di televisi sekitar tahun 2005. Chef Haryo lekat sebagai sosok chef yang gaya masaknya serampangan, mengandalkan pisau, api dan alam, namun memiliki masakan yang enak.

Hanya saja kini chef Haryo sudah tidak aktif di televisi. Ia lebih memilih mendalami agama, bisa disebut hijrah, untuk mengisi kekosongan kalbunya selama ini. Ia juga memiliki usaha kuliner dan gerakan berbagi dengan konsep membantu orang yang membutuhkan.

Baca Juga: 5 Restoran Milik Celebrity Chef Indonesia, Sudah Pernah Coba?



Simak Video "Percaya Nggak, Nasi Bungkus Ini Cuma Rp 1.000 Saja Lho!"
[Gambas:Video 20detik]
(adr/odi)