Nostalgia Nyate 'Amigos'

- detikFood Rabu, 25 Agu 2010 12:05 WIB
Jakarta - Makan sate kambing dan gule di tempat ini memang penuh nostalgia. Tempatnya jauh dari nyaman, bahkan harus siap kesenggol dan disenggol. Tapi empuknya daging kambing dan aroma wangi sate dibakar menjadi sensasi yang luar biasa. Nyam.. nyam.. uenak tenan!

Buat penghuni lama Jakarta atau penduduk asli yang lahir dan besar di kawasan Menteng, sate kambing Jaya Agung yang dikenal dengan sebutan 'perempatan Sabang' ini sudah tak asing lagi. Konon sate ini sudah ada sejak tahun 70-an. Lokasinya memang di pingiran alias 'amigos' (agak minggir got sedikit). Padahal memang dulu di dekatnya ada resto Amigos.

Yang jelas di masa 80-an setiap jalan-jalan ke Sarinah Department Store yang ada di seberang warung ini, selalu saya mampir ke tempat ini. Ciri khas yang sampai kini tak hilang adalah kepulan asap sate kambing yang dibakar menguar bebas di udara. Tentu saja siapapun yang lewat pasti tergoda harum wangi bau sate kambing.

Maklum saja bakaran sate warung yang menempel di pojokan tembok tak jauh dari Djakarta Theatre ini terletak di luar warung. Itulah gaya Haji Jali Saputro pemilik warung ini. Kalau dulu hanya sebatas tembok saja, kini tempelan tenda memanjang membuat warung ini jadi tampak lebar.

Persisnya emperan warung ada di atas trotoar yang tak seberapa lebar. Jadi, jika kebetulan dapat tempat di emperan ini maka bersiaplah tersenggol pejalan kaki. Sementara itu suara bajaj dan asap knalpot kendaraan bakal ikut mencampuri aroma sate kambing yang dipesan.

Selain itu grup pengamen bakal menjadi 'live music' pengiring Anda menyantap sate kambing. Malam itu setelah sekian tahun absen mampir ke warung ini, saya kembali menguji rasa sate kambing pak Jali ini. Di meja bagian dalam yang tak berapa luas seluruh bagian pinggirnya ditumpuk kerupuk udang dan emping goreng dalam plastik.

Agaknya konsep pak Jali tak mau membiarkan pengunjung menunggu lama masih dipegang teguh. Pesanan seporsi sate kambing dan gule kambingpun dalam hitungan beberapa menit langsung siap tersaji. Para pelayan pun gesit melayani tamu. Di bagian belakang pesanan soto dan gule pun diracik dengan sigap.

Kuah gule kambingnya kecokelatan bening tanpa santan. Khas gule Jawa alias Solo. Aroma wangi bumbu gule menusuk hidung dan tebaran bawang merah gorengpun membuat gule ini makin menggiurkan. Isinya potongan tulang iga dengan sedikit daging dan bagian tulang lainnya.

Slruupp... sekali hirup terasa hangat gurih dan wangi menyatu di tenggorokan. Sayang sekali tidak semua potongan daging yang menempel di tulang rasanya empuk alias gampang dikunyah. Ada yang empuk dan ada yang liat. Ini mungkin karena proses memasak yang kurang cukup. Hmm... sayang sekali, padahal kuahnya enak!

Sate kambing disajikan dalam lumuran sambal kacang yang digerus halus dan kucuran kecap manis, irisan cabai rawit dan tomat. Dagingnya cukup empuk dengan semburat aroma bawang dan ketumbar yang wangi. Meskipun tak terlalu tajam tetapi bumbunya cukup pas.

Harga sate kambing pak Jali ternyata menyesuaikan dengan lokasi, per porsi Rp. 30.000,00 dan gule kambing Rp. 14.000,00. Sekali sekali jika ingin bernostalgia, boleh juga mampir ke warung sate ini. Yang jelas tidak bisa duduk berlama-lama di warung ini. Kepulan asap sate yang lumayan lekat bakal bertiup terus dan pengunjung yang kadang berdesakan menanti meja kosong pasti membuat Anda tak nyaman!

Sate Kambing Jaya Agung H. Jali Saputro
Jln. Wahid Hasyim No 56 C Jakarta Pusat
Telp. 021-3918852



(dev/gst)
Load Komentar ...