Melepas Kangen Hidangan Melayu

Melepas Kangen Hidangan Melayu

- detikFood
Rabu, 20 Sep 2006 10:33 WIB
Jakarta - Ikan salai yang digulai membuat kami tak bisa berhenti makan. Renyah diselimuti aroma gurih santan dan wangi asap ikan. Sementara tumis daun pakis mudanya, renyah, segar, dan disajikan fresh from the wajan. Kamipun tak mampu menahan diri untuk makan banyak siang itu.Ya, sudah lama sekali kami ingin makan nikmat. Berhubung salah seorang teman kami berasal dari Sumatera Utara dan lama tak pulang kampung maka pilihan kamipun jatuh pada hidangan khas Melayu. Tak ada tujuan lain kecuali melepas rindu dendam makanan daerah. Kamipun menuju ke resto Sri Melayu yang ada di kawasan Jakarta Selatan. Saking takutnya kami tak kebagian gulai daun ubi tumbuk dan ikan salai, di tengah jalan kamipun menelpon untuk memastikan persediaan menu tersebut. Padahal jarum jam baru menunjukkan pukul 12 siang!Kamipun disambut ramah oleh para pelayan wanita yang berbaju dan berkerudung merah. Tak ada lemari kaca dengan aneka lauk yang ditata rapi layaknya resto Padang. Kalau di resto Minang para uda, siap dengan beragam piring di tangan maka kami cukup menunggu beberapa saat untuk menanti hidangan digelar di meja makan. Ada ayam bakar, gulai otak, gulai iga sapi, udang cabai hijau, terung balado, daun ubi tumbuk, buntut balado, gulai ikan salai, dan balado ikan salai. Seperti hidangan Sumatera umumnya yang membawa pengaruh kuat kuliner India maka hidangan Melayu pun masih membawa aneka rempah sebagai ciri utamanya. Sekilas penampilannya pun tak jauh berbeda dengan hidangan Sumatera Barat.Sajian khas Melayu yang kami serbu pertama adalah ikan sale atau ikan salai yang disajikan dalam bentuk gulai dan balado. Ikan sale ini merupakan ikan lele yang dibelah dua dan diasap hingga warnanya cokelat dan kering. Di daerah asalnya ikan sale dibuat dari ikan baung. Ikan sale ini didatangkan langsung dari Medan, Pekan Baru dan Riau. Meskipin direndam kuah gulai, rasa renyah 'krenyes-krenyes' daging ikannya masih terasa, nyaris seperti kerupuk, tanpa aroma anyir sama sekali. Kuah gulainya tidak sekental gulai Minang, lebih ringan, dengan aroma rempah yang lebih 'jinak', tidak nonjok. Demikian juga dengan bumbu balado, tidak menyisakan genangan minyak seperti balado Minang tetapi lebih kering dan tidak terlalu pedas. Hasilnya, kedua sajian ikan sale itupun licin tandas tanpa bekas! Soal gulai, memang ada varian gulai kuning dan merah seperti hidangan Minang tetapi dengan gradasi yang lebih ringan. Gulai daun ubi tumbuk merupakan hidangan Malayu yang unik. Daun singkong muda ditumbuk halus diberi kuah santan dengan kecombrang atau honje sebagai ciri khasnya. Daunnya tetap hijau cantik dengan aroma harum kecombrang, wangi segar mirip serai. Balado terung yang persis seperti hidangan Minang cukup mengejutkan kami. Terung ungu yang dibelah dua, sama sekali tidak 'lonyot', bagian luarnya layu tetapi bagian dalamnya empuk dan juicy sementara baladonya nyaris tak berminyak. Bumbu balado yang sama kami dapatkan pada buntut sapi yang digoreng empuk. Demikian juga saat kami cicip udang cabai hijau, udang goreng tanpa kepala rasanya gurih, dengan kulit yang melekat kuat sebagai tanda udang masih segar. Sambal cabai hijaunya, meskipun menantang warnanya, rasanya tidak terlalu pedas menggigit dan tanpa minyak berlebih. Tak heran jika kami tak merasakan jejak gurih berlebihan atau eneg karena santan dan minyak. Padahal semua yang tersaji di meja nyaris habis.Sebelum menuntaskan nasi hangat di piring, kamipun mencicipi cumi tumis tauco. Satu hidangan unik yang ada dalam koleksi hidangan Melayu. Teknik tumis dan bumbu tauco (yang didatangkan dari Medan) merupakan jejak kuliner Cina yang juga membawa pengaruh dalam kuliner Melayu. Bumbu bawang merah, bawang putih dan cabai terasa sangat ringan dan daging cuminya juga empuk. Tumisan lain yang kami pesan terakhir adalah tumis daun pakis. Meskipun disjaikan dalam porsi yang menurut kami kecil tapi pakis ini bias jadi pengobat rindu. Daun pakis muda (benar-benar muda tanpa ada potong batang pakis yang keras) ditumis dnegan bawang merah, bawang putih dan cabai. Teknik tumisnya pasti dengan api besar karena warnanya hijau cantik dengan rasa daun yang 'kres-kres' segar dan renyah! Tumis daun pakis inipun tak bersisa di piring. Sebagai penutup, kami memesan jus terong Belanda yang merupakan buah khas dari Medan, jus Martabe, campuran buah markisa dan terong Belanda, serta Juice Mix Sri Melayu, campuran dari jus alpukat, jambu, sirsak dan mangga. Rasa manis, sedikit asam dan segar memang pas untuk membilas rasa gurih pedas di lidah. Ternyata kami memang makan agak luar biasa siang itu. Mungkin ini akibat rindu dendam tak tertahan dengan hidangan daerah asal yang nikmat tak terkira!Untuk harga, tidak jauh berbeda dengan jenis resto Minang pada umumnya. Nasi putih hanya Rp. 4.000,00, satu porsi buntut balado & jenis ikan sale bumbu gulai maupun balado hanya Rp. 17.000,00 berisi 4 belah potong ikan. Jenis ayam aneka macam bumbu (bakar/gulai/goreng) Rp. 10.500,00 per-potongnya. Gulai kari iga, gulai otak, terong balado, tumis taoco dan udang cabai hijau berkisar Rp. 8.000,00 - Rp. 13.500,00. Untuk jenis hidnagan sayuran berkisar Rp.6.500,00 - Rp. 13.000,00. Sedangkan aneka minuman dimulai dari harga Rp 3.000,00 hingga Rp. 13.5000,00.Nak coba sajian Melayu sebenarnya? Tak payahlah, mampir saja di Sri melayu Resto!Sri Melayu RestoJl. KH. Ahmad Dahlan No. 21Kebayoran Baru, Jakarta SelatanTelp/Fax : (021) 722 1216 (ely/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads