Warung Kopi Ake: Menembus Lorong Waktu Lewat Secangkir Kopi

- detikFood Senin, 10 Mar 2014 15:37 WIB
Foto: Detikfood
Jakarta - Singgah ke Tanjung Pandan, tak lengkap jika tak mampir ke warung kopi tertua di Belitung ini. Denting gelas dan cangkir mengiringi hembusan aroma wangi kopi yang sedang diseduh. Kesegaran tercecap di setiap hirupan air kopinya,. Sluurp!

Hampir setiap orang di Belitung tahu akan warung kopi Ake. Maklum saja warung ini sudah ada sejak tahun 1922. Selain lokasinya masih sama, sajian kopinya nyaris tak berubah. Gaya menyeduh kopinya juga tak berubah.

Warung kopi legendaris ini awalnya dikelola oleh Abok. Kemudian diwariskan kepada anaknya Akiong. Putra Akiong bernama Ake yang kini sudah separuh baya usianya melanjutkan usaha warung kopi ini.

Lokasi warung yang ada di kawasan kafe Senang,Tanjung Pandan, Belitung Barat tak pernah sepi. Kompleks ini awalnya tempat para pekerja tambang timah melepas lelah. Kemudian di zaman Belanda menjadi tempat orang-orang Belanda dan orang kaya China berkumpul menikmati kopi.

Memasuki warung kopi legendaris ini seakan tertarik ke masa kolonial Belanda. Aroma wangi segar kopi yang diseduh tercium tajam sejak ada di bagian luar warung. Kursi-kursi kayu segi empat, meja bersegi enam dan bundar ditata memenuhi warung yang tak berapa besar. Ake tampak sibuk meracik kopi.

Ceret tinggi bermulut runcing, berbahan tembaga dijerang di atas api arang yang terus menyala. Sementara deretan gelas-gelas kaca ukuran sedang tak henti dituangi kopi. Seperti warung kopi tradisional, menu yang tersedia tak banyak. Kopi hitam, kopi susu, teh, teh susu, teh telur, teh telur susu, dan susu. Semuanya bisa disajikan dingin-panas.

Tak seperti kopi biasa yang diseduh langsung di dalam cangkir atau gelas, kopi di warung ini diseduh dengan cara seperti warung kopi Aceh. Konon asalnya dari cara orang Hokkian menyeduh kopi. Bubuk kopi dimasukkan ke dalam saringan panjang seperti kaos kaki yang ditaruh dalam ceret tinggi.

Selanjutnya air panas dituangkan ke dalam kopi. Air kopi yang tersaring kemudian dipakai untuk menyiram kopi bubuk yang ada dalam kaos kaki dan ditampung dalam ceret berbeda. Dikerjakan beberapa kali. Proses 'menarik' air kopi dari saringan ini membuat aroma kopi makin semerbak.

Tak kalah pentingnya biji kopi yang sejak dulu dipakai buat meracik air kopi. Menurut Ake, biji kopinya merupakan biji kopi dari Lampung cap Elang Emas yang disangrai di Tanjung Pandan. Benar saja, karena Belitung tak punya pegunungan yang cocok untuk bertanam kopi.

Kepiawaian Ake meracik kopi ini kami buktikan saat segelas kopi susu hangat (Rp. 5.000) tersaji mengepul. Semerbak wangi kopi ini terhirup segar. Tak salah kami memesan dengan susu. Karena jenis biji kopi robusta dari Lampung ini terasa pahit pekat. Agak tersamar dengan lembut gurihnya susu. Sesekali tercecap jejak asam robusta di ujung lidah.

Kenikmatan tiap hirupan kopi ini kami sempurnakan dengan 2 butir telur ayam kampung setengah matang (Rp. 10.000). Lembek kuning telur rebusnya makin enak dengan percikan rasa pedas lada. Akhirnya hirupan terakhir kopi mengakhiri sarapan yang nikmat ini.

Tak banyak warung kopi tradisional bisa bertahan di tengah gempuran gerai kopi berjaringan internasional. Padahal kopi single origin di warung Ake ini nikmatnya tak tertandingi. ''Ini sudah diwariskan sampai ke saya generasi ketiga, nanti anak saya yang akan melanjutkan,' kata Ake sambil meracik kopi di warungnya,


Warung Kopi Ake
Kawasan Kafe Senang, Tanjung Pandan
Belitung
Buka: jam 05.30 – 18.30
Telpon: 0719-21462.

(dni/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com