'Bebek Garong khas Surabaya'. Wah, ini plesetan atau benar-benar ingin memberi nama yang unik ya? Demikian saya menebak nebak saat memasuki warung makan yang ditata dengan interior bambu sederhana. 'Garong' sendiri berarti 'rampok' dalam bahasa Jawa. Apa ini plesetan dari 'goreng' ya?
Sayapun jadi senyum-senyum saat melihat gambar kartun bebek yang bertopi baja, membawa sendok garpu sambil meringis. Lha kok mirip Ugly Duckling yang lagi ngamuk! Gambar ini menghiasi spanduk yang sudah agak kusam plus daftar menu yang sederhana
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak mau repot sayapun memilih nasi cobek bebek sambal pecak, meskipun minus tempe karena sudah habis. Menurut si pelayan, kalau 'sambal doang', sambalnya tanpa terasi dan kalau 'sambal pecak' sambalnya pakai terasi.
Cobek oval berukuran sedang dengan sambal plus taburan daun kemangi, mendarat pertama di meja. Wah, sungguh menantang, merah menyala dengan aroma segar cabai yang menonjok hidung. Berikutnya, nasi, bebek goreng, sayur asam, plus 3 jenis sambal dalam mangkuk mungil. Sambal cabai hijau, sambal mangga muda dan sambal cabai goreng. Benar-benar menggiurkan!
Kepungan 4 jenis sambal yang merangsang langsung memancing saya untuk segera 'membedah' si bebek goreng. Ukuran bebeknya agak besar, malah saya menduga jangan-jangan ini si mentok bukan bebek sawah biasa. Bagian luarnya garing kecokelatan dan kulit di bagian sayap nyaris rontok sehingga terlihat tulang sayap si bebek.
Suapan pertama bagian luar daging bebek terasa gurih renyah ada jejak bawang putih, ketumbar dan jahe yang kuat. Saat menggigit bagian dalam daging yang empuk lembut saya agak kaget. Bukan karena dagingnya yang lembut tanpa aroma anyir bebek sama sekali tetapi rasa dagingnya yang bersemburat manis! Begor gaya Suroboyo biasanya cenderung asin atau gurih. Lha, kok begor si Garong ini luarnya krenyes-krenyes asin, bagian dalamnya agak manis. Tapi justru perpaduan ini membuat rasanya benar-benar top!
Cocolan 4 jenis sambal bergantian memberi efek dahsyat. Butiran keringat langsung berlelehan. Terutama sambal cobek yang sangat segar dan menggigit. Lalap daun kol dan kemangi menuntaskan santapan begor ini. Sayur asam yang jadi pelengkap juga tampil sempurna. Berisi jagung manis, nangka muda dan kacang panjang. Kuahnya keruh kemerahan. Hirupan pertama langsung terasa bumbu kemiri dan cabai yang royal sehingga rasa sayur asam ini benar-benar asam segar plus gurih!
Sambil mengusap keringat berlelehan akibat 'dirampok' sambal begor, saya pun meredakan tenggorokan dengan segelas es jeruk. Untuk sebuah kenikmatan yang mengenyangkan itu, harganya tidak mahal. Bebek goreng utuh Rp. 55.000 dan per potong Rp. 15.000, Nasi bebek 'sambal doang' atau 'sambal pecak' harganya Rp. 22.000 saja.
Waktu membayar bon, di meja kasir dan di dinding warung ini terpampang foto mas Bondan Winarno waktu shooting 'Wisata Kuliner' di Bebek Garong. Wah, kali ini saya keduluan mas Bondan!
Bebek Garong
Jl. Raya Serpong No.23
Serpong, Tangerang
Telpon: 021-5398129
Jam Buka : 11.00 – 22.00 WIB (dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN