Menyebut nama 'kaiseki' memang tak bisa lepas dari negeri sakura. Kaiseki alias 'batu panas' ini ada sejak abah 16 untuk merujuk pada sebutir batu panas yang dibungkus handuk dan ditaruh dalam ikat pinggang kimono pendeta Zen agar perut tak terasa lapar. Kemudian istilah ini berkembang menjadi 'kaiseki ryori', hidangan sayuran yang disajikan setelah upacara minum teh (chanoyu).
Kini kaseki ryori ditujukan pada aneka hidangan pilihan yang dipilih dengan cermat, ditata dengan cantik dan disajikan dalam sajian ala carte dalam satu jamuan yang jumlahnya dari 6-9 jenis. Yang menarik dalam manata kaiseki, selalu sesuai unsur musim sehingga tatanan kaiseki saat musim semi akan lebih cerah dan berwarna sedangkan di musim gugur lebih sederhana. Namun, pilihan bahan-bahan, potongan dan teknik mengolahnya tetap menjadi unsur utama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itulah sebabnya saat mendengar di Sumire Japanese Restaurant yang berlokasi di lantai 2 Hotel Grand Hyatt Jakarta menawarkan promosi Kaiseki, kamipun tak menyia-nyiakan kesempatan. Suasana hangat langsung menyambut kami saat memasuki ruangan yang ditata dengan gaya tradisional Jepang.
Warna cokelat, hitam dan abu-abu dengan sentuhan bambu memberi aksen kental suasana Jepang. Hm...aroma harum bawang putih dan shoyu yang beradu tercium dari panggangan sudut teppanyaki. Diiringi dentingan suara sendok pengaduk yang dipegang oleh sang koki. Resto yang ada sejak belasan tahun silam ini tetap dipadati penggemar masakan Jepang. Nyaris tak ada yang berubah!
Hanya satu yang sedikit berbeda siang itu, chef Shozo Yoshioka dari resto Nampu, Grand Hyatt Bali menjadi chef tamu istimewa. Kaisekizen, merupakan sajian kaiseki yang dipilih dan ditata cermat oleh sang chef. 'Jika biasanya kaiseki dihadirkan dalam ala carte, maka saya mencoba menyajikan dalam bentuk satu set yang lengkap,' demikian penjelasan sang chef. Kira-kira seperti apa ya sajian kaiseki dalam bentuk set? Terus terang kami agak takut kalau-kalau porsinya jadi akan besar dan banyak...
Setelah menunggu beberapa menit sambil menikmati ocha hangat, satu baki yang berukuran cukup besar pun dihadirkan di hadapan kami. Di sebelah kanan terdapat satu mangkuk sashimi ikan tuna, kakap dan udang yang diberi sentuhan irisna lemon dan sekuntum mungil bunga seruni. Di bawahnya, semangkuk miso sup berisi irisan jamur shitake, telur dadar dan daun bawang. Di bagian tengah, ada tempura lengkap, agemono (hidangan rebus), dan salad kerang putih. Di sisi kiri ada irisan unagi dan semangkuk nasi putih dengan taburan teri Jepang. Sebuah sajian yang bukan hanya lengkap tetapi juga cantik dan cukup besar porsinya.
Aroma harum miso tercium saat mangkuk sup kami buka, miso kuning berkualitas membuat rasa sup tak terlalu asin, wakame, irisan shiatke segar dan sedikit irian telur dadar justru memberi tektur renyah segar yang sangat pas. Demikian juga dengan kerang putih yang diaduk dengan mayones dan diberi irisan sayuran, disajikan dalam porsi sangat mungil. Rasanya segar dan gurih. Keduanya sangat pas sebagai perangsang selera.
Irisan sashimi tuna juga terasa sangat segar apalagi saat dicelup shoyu dengan sedikit wasabi. Aneka tempura (udang, ikan, terung dan daun) disajikan dalam keranjang mungil beralas kertas. Terus terang kami terbuai dengan tekstur renyah tempura plus sausnya yang sangat bening. Saat saus diaduk dengan lobak dan jahe, terasa makin segar!
Tak jauh berbeda dengan irisan unagi (belut panggang) yang ditata cantik di atas tumpukan irisan telur dadar. Renyah, gurih dengan saus yang merata dan tak berlebihan gurihnya. Buat kami porsi Kaisekizen, racikan chef Yoshioka ini terasa agak besar sehingga tak mampu kami habiskan, meskipun semuanya disajikan dalam porsi kecil. Akhirnya kami masih menyisihkan sedikit ruang di perut untuk irisan aneka buah segar yang ditata cantik sebagai sajian penutup.
Kami mengagumi keahlian sang chef memadukan bukan hanya rasa tetapi juga warna. Tatanan yang cantik dalam warna-warna menarik membuat mata dimanja sekaligus ditantang. Demikian pula dengan beragam tekstur bahan makanan yang dipilih, membuat lidah tak henti mengalami 'kejutan'. Itulah esensi sebuah sajian kaiseki yang memuaskan hati. Belum lagi nilai nutrisi yang menjadi pertimbangan dalam menyusun kaiseki. Hampir semua unsur zat gizi terpenuhi dalam kaizekizen ini. Diolah tanpa lemak berlebihan dan dilengkapi dengan bahan-bahan tersegar. Kalaupun dimakan habis rasanya juga tak akan memberi kelebihan kalori!
Nah, jika hari Jum'at ini Anda ingin sedikit memanjakan diri dengan makan siang yang berbeda, kaisekizen ini bisa jadi pilihan yang tepat. Untuk santap malam sang chef juga menciptakan racikan kaisekizen yang berbeda. Tentunya sesuai dengan suasana malam yang lebih santai. Sudah siap memanjakan selera?
Sumire Japanese Restaurant
Hotel Grand Hyatt Jakarta
Jl.MH Thamrin
Jakarta Pusat
Telpon: 021-390-1234 Ext 3430
Jam buka : makan siang 12.00 -15.00; makan malam: 18.00 -23.00
Harga : Kaisekizan mulai Rp. 300.000,00 ++ (dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN