Jakarta - Acara jalan-jalan ini memang sarat info tentang wine. Bukan hanya sekedar melihat jajaran botol wine di rak tetapi mencermati tiap jenis wine dengan teliti. Wah, ternyata label wine memberi info komplet tentang wine, juga ada istilah yang perlu dipahami supaya nggaksalah beli wine. Serunya acara ditutup dengan wine tasting dari wine-wine pilihan!Karena tak terlalu sering mampir ke toko wine maka kami agak terkejut saat memasuki Vin +, sebuah wine shop yang berlokasi di Jl. Kemang Raya. Ternyata koleksi wine yang ditawarkan toko ini cukup lengkap. Bukan hanya jenisnya tetapi juga kualitasnya. Di toko inilah, komunitas Jalansutra, yang dipandu oleh Yohan Handoyo menggelar acara 'Bottle Exploration'. Yohan Handoyo, seorang pencinta, penikmat dan wine writer yang baru saja meluncurkan buku 'Rahasia Wine', mengajak kami dan 20 teman lainnya berkeliling ke rak-rak yang berisi beragam wine. Wine ditata berdasarkan negara asalnya. Rak pertama yang disinggahi adalah Australian Wine. 'Label wine Australia memuat asal daerah tanaman anggur yang dipakai, jenis anggur, dan tahun pembuatannya,' demikian jelas Yohan. Wine Peter Lehmann dari Barossa Valley dibahas detil oleh Yohan termasuk cerita tentang si Peter yang berasal dari Jerman. Jenis Red Label dan Yellow Label juga PL Riesling. 'Wine PL Riesling ini cocok dengan makanan Indonesia yang spicy.' tuturnya. Juga wine Stevano Lubiana dan Wolf Blass. Di rak Spirit, dijelaskan beragam spirit & liqueur termasuk cognac, XO, VSOP dan VS. Tur menjelajahi rak-rak berisi wine dari Prancis berlangsung agak lama karena jenis-jenis wine Prancis yang beragam demikian juga info yang tertera pada label lebih detil. Bukan hanya itu detil tiap jenis wine juga sangat beragam. Yang satu ini rasanya perlu sesi tersendiri untuk bisa memahami dengan baik dan benar. Di rak Sparkling Wine dan Champagne, Yohan menuturkan dengan rinci apa perbedaan champagne dan sparkling wine yang lain. 'Champagne harus berasal dari buah anggur yang ditanam di Champagne, Prancis dan diolah di sana.', jelas Yohan. Ya, aturan rumit perkara wine ini memang serumit aturan keju Prancis. Di rak wine Italia, Yohan pun menjelaskan soal wine dari daerah Asti; Muscato d`Asti (yang mungkin karena rasanya yang manis banyak digemari orang Indoensia, terutama kaum hawa). Eksplorasi terakhir, kami diajak singgah ke ruangan 'fine wine' yang khusus untuk menyimpan 'premium wine' alias wine yang berkualitas prima. Harga wine di ruangan mungil yang diatur kelembapannya ini paling murah Rp.400.000,00 per botol. 'Nah, inilah wine yang harganya selalu saja naik. Mungkin karena favorit presiden Bill Clinton.' tutur Yohan sambil memegang Meerlust 2003 Magnum Chardonnay. 'Mungkin karena "lust"nya,' komentarnya diiringi derail tawa peserta. Di dalam ruangan yang sempit dan dingin ini kami tak berani banyak bergerak karena harga wine yang dipajang di rak ada yang mencapai 21 juta rupiah per botol. Salah-salah senggol bisa bangkrut! Bagaimana ya memilih wine yang baik? 'Yang paling gampang, pegang merk saja,' jelas Yohan. Artinya, pilih wine yang punya merk terpercaya karena kualitasnya sehingga meskipun bukan dari produk kualitas teratasnya setidaknya masih punya kualitas bagus. Acara berlanjut ke Vin Lounge. Roberto Mendez dari bagian perdagangan dan turisme kedutaan besar Portugal sudah menanti dengan 6 botol wine di atas wine. Roberto memberi penjelasan singkat seputar wine Portugal. Dalam hitungan menit, penjelasan segera diikuti 'tasting'. Magrico Vinho Verde, white wine yang menebarkan aroma 'fruity' yang kuat ini setelah sampai di mulut meninggalkan jejak asam apel Granny Smith yang enak. Wine Catedral dari daerah Dao (daerah tertua kedua setelah daerah Douro), menjadi wine yang cukup digemari oleh peserta. Usai cicip-mencicip wine Portugal, kami pun mencicipi wine pilihan Yohan. Beringer Chenin Blanc 2005, white wine dari Napa Valley, California, Amerika. Rasa asamnya tak terlalu menggigit dengan aroma jeruk, sedikit jejak aroma peach, dan ada aroma madu yang agak manis. Sebagai penutup, kamipun berebut mencicipi Hollick Sparkling Merlot 2004 dari Coonawara, Australia Selatan. Sparkling merlot berbotol hitam kekar ini ternyata mempunyai rasa 'manis' yang unik. Aroma 'berry', apel Red Delicious bercampur sedikit aroma kayu manis yang segar sangat kuat tercium di antara buih-buih lembutnya. Seperti layaknya suasana pagi yang segar dan hangat. Rasa manis diikuti rasa asam yang lamat-lamat membuat wine ini jadi penutup yang sempurna. Benar juga kata Yohan kalau sore ini kami bakal mencicipi 'bloody delicious-mind blowing wine'. Nah, kalau Anda ingin memperkaya wawasan seputar wine, jangan segan untuk bergabung dengan kelas wine yang bakal digelar bulan depan!
(ely/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN