Sepulang kursus semalam perut saya menjerit minta diisi. Menyusuri jalan Wolter Monginsidi, Kebayoran Lama tiba-tiba mata saya terpaku oleh sebuah banner besar bertuliskan Saung Galah. Hmm..sudah lama saya ingin mampir ke tempat ini. Daripada bingung-bingung, mobilpun saya belokkan ke resto ini.
Suasana resto tampak tidak terlalu ramai, mungkin karena saya datang sudah melewati jam makan malam. Hanya ada beberapa pasangan yang tengah asyik menikmati makan malam mereka di sudut ruangan. Di bagian kanan terdapat meja panjang yang diatasnya berisi beragam masakan yang siap dipilih oleh pengunjung. Semuanya ditata di atas piring-piring besar dari tembikar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah melihat-lihat, saya memilih tumis bunga pepaya, oseng genjer, dan lele goreng balut tepung. Kalau pilihan yang terakhir ini saya penasaran dengan rasanya, apa yang membedakannya dengan lele goreng biasa. Setelah memilih menu, saya mencari tempat untuk duduk sambil menunggu makanan tadi di siapkan oleh para pelayan.
Sambil menunggu makanan disajikan, segelas lemon madu hangat saya pilih untuk menghangatkan tubuh karena cuaca malam itu terasa cukup dingin. Rasanya asam manis segar, membuat tenggorokan hingga perut hangat seketika. Alunan lagu-lagu tradisional sunda dan suara gemericik air di kolam memberi rasa sejuk.
Sebakul kecil nasi putih hangat, sepiring kecil tumis bunga pepaya, oseng genjer, dan juga lele goreng yang berlapis 'selimut' putih tersaji di piring sedang. Tumis bunga pepayanya renyah gurih tak terlalu terasa pahit. Ini dia yang saya suka, apalagi setelah disantap bersama dengan nasi putih hangat. Hmm..makin enak!
Oseng genjernya juga tak kalah enak rasanya. Krenyes..krenyes..renyah sedikit ada rasa pedas karena diberikan irisan cabai merah. Yang sedikit berbeda adalah lele gorengnya. Meskipun sudah digoreng, warnanya tak lantas berubah menjadi kuning kecokelatan seperti kebanyakan tepung untuk menggoreng.
Dugaan saya tepung yang melapisinya menggunakan tepung kanji. Lapisan tepungnya sudah diberi bumbu sebelumnya. Sehingga rasanya cukup gurih. Tapi sayangnya, melapisi lele dengan tepung ini justru membuat bumbu tidak meresap ke dalam daging ikan lelenya. Sedangkan saya lebih suka dengan daging ikan lele yang renyah garing dengan bumbu yang meresap hingga ke bagian dalam tubuh si ikan. Dengan cocolan sambal terasi yang segar menggigit, lele gorengpun jadi terasa lebih enak.
Tapi cukuplah makanan ini membuat perut saya terganjal. Tumis bunga pepaya dan oseng genjernya bahkan licin tak bersisa. Resto ini adalah salah satu alternatif resto keluarga yang bisa Anda kunjungi.
Saung Galah
Masakan Indonesia
Jl.Wolter Monginsidi No.77
Jakarta Selatan
Telp: 021-7221791
(eka/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN