Rusia Larang Impor Buah dan Sayuran dari Polandia sebagai Sanksi Perang

Rusia Larang Impor Buah dan Sayuran dari Polandia sebagai Sanksi Perang

- detikFood
Minggu, 03 Agu 2014 11:36 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Pemerintah Rusia telah melakukan larangan atas impor sayuran dan buah dari Polandia. Langkah ini dilakukan menyusul penemuan residu pestisida dan nitrat dalam jumlah banyak pada buah dan sayur impor tersebut.

Sebelumnya, Rusia dikenal sebagai salah satu pasar apel terbesar untuk Polandia. Lewat perdagangan tersebut, Polandia berhasil mengantongi $1,3 miliar atau sekitar Rp 15,3 triliun per tahunnya.

Seperti dilansir BBC (01/08), larangan dilakukan menyusul sangsi Uni Eropa terhadap Rusia melawan Ukraina. Polandia dan beberapa negara bekas penganut faham komunisme menuduh Moskow menyediakan senjata dan relawan untuk kelompok pemberontak separatis di Ukraina timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Janusz Piechocinski selaku Deputy Prime Minister Polandia biaya larangan impor Polandia akan menjadi 0,6% dari pendapatan per kapita pada akhir tahun ini. Pertanian menyumbang sekitar 3,8% pendapatan per kapita Polandia.

Petani di Polandia berencana untuk mencari kompensasi dari Uni Eropa untuk kerugian yang saat ini dihadapi. Masyarakat Polandia baru-baru ini mengunggah foto-foto apel di media sosial sebagai bentuk protes terhadap Rusia.

Pada hari Kamis (31/07/2014) Rusia mengumumkan larangan terhadap makanan Ukraina seperti produk kedelai, cornmeal, biji bunga matahari, dan jus buah. Sebelumnya Rusia melarang produk susu Ukraina, biji kalengan, sayuran, dan cokelat Roshen yang diproduksi presiden sekaligus pengusaha Petro Poroshenko.

Tak sebatas Ukraina, pihak Rusia juga melarang masuknya produk dari Georgia dan Moldova, negara bekas republik Soviet. Rusia adalah pasar ekspor penting untuk wine serta buah dari Georgia dan Moldova. Dalam setiap kasus, pihak berwajib menyatakan alasan pelarangan berkaitan dengan masalah kesehatan.

Pada bulan Januari, Rusia menolak impor binatang dan daging babi dari Uni Eropa. Komisi Eropa menyatakan langkah tersebut tidak seimbang karena menutup pasar yang bernilai 25% total ekspor babi Uni Eropa.

Uni Eropa telah mengeluhkan pelanggaran hukum oleh Rusia kepada World Trade Organization. Larangan dari Rusia dikatakan didasari oleh kasus demam babi Afrika di antara babi jantan pada perbatasan Uni Eropa dengan negara Belarusia.

(fit/rin)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads