Bubur Lolos, saat mendengar namanya pertama kali kepala saya langsung dipenuhi pertanyaan. Kenapa dinamakan lolos? Lantas kenapa dibungkus daun bukan ditaruh di wadah seperti mangkok kalau memang masuk dalam kategori bubur?
Ternyata, bubur lolos dinamakan demikian bukan tanpa alasan. Bubur lolos ini adalah salah satu menu yang kerp kali dijumpai di acara-acara tujuh bulanan bagi masyarakat Sunda. Mengapa? Karena bubur ini dianggap sebagai simbol agar proses melahirkan si Ibu nanti dimudahkan alias lolos atau lancar.
Tidak seperti bubur pada umumnya, bubur lolos ini cenderung mirip sekali dengan dodol Betawi kalau dilihat dari segi tekstur dan juga warna. Bubur lolos berbahan dasar tepung beras, tepung ketan, serta tepung kanji yang diaduk menjadi satu bersama dengan gula merah dan juga santan sehingga membentuk adonan yang kenyal.
Santan yang digunakan adalah santan kental, sehingga saat dimasak nanti mengeluarkan minyak sehingga tidak lengket saat dibungkus. Bubur ini dibungkus daun pisang yang salah satu sisinya tidak ditutup.
Sebelum dibungkus dengan daun pisang, adonan bubur lolos ini diberi topping blondo. Blondo adalah santan kental yang dimasak hingga hampir membentuk minyak. Tak heran jika rasa bubur ini jadi lebih gurih. Di daerah Jawa Barat, bubur lolos masih sering dijumpai kalau ada masyarakat yang mengadakan upacara nujuh bulan. Tapi jika Anda penasaran seperti apa rasanya, Anda bisa datang ke rumah makan Koko Bogana, di daerah Kebayoran Baru. Disini bubur lolos bisa Anda beli dengan harga Rp 5.000 saja. Terjangkau bukan?
(eka/Odi)