Antara Tengkleng dan Gudeg Ceker

Pemenang Santap Lezat Berhadiah X

Antara Tengkleng dan Gudeg Ceker

- detikFood
Rabu, 02 Jan 2008 15:59 WIB
Jakarta -

Nama: Hanny Gustiani
Email: hanny_gustiani@usa.com
Alamat: Jl. H. Naimun No. 69, Jakarta

Di akhir bulan Juli kemarin, saya mendapat kesempatan untuk berwisata kuliner ke Solo. Sungguh saat yang menyenangkan, karena terisi dengan rekan-rekan seperjalanan yang asyik dan makanan-makanan Solo yang lezat-lezat...

Tapi bagi saya pribadi, dari sebegitu banyaknya makanan khas Solo yang paling berkesan adalah tengkleng. Kami makan tengkleng yang dijual di dekat gerbang Pasar Klewer yang berada tidak jauh dari pendopo Kraton Kasunanan. Sebenarnya sudah disiapkan tempat untuk kami makan tengkleng tersebut, yaitu di sebuah pendopo kecil beberapa meter di belakang lokasi penjual tengkleng tersebut. Duduk lesehan sambil beralaskan tikar. Tapi beberapa dari kami (termasuk saya) agaknya tidak cukup sabar untuk duduk menunggu tengkleng diantarkan, jadilah kami kembali ke depan dan duduk berhimpit-himpitan di bangku panjang di dekat si penjual.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada 3 orang wanita paruh baya yang sibuk melayani pembeli yang cukup banyak di siang itu. Buat Anda yang tidak berani makan jeroan, mungkin Anda tidak akan suka melihat tengkleng ini. Tengkleng adalah tulang-tulang kambing dengan sedikit daging dan organ-organ kambing lainnya, seperti telinga, pipi, kandungan (saya belum mengerti dengan pasti bagian mana dari kambing yang dimaksud dengan kandungan ini), otak dan sebagainya. Potongan-potongan organ tersebut ditusuk menyerupai sate dengan ukuran lebih besar daripada sate biasanya, kecuali otak yang ternyata dibungkus kecil-kecil dengan daun pisang.

Tengkleng diletakkan dalam 3 panci besar dengan terendam sedikit kuahnya dan si penjual akan mengambil tengkleng pesanan kita langsung dengan memakai tangannya. Sendok besar hanya dipergunakan sewaktu si penjual mengambil kuah untuk dituang ke atas nasi kita. Kuah tengkleng berwarna kekuningan tapi tidak kental seperti layaknya gulai. Rasa tengkleng itu sendiri cukup segar karena tidak kental oleh santan, sangat cocok sekali dimakan di siang hari yang cukup terik itu, dan membuat saya ingin menambah porsi berikutnya. Porsi tengkleng sendiri tidak banyak, yaitu sedikit nasi putih hangat dalam pincuk daun pisang disertai oleh 3-4 tusuk jeroan plus sedikit kuah.

Saya kurang yakin dengan harga per porsi tengkleng ini karena kami tidak bayar sendiri, tapi kalau tidak salah harga per porsi nya cuma Rp. 5.000,00 saja. Hmm... cukup murah bukan? Banyak juga pembeli yang tidak makan di tempat itu, melainkan untuk dibawa pulang. Untuk yang dibawa pulang, beberapa tusuk tengkleng sesuai pesanan akan dibungkus dengan kertas beralas daun pisang dan dibungkus terpisah dari kuahnya yang dimasukan dalam kantong-kantong plastik. Sayangnya karena lokasi penjual tengkleng itu terbuka dan sempit terhimpit dengan beberapa penjual makanan dan minuman lainnya, membuat kita cepat berkeringat dan agak kurang nyaman berlama-lama di sana. Walaupun begitu, tengkleng ini tetap jadi juara. Kapan pun saya ke Solo lagi, sudah pasti saya akan mengunjungi penjual tengkleng ini.

Sewaktu di Solo, kami juga sempat makan gudeg Margoyudan yang sangat terkenal itu. Namanya Gudeg Ceker Bu Kasno, terletak di jalan Monginsidi di daerah Margoyudan. Buat saya, rasa gudegnya tidak terlalu istimewa. Gudeg pun hanya sedikit di dalam tiap porsinya, tidak sebanding dengan nasi putihnya. Tapi opor ceker ayamnya memang benar-benar lezat. Ukurannya lumayan besar, empuk dengan rasa yang gurih sekali.Β  Harga per porsi antara Rp 12.000,00 sampai Rp 15.000,00 dan kita mendapat teh hangat gratis.

Yang membuat gudek ini istimewa adalah sensasi melawan rasa ngantuk dan makan di waktu yang tidak biasanya. Bagaimana tidak? Gudeg ini buka setelah lewat tengah malam! Pada jam 01:00 pagi itu saja penjualnya masih bolak-balik mengangkuti dagangannya dari rumahnya yang letaknya tidak jauh dari lokasi tersebut menuju warung tempat berdagangnya. Sebelumnya saya tidak menduga, pada waktu lewat tengah malam itu sudah banyak sekali orang yang sudah duduk manis menunggu pesanannya sambil berbincang-bincang. Pembeli duduk lesehan diatas tikar yang sudah digelar di pinggir jalan itu, di depan pagar-pagar rumah orang. Sungguh sensasi yang tidak biasa!
(dev/Odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads