WHO Rekomendasikan Madu untuk Atasi Batuk pada Anak

- detikFood Rabu, 02 Jul 2014 09:47 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta -

Madu sejak lama dipercaya sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan batuk. World Health Organisation dan American Academy of Pediatrics-pun menyarankan madu untuk meredakan batuk. Namun, ada beberapa hal yang perlu dicermati.

"WHO merekomendasikan madu untuk mengatasi batuk di negara-negara berkembang yang memiliki akses terbatas terhadap obat-obatan. Jadi, meski buktinya tak kuat, tampaknya ada efek terhadap batuk akut pada anak-anak, ujar dr. Ronald McCoy dari Royal Australian College of General Practitioners.

Ia juga mengatakan bahwa ada beberapa riset yang menunjukkan bahwa konsumsi sesendok madu beberapa jam sekali dapat mengurangi iritasi di tenggorokan.

Sebuah studi di Amerika Serikat menemukan bahwa madu lebih baik dibandingkan tanpa pengobatan sama sekali atau dextromethorphan (bahan utama obat batuk bebas) rasa madu. Madu dapat mengurangi keparahan, frekuensi, dan gatal batuk.

Pada 2012, sebuah studi juga menunjukkan bahwa jenis madu apa saja lebih efektif mengatasi batuk anak di malam hari daripada plasebo. Namun, menurut dokter pernafasan dan tidur anak Profesor Anne Chang, efeknya terhadap orang dewasa belum diketahui karena penelitian selalu berfokus pada anak.

Bagaimanapun juga, selama orang dewasa tersebut tak harus menghindari madu karena memiliki penyakit lain seperti diabetes, tak ada salahnya mencoba madu. "Orang dewasa memerlukan dosis dan frekuensi lebih tinggi. Saya menyarankan menambahkan madu dalam minuman lemon daripada menelannya begitu saja," kata Chang.

Belum jelas bagaimana madu bisa meredakan batuk. Menurut sebuah studi, madu mengandung lebih dari 181 zat alami. Kandungan antioksidan dan antimikrobanya disebut-sebut membantu mengatasi batuk anak. Chang berpendapat bahwa meski madu mengandung zat antimikroba, diduga kombinasi dari beberapa unsurlah yang membuatnya efektif.

"Selain melapisi tenggorokan dan memicu mekanisme menelan, madu juga mengubah kepekaan serat-serat sensor dengan rasa manisnya. Ada interaksi saraf sensor secara lokal dan di sistem saraf pusat yang terlibat dalam pengaturan mekanisme batuk," jelas Chang.

Bagaimanapun juga, McCoy tak menyarankan madu diberikan pada bayi berusia di bawah 12 bulan, baik mereka sedang batuk maupun tidak. Pasalnya, madu bisa jadi sumber spora botulisme. Botulisme adalah penyakit langka yang berpotensi fatal. Diawali dengan gangguan bicara dan melihat, gejalanya bisa diikuti lemahnya otot tangan dan kaki.

"Ada risiko botulisme bayi. Meski sangat langka, sistem kekebalan tubuh bayi tak akan cukup berkembang untuk melawannya," jelas McCoy, seperti ditulis ABC Australia (08/08/2013). Ia menyarankan mengatasi batuk pada bayi dengan mengemongnya, memberikan cairan sedikit demi sedikit secara rutin, serta membawanya ke dokter jika diperlukan.

Menurut dr. Brian Morton, seperti pengobatan lain, madu hanya mengatasi gejalanya. "Tak banyak yang bisa memperpendek masa infeksi jika Anda sudah mengalaminya," katanya.

Meski sulit, Chang mengatakan bahwa alternatif lain untuk mengatasi batuk adalah membiarkannya. "Anak-anak batuk untuk memindahkan sekresi ke atas. Jadi lebih seperti mekanisme pembelaan," kata Chang.

Namun jika anak merasa stres karena batuk dan orang tua jadi kurang tidur, alternatif madu adalah menggunakan balsem berbahan menthol di dada serta menepuk punggung si kecil perlahan.

(fit/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com