Kelelawar Bacem di Gunungkidul Juga Kena Dampak Pandemi Corona

Pradito Rida Pertana - detikFood Minggu, 17 Mei 2020 11:00 WIB
Kelelawar Bacem di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom.
Gunungkidul -

Keleawar bacem yang populer di Gunungkidul ikut terdampak virus corona. Apalagi kelelawar disebut peneliti sebagai sumber virus corona.

Sebuah studi baru yang dilakukan oleh University of Hong Kong, virus Corona baru yang memicu pandemi Corona berasal dari kelelawar yang ditemukan di Asia. Hal itu membuat penjaja kuliner kelelawar bacem di Gunungkidul gulung tikar, namun masih ada pula yang berjualan meski terbatas.

Seperti yang dialami penjual bernama Sukarwanti (62). Saat ini dia menutup warung makan yang salah satu menu andalannya adalah kelelawar bacem. Mengingat saat ini masih memasuki bulan Ramadhan.

"Ya kalau puasa seperti ini warung (makan) libur mas," katanya kepada detikcom, Sabtu (16/5/2020).

Kelelawar Bacem di GunungkidulKelelawar Bacem di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom.



Meski libur, warga Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul ini tetap melayani pemesanan kelelawar bacem. Karena di tengah pandemi ini masih ada beberapa pelanggan yang memesan kuliner ekstrem itu kepadanya.

"Memang libur (warung tutup), tapi kalau ada pesanan (kelelawar bacem) ya saya buatkan. Kemarin ini ada yang pesan tapi belum saya buatkan karena codotnya (kelelawar) baru dicarikan, apalagi airnya (air laut) pasang sehingga sulit (mendapatkan kelelawar)," ujarnya.

Sukarwanti menyebut, pemesan kelelawar bacem olahannya kebanyakan berasal dari luar Gunungkidul. Menurutnya, hal itu karena kelelawar bacem diyakini mampu mengobati berbagai penyakit seperti asma, asam urat hingga diabetes.

"Kebanyakan yang pesan itu dari luar (Gunungkidul), seperti dari Maguwo (Sleman) dan Magelang. Jadi sistemnya nanti pesanan saya titipkan anak saya dan ketemuan, biasanya mereka kalau mesan sampai 25 ekor," katanya.

Kelelawar Bacem di GunungkidulKelelawar Bacem di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom.



Menyoal kabar virus Corona yang berasal dari kelelawar, Sukarwanti mengaku tidak mempengaruhi penjualannya. Hal itu karena kelelawar olahannya dia masak hingga matang dengan suhu yang sangat panas.

"Lha nyatanya masih ada yang pesan, kemarin ada yang pesan dan sekarang pesan lagi," ucap Sukarwanti.

Berbeda-beda dengan Sukarwanti, seorang penjaja kelelawar bacem di Desa Giritirto, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul, Suryanti (35) memilih tidak memasukkan kelelawar bacem sebagai salah satu menu di rumah makannya. Hal itu sebagai langkah pencegahan COVID-19.

"Warung tetap buka tapi untuk menu codot tidak ada sekarang, sudah berhenti saya," katanya.

"Saya sudah tidak jualan kelelawar bacem sejak diumumkan COVID-19 masuk ke Indonesia itu. Alasannya karena untuk antisipasi (COVID-19) saja, apalagi saya dan anak saya suka makan kelelawar," lanjut Suryanti.

Kendati tidak menjajakan menu kelelawar bacem, warung makan milik Suryanti tetap buka. Selain itu, dihapusnya menu kelelawar tidak mengurangi pendapatannya.

"Alhamdulillah saya berpindah jualan belalang sekarang mas. Jadi masih ada pemasukan meski tidak jualan codot bacem," katanya.

Terkait apakah ia kembali menjajakan menu kelelawar bacem apabila pandemi berakhir, Suryanti mengaku tidak bisa memastikannya. Hal itu karena dia masih beranggapan jika virus Corona berasal dari kelelawar.

"Wah kalau itu masih mau jualan menu kelelawar bacem belum tahu mas, apalagi situasinya kan seperti ini juga," ucapnya.

Kelelawar Bacem di GunungkidulKelelawar Bacem di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom.



Kelelawar bacem merupakan sajian daging kelelawar atau codot yang dibumbui bacem. Berupa bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, gula Jawa, daun salam dan lengkuas. Setelah bumbu meresep dan daging empuk barulah kelelawar digoreng. Rasanya gurih manis.

Soal kaitan virus corona dan kelelawar, dikutip dari South China Morning Post, departemen mikrobiologi Universitas Hong Kong menciptakan sekelompok sel yang menyerupai usus kelelawar tapal kuda China, spesies yang ditemukan di China, India, Nepal, dan Vietnam. Para peneliti berhasil menginfeksi struktur sel dengan virus Corona, yang dikenal sebagai SARS-CoV-2.

Penelitian sebelumnya telah menemukan spesies kelelawar membawa virus seperti yang menyebabkan sindrom pernapasan akut yang parah (SARS) dan yang mirip dengan SARS-CoV-2.

"Temuan ini, yang diambil bersamaan, menandakan bahwa kelelawar tapal kuda China mungkin benar-benar inang asli SARS-CoV-2," kata ahli mikrobiologi Dr Yuen Kwok-yung.



Simak Video "Palekko hingga Pisang Ijo, Menu Buka Puasa Relawan di Sulawesi"
[Gambas:Video 20detik]
(odi/odi)