Kopi decaf tak hanya menawarkan kafein lebih rendah. Studi terbaru menemukan konsumsi jenis kopi ini berpotensi membantu daya ingat lewat kaitannya dengan mikroba usus.
Kopi decaf kerap dipilih oleh mereka yang ingin tetap menikmati kopi dengan asupan kafein lebih rendah.
Penelitian terbaru menemukan kopi tanpa kafein ini berpotensi memberikan manfaat tersendiri bagi otak, terutama terkait daya ingat.
Peneliti juga menemukan adanya perubahan pada mikroba usus setelah peserta kembali mengonsumsi kopi.
Meski masih bersifat temuan awal, hal ini membuka kemungkinan bahwa manfaat kopi tidak hanya berasal dari kandungan kafeinnya saja bagi tubuh manusia.
Dilansir dari Science Alert (06/10/2026), berikut beberapa penjelasan terkait studi ini:
1. Apa Itu Kopi Decaf?
Kopi decaf bisa menjadi pilihan bagi orang yang ingin menikmati kopi dengan asupan kafein lebih rendah. Decaf merupakan kependekan dari decaffeinated coffee, yaitu kopi yang sebagian besar kandungan kafeinnya telah dihilangkan.
Proses dekafeinasi dapat menghilangkan sekitar 97% kafein dari biji kopi. Secara umum, kopi decaf mengandung kurang dari 5 mg kafein per cangkir.
Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kopi biasa yang secara alami dapat mengandung sekitar 50-120 mg kafein dalam setiap cangkirnya, tergantung jenis kopinya.
2. Kopi Decaf Berpotensi Bantu Daya Ingat
Kopi tanpa kafein atau decaf ternyata berpotensi memberikan manfaat tersendiri bagi otak. Dalam penelitian terbaru, peserta yang minum kopi decaf menunjukkan peningkatan signifikan pada dua tes memori.
Hasil serupa justru tidak ditemukan pada kelompok yang mengonsumsi kopi berkafein.
Temuan yang diterbitkan dalam Nature Communications ini menunjukkan bahwa manfaat kopi terhadap fungsi otak kemungkinan tidak hanya berasal dari kafein.
Peneliti menduga senyawa lain dalam kopi, termasuk polifenol, turut berperan melalui interaksinya dengan mikroba di usus.
Meski menarik, penelitian tersebut masih berskala kecil sehingga diperlukan studi lanjutan untuk memastikan mekanisme dan manfaatnya.
3. Penelitian Libatkan 31 Peminum Kopi
Penelitian dilakukan terhadap 31 orang yang terbiasa minum tiga hingga lima cangkir kopi setiap hari. Mereka diminta berhenti minum kopi selama dua minggu.
Setelah periode tersebut, peneliti menemukan perubahan cukup besar pada profil mikroba usus dari sampel tinja peserta. Selanjutnya, peserta dibagi menjadi dua kelompok tanpa mengetahui jenis kopi yang mereka dapatkan. Satu kelompok minum kopi decaf, sedangkan lainnya mendapatkan kopi berkafein.
Mereka kemudian mengonsumsi empat porsi kopi instan setiap hari selama tiga minggu. Konsumsi kopi kembali memicu perubahan pada mikrobioma usus, baik pada kelompok kopi berkafein maupun tanpa kafein.
Simak Video "Rasakan Kreasi Menu di Dunia Wonderland ala Mie Sedaap Ini!"
(sob/adr)