Susah menolak dessert atau camilan manis? Penelitian terbaru mengungkap kegemaran seseorang terhadap makanan manis, ternyata bisa dipengaruhi faktor genetik.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perbedaan selera terhadap makanan manis ternyata bisa dipengaruhi oleh faktor genetik.
Penelitian awal dari Center for Genomic Medicine di Massachusetts General Hospital menemukan bahwa gen dapat memengaruhi selera seseorang. Faktor tersebut ikut menentukan seberapa kuat seseorang merasakan rasa manis dan seberapa besar kepuasan yang didapat setelah menyantapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan ini dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Society for Nutrition dan belum melalui proses penelaahan sejawat (peer review), sehingga sifatnya masih awal dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
Dilansir dari Food and Wine (05/09/2026), peneliti menganalisis data hampir 500.000 peserta United Kingdom Biobank. Jawaban peserta mengenai makanan yang mereka sukai kemudian dibandingkan dengan data genetik mereka.
Hasilnya, orang dengan skor genetik lebih tinggi terhadap rasa manis rata-rata mengonsumsi sekitar 7 gram makanan manis lebih banyak per hari, serta berkaitan dengan berat badan lebih tinggi dan sedikit peningkatan risiko diabetes tipe 2.
"Meski 7 gram terdengar sepele, jumlah itu bisa bertambah signifikan jika menjadi kebiasaan harian," kata Nneoma Oparaji, dokter bersertifikasi penyakit dalam, kedokteran obesitas, dan kedokteran gaya hidup.
Menurut Oparaji, gen memberi instruksi bagi reseptor pengecap TAS1R2 dan TAS1R3 yang mendeteksi rasa manis. Variasi genetik pada reseptor ini memengaruhi seberapa kuat seseorang merasakan manis.
Sskaligus seberapa besar respons reward di otak saat mengonsumsinya, sehingga menjelaskan mengapa hidangan penutup yang sama bisa terasa jauh lebih memuaskan bagi satu orang dibanding lainnya.
Meski begitu, Oparaji menjelaskan bawha genetik bukan penentu utama seseorang suka makanan manis.
"Gen memengaruhi preferensi, preferensi memengaruhi pilihan makanan, dan pilihan makanan itu yang akhirnya memengaruhi kesehatan metabolik," ujarnya.
Ahli gizi Sarah Amidon juga menekankan bahwa kesehatan metabolisme dipengaruhi banyak hal, termasuk ketersediaan makanan, aktivitas fisik, tidur, dan gaya hidup. Artinya, memiliki kecenderungan genetik menyukai makanan manis bukan berarti seseorang tidak bisa mengatur pola makannya.
Kedua ahli gizi ini turut membedakan gula alami pada buah dan susu, yang datang bersama serat serta vitamin, dengan gula tambahan pada minuman bersoda, kue, dan camilan olahan yang minim nilai gizi. Hasilnya mereka menyarankan perubahan pola makan yang sederhana.
Seperti meminimalisir konsumsi makanan manis berlebihan, dengan memilih makanan manis alami seperti buah, memadukannya dengan protein atau serat agar lebih mengenyangkan.

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN