Sering Skip Sarapan? Ini 5 Dampaknya pada Gula Darah

Sering Skip Sarapan? Ini 5 Dampaknya pada Gula Darah

Diah Afrilian - detikFood
Jumat, 28 Agu 2026 05:00 WIB
Closeup asian woman eat white toast at home - unhealthy food concept
Foto: Getty Images/PonyWang
Jakarta -

Melewati atau skip sarapan bisa memengaruhi gula darah, energi, insulin, dan rasa lapar. Ternyata ada beberapa dampak yang perlu diwaspadai dari melewatkan waktu sarapan.

Sarapan sering kali dilewatkan karena alasan kesibukan, padahal waktu makan ini berkaitan dengan cara tubuh mengatur energi. Respons tubuh terhadap makanan juga bisa berbeda sepanjang hari.

Dilansir dari laman Verywell Health (26/8/2026), melewatkan makan pagi bukan hanya soal rasa lapar. Ada beberapa perubahan yang dapat terjadi pada kadar gula darah dan nafsu makan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Gegara Sup Ikan Terkontaminasi Serangga, Wanita Ini Diare 2 Hari

Berikut 5 dampak melewatkan sarapan terhadap gula darah:

Nasi Pecel, Traditional Indonesian meal with rice, chicken, and sambal served on a wooden tableMelewatkan sarapan ternyata justru memicu lonjakan gula darah lebih cepat. Foto: Getty Images/rudi_suardi

1. Gula Darah Lebih Cepat Naik

Melewatkan sarapan dapat membuat gula darah melonjak lebih tinggi setelah makan berikutnya. Kondisi ini berkaitan dengan respons tubuh terhadap karbohidrat.

ADVERTISEMENT

Tubuh memiliki efek bernama second meal effect. Sarapan membantu tubuh memproses gula pada waktu makan berikutnya dengan lebih baik.

Jika sarapan dilewati, manfaat tersebut bisa berkurang. Akibatnya, tubuh dapat mengalami respons gula darah yang lebih tinggi setelah makan siang.

2. Gula Tetap Dirilis Hati

Saat pagi, hati secara alami melepaskan cadangan glukosa untuk menyediakan energi. Proses ini tetap berlangsung ketika seseorang belum makan.

Tanpa asupan makanan, pelepasan glukosa dari hati dapat berlangsung lebih lama. Kondisi ini bisa membuat gula darah tetap tinggi hingga pertengahan pagi.

Kadar insulin yang rendah saat berpuasa turut berperan dalam proses tersebut. Dampaknya dapat lebih terasa pada orang yang mengalami resistensi insulin.

3. Penurunan Energi secara Drastis

Sebagian orang mungkin merasa tetap fokus ketika tidak sarapan. Namun, energi bisa menurun setelah beberapa waktu dan menimbulkan rasa lelah.

Pada pagi hari, hormon kortisol berada pada tingkat lebih tinggi. Hormon ini dapat membantu meningkatkan gula darah dan menjaga tubuh tetap waspada.

Ketika kadar kortisol mulai menurun, energi juga dapat ikut berubah. Kondisi tersebut bisa membuat seseorang merasa lemas sebelum waktu makan berikutnya.

Portrait of beautiful young woman enjoying breakfast at home.Waktu makan yang salah juga dapat memengaruhi sensitivitas insulin. Foto: Lifestock

4. Memengaruhi Sensitivitas Insulin

Waktu makan juga berhubungan dengan sensitivitas insulin tubuh. Makan lebih awal dikaitkan dengan kemampuan tubuh mengatur gula darah yang lebih baik.

Tubuh memiliki ritme sirkadian yang memengaruhi metabolisme sepanjang hari. Insulin cenderung bekerja lebih baik pada waktu yang lebih awal.

Hal tersebut membuat menunda makan pertama dapat memengaruhi cara tubuh memproses karbohidrat. Pengaturan waktu makan menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan.

5. Rasa Lapar Lebih Sulit Dikendalikan

Tidak sarapan belum tentu membuat seseorang makan lebih sedikit sepanjang hari. Sebaliknya, rasa lapar bisa meningkat dan mendorong makan berlebihan.

Hormon ghrelin yang memicu rasa lapar dapat meningkat ketika waktu makan dilewati. Keinginan mengonsumsi makanan berkarbohidrat sederhana juga bisa muncul.

Porsi makan yang lebih besar kemudian berpotensi membuat gula darah melonjak. Siklus ini dapat terjadi ketika seseorang sering menunda makan pagi.

Halaman 2 dari 2
(dfl/dfl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads