Benarkah Kurangi Asupan Protein Bikin Umur Panjang?

Benarkah Kurangi Asupan Protein Bikin Umur Panjang?

Sonia Basoni - detikFood
Sabtu, 15 Agu 2026 06:00 WIB
Protein hewani
Foto: Getty Images/a_namenko
Jakarta -

Membatasi asupan protein tak sekadar mengurangi kalori, tapi juga berpotensi menjadi cara mendukung umur yang lebih panjang. Berikut penjelasannya!


Temuan tersebut berasal dari tinjauan ilmiah yang menganalisis lebih dari 350 penelitian dan dipublikasikan di jurnal Cell Press. Namun, peneliti menegaskan bahwa kebutuhan protein setiap orang berbeda sehingga hasil ini tidak dapat disamaratakan.

Dilansir dari NYPost (05/08/2026), selama ini, pembatasan kalori kerap dikaitkan dengan umur yang lebih panjang dan risiko penyakit terkait penuaan yang lebih rendah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

healthy eating and diet concept - natural rich in protein food on tableNatural rich in protein food on table Foto: iStock

Sayangnya, banyak orang kesulitan menjalani pola makan rendah kalori dalam jangka panjang. Karena itu, para peneliti meninjau berbagai studi untuk melihat apakah pembatasan protein dapat memberikan manfaat serupa tanpa harus mengurangi total kalori yang dikonsumsi.

Hasil tinjauan menunjukkan bahwa asupan protein yang lebih rendah berkaitan dengan perbaikan metabolisme, perubahan sinyal nutrisi, berkurangnya kerusakan sel, serta meningkatnya proses pemeliharaan sel.

ADVERTISEMENT

Salah satu mekanisme yang diduga berperan adalah meningkatnya hormon metabolik fibroblast growth factor 21 (FGF21).

Pada penelitian hewan, peningkatan FGF21 diketahui dapat membantu meningkatkan pengeluaran energi, mengurangi peradangan, memperbaiki kontrol gula darah, dan memperpanjang usia.

Peneliti juga menyoroti tiga asam amino penyusun protein, yaitu metionin, isoleusin, dan valin. Dalam kondisi tertentu, ketiga asam amino tersebut diduga berkontribusi pada jalur biologis yang berkaitan dengan proses penuaan.

Pada orang yang jarang berolahraga, kadar asam amino yang tinggi dapat membuat proses pertumbuhan sel terus aktif sehingga dalam jangka panjang berpotensi memicu kerusakan sel, peradangan sistemik, hingga kenaikan berat badan.

"Manfaat protein bagi pertumbuhan otot dan respons tubuh terhadap olahraga pada orang yang aktif sudah sangat jelas," ujar Dudley Lamming, penulis korespondensi studi sekaligus peneliti dari University of Wisconsin-Madison.

Natural products rich in vitamin B6 and protein. Healthy diet concept for weight loss. close upNatural products rich in vitamin B6 and protein. Healthy diet concept for weight loss. close up Foto: iStock

"Karena sebagian besar orang cenderung kurang aktif secara fisik, banyak yang kemungkinan mengonsumsi protein lebih banyak daripada yang sebenarnya dibutuhkan dan hal itu mungkin menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan." sambungnya.

Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa studi ini merupakan tinjauan ilmiah, bukan uji klinis baru, sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab akibat pada manusia.

Mereka juga menjelaskan bahwa temuan ini bukan berarti semua orang harus mengurangi protein. Atlet, orang yang rutin berolahraga, ibu hamil, dan lansia tetap membutuhkan asupan protein yang cukup.

Karena itu, rekomendasi konsumsi protein sebaiknya disesuaikan dengan usia dan tingkat aktivitas fisik masing-masing individu.



(sob/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads