Kebiasaan makan lebih lambat tak hanya memengaruhi kondisi pencernaan, tapi juga terkait emosi, kesadaran diri, hingga kesehatan mental dalam jangka panjang. Begini penjelasan peneliti.
Makan cepat sering dianggap sebagai kebiasaan netral, tapi ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa kebiasaan itu membawa dampak psikologis yang terukur.
Kebanyakan orang hanya membicarakan efek kecepatan makan terkait dengan berat badan dan pencernaan. Namun, dimensi psikologisnya jarang diperhatikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata, mereka yang makan lebih lambat memiliki sejumlah keuntungan psikologis. Dikutip dari Times of India (21/6), berikut daftarnya:
1. Mengenali rasa lapar dan sinyal kenyang lebih akurat
Keuntungan pertama dari makan lebih pelan adalah mampu membuat seseorang mempercayai tubuhnya sendiri. Menurut penelitian, hormon rasa kenyang dihasilkan dari saluran pencernaan saat makan, tapi sinyal ini memerlukan waktu kurang lebih 20 menit dari awal makan hingga dikenali sepenuhnya di otak.
Mereka yang makan cepat, biasanya di bawah 10 menit, secara konsisten makan jauh melebihi titik kenyang sebenarnya sebelum sinyal hormonal tersebut tiba di otak.
Sebaliknya, saat seseorang makan makan lebih pelan, tubuh punya kesempatan untuk 'berkomunikasi' lebih akurat dalam mengenali rasa kenyang, mengembangkan apa yang psikolog sebut kesadaran interoseptif. Kemampuan membaca kondisi fisik internal dengan andal dan keterampilan mengatur emosional juga dapat dirasakan.
2. Memiliki kemungkinan lebih kecil untuk makan karena emosi saat stres
Sebuah jurnal mengungkap peningkatan kortisol akibat stres kronis mendorong orang makan lebih cepat dan mengonsumsi makanan tinggi kalori sebagai 'solusi cepat' untuk mengatasinya. Kondisi ini mengaktifkan sirkuit penghargaan otak dengan berbagai cara yang mengesampingkan pilihan makanan yang rasional.
Mereka yang makan lebih lambat, bahkan saat stres, secara aktif mengganggu siklus otomatis tersebut. Hal ini melibatkan bagian korteks prefrontal pada otak. Makan perlahan disebut bukan hanya kebiasaan, melainkan sebuah latihan regulasi emosi berulang setiap kali menyantap makanan.
3. Kepuasan makan lebih besar dan keinginan makan lebih rendah
Penelitian dalam Harvard Health menunjukkan mereka yang makan lebih pelan dan 'sadar' memungkinkan sistem sensorik otak untuk memproses rasa, aroma, dan tekstur secara penuh. Pada akhirnya kondisi ini menciptakan pengalaman makan lebih puas dan mengurangi keinginan makan setelahnya.
Mekanisme tersebut melibatkan teori kognisi berbasis pengalaman (grounded-cognition theory) di mana hasrat makan meningkat ketika orang secara mental mensimulasikan makan tanpa benar-benar 'hadir' saat makan.
Mereka yang makan lebih cepat, kehilangan banyak pengalaman sensorik saat makan, yang berujung pada kepuasan makan yang lebih sedikit meski mengonsumsi jumlah kalori yang sama.
4. Regulasi emosi lebih baik di sekitar makanan
Sebuah studi dalam Nutrition Research Reviews menemukan makan lebih sadar yaitu dengan perlahan dan benar-benar 'hadir' saat menyantap makanan, secara konsisten mengurangi keinginan makan berlebih dan makan karena sebab emosional, di berbagai populasi klinis.
Manfaat tersebut sebagian dikaitkan dengan berkurangnya reaktivitas amigdala. Makan perlahan, dengan kata lain, melatih sistem saraf untuk merasakan makanan dalam kondisi lebih tenang, yang seiring waktu mengurangi kecenderungan untuk menggunakan makanan sebagai pelampiasan emosi.
5. Punya hubungan jangka panjang lebih baik dengan makanan
Sebuah studi tahun 2025 yang dimuat dalam Frontiers in Nutrition terhadap 990 partisipan orang dewasa menemukan mereka yang punya nilai tinggi dalam hal skala makan penuh kesadaran dan intuitif, menunjukkan penurunan stres mental yang signifikan dan pola makan yang lebih sehat.
Mereka yang makan lebih pelan kemungkinan mengembangkan sesuatu yang disebut peneliti sebagai kesadaran tanpa menghakimi terhadap makanan, memperlakukan makanan sebagai sumber pemenuhan gizi dan pengalaman sensorik, alih-alih sesuatu yang harus diselesaikan dengan cepat atau menimbulkan rasa bersalah setelahnya.
(adr/adr)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN