Perut Buncit Susah Hilang? Bisa Jadi Karena 5 Makanan Ini

Perut Buncit Susah Hilang? Bisa Jadi Karena 5 Makanan Ini

Sonia Basoni - detikFood
Kamis, 12 Mar 2026 04:00 WIB
Overweight woman with tape is measuring fat on belly - obesity concept
Foto: iStock
Jakarta -

Memangkas lemak di area perut tidak dapat dilakukan secara instan. Kamu perlu menghindari konsumsi berlebihan makanan-makanan ini.

Para ahli gizi menekankan bahwa proses menghilangkan lemak di area perut memerlukan pendekatan menyeluruh yang melibatkan pola makan sehat, aktivitas fisik, pengelolaan stres, serta gaya hidup seimbang. Salah satu langkah penting adalah membatasi konsumsi makanan tertentu yang dapat memicu penumpukan lemak perut.

Umumnya makanan tersebut tinggi gula tambahan, lemak trans, serta tergolong makanan ultraolahan seperti permen, makanan cepat saji, dan produk kemasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari Eat This Not That (11/03/2026), ahli gizi Noah Quezada, RDN, menjelaskan bahwa penelitian dalam jurnal Obesity Reviews, menunjukkan orang yang sering mengonsumsi makanan berkalori tinggi dan sangat diproses lebih berisiko mengalami penumpukan lemak di area perut.

Tentunya memahami jenis makanan yang sebaiknya dibatasi menjadi langkah penting dalam mencapai target penurunan lemak perut.

ADVERTISEMENT

Berikut lima makanan yang bisa menumpuk lemak di perut dan konsumsinya perlu dibatasi.

1. Permen

Ilustrasi permen dan cokelatIlustrasi permen dan cokelat Foto: Getty Images/iStockphoto/karandaev

Permen sering dianggap camilan ringan yang tidak berbahaya. Namun, konsumsi berlebihan justru dapat berkontribusi pada penumpukan lemak di area perut. Makanan ini umumnya mengandung karbohidrat sederhana dalam jumlah tinggi, tetapi minim serat dan protein.

Akibatnya, tubuh tidak merasa kenyang meskipun telah mengonsumsi cukup banyak kalori. Menurut ahli gizi Lauren Manaker, karbohidrat pada dasarnya merupakan sumber energi. Jika energi tersebut tidak digunakan oleh tubuh, kelebihannya akan disimpan sebagai lemak, termasuk di area perut.

Permen juga tinggi gula tambahan yang kerap disebut sebagai kalori kosong. Artinya makanan ini memberikan energi tanpa nutrisi penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula tambahan yang berlebihan berkaitan dengan peningkatan lemak abdominal (area perut), terutama jika permen dikonsumsi terlalu sering.

2. Es Krim

Close-up of woman serving ice cream, Nikon Z7Es krim. Foto: Getty Images/iStockphoto/webphotographeer

Es krim menjadi salah satu makanan penutup favorit banyak orang. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut membuat makanan ini sulit ditolak. Namun, konsumsi es krim secara rutin dapat memicu peningkatan berat badan, terutama di area perut.

Hal ini karena es krim umumnya mengandung gula tambahan dan lemak jenuh dalam jumlah tinggi. Kombinasi kedua zat tersebut dapat meningkatkan asupan kalori harian secara signifikan. Selain itu, es krim juga mudah dikonsumsi dalam porsi besar tanpa disadari.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tingginya konsumsi gula tambahan berkaitan dengan peningkatan lemak visceral, yaitu lemak yang berada di sekitar organ perut. Meski demikian, saat ini tersedia berbagai pilihan es krim dengan kandungan gula lebih rendah atau low calorie yang dapat menjadi alternatif bagi mereka yang ingin tetap menikmati camilan manis versi lebih sehat.

3. Makanan Cepat Saji yang Digoreng

Wow! Resto Fast Food Ini Pakai Bantuan Teknologi RobotMakanan Cepat Saji yang Digoreng. Foto: lovefood.com

Makanan cepat saji yang digoreng, seperti kentang goreng dan ayam goreng, sering dikaitkan dengan peningkatan lemak di area perut jika dikonsumsi secara rutin. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan minyak yang mengandung lemak trans, terutama pada proses penggorengan dalam jumlah besar.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minyak jagung yang sering digunakan di restoran cepat saji memiliki kandungan lemak trans lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya. Selain itu, makanan cepat saji termasuk kategori makanan olahan yang tinggi kalori, garam, dan lemak.

Konsumsi makanan jenis ini secara berlebihan terbukti berkaitan dengan peningkatan lemak visceral, yaitu lemak yang menumpuk di sekitar organ perut. Sebuah penelitian dalam Journal of Preventive Medicine and Hygiene juga menyimpulkan bahwa kebiasaan mengonsumsi fast food dapat meningkatkan risiko obesitas.

4. Roti Putih

Gluten intolerance with bread wheat and warning sign on white planks closeupRoti putih. Foto: Getty Images/udra

Roti putih merupakan salah satu produk olahan gandum yang telah melalui proses pemurnian. Dalam proses tersebut, bagian dedak dan germ yang kaya serat serta nutrisi penting dihilangkan. Akibatnya, roti putih memiliki kandungan serat yang jauh lebih rendah dibandingkan roti gandum utuh. Kekurangan serat dapat membuat seseorang lebih cepat lapar sehingga berpotensi makan lebih banyak.

Selain itu, roti putih memiliki indeks glikemik tinggi yang dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat. Kondisi ini memicu peningkatan hormon insulin yang berperan menyimpan energi berlebih dalam bentuk lemak.

Jika terjadi secara terus-menerus, penumpukan lemak dapat terjadi di area perut. Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa konsumsi tinggi biji-bijian olahan berkaitan dengan peningkatan lemak visceral dibandingkan konsumsi gandum utuh.

5. Daging Olahan

Mau Pesta Sosis Bakar? Kenali 5 Jenis Sosis Ini, Ada Bratwurst dan FrankfurterSosis. Foto: Getty Images/iStockphoto/SGAPhoto

Daging olahan seperti sosis, bacon, pepperoni, dan daging asap merupakan makanan yang cukup populer dalam berbagai hidangan. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi daging olahan secara berlebihan dapat berdampak negatif bagi kesehatan.

Selain dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, makanan ini juga berpotensi meningkatkan lingkar pinggang. Daging olahan umumnya mengandung lemak jenuh, garam, serta bahan pengawet dalam jumlah tinggi. Kombinasi tersebut dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan berkontribusi pada penumpukan lemak di area perut.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan yang rendah daging olahan dan lebih banyak mengonsumsi buah serta produk susu cenderung membantu mencegah akumulasi lemak abdominal. Oleh karena itu, daging olahan sebaiknya tidak dijadikan menu harian, tetapi dikonsumsi sesekali saja sebagai variasi makanan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Menjaga Kenangan Tentang Gaza Tetap Hidup Lewat Toko Es Krim"
[Gambas:Video 20detik]
(sob/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads