Kemasan makanan memang praktis dan memudahkan penyimpanan. Namun, beberapa jenis kemasan mengandung bahan kimia tertentu yang berdampak buruk bagi kesehatan jika digunakan dalam jangka panjang.
Kemasan makanan berperan penting dalam menjaga produk tetap segar dan aman, tetapi penelitian yang berkembang menunjukkan bahwa bahan kemasan tertentu dapat menimbulkan risiko kesehatan seiring waktu.
Bahan kimia pada kemasan makanan dikhawatirkan dapat 'berpindah' dari kemasan ke dalam makanan yang kita konsumsi. Meskipun tidak ada kemasan makanan yang terbukti langsung menyebabkan kanker, tapi studi telah mengaitkan bahan kemasan tertentu dengan peningkatan risiko kanker, terutama dengan paparan yang sering dan jangka panjang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir dari MSN (26/2), berikut 7 jenis kemasan makanan yang dapat memicu kanker:
1. Makanan Kaleng
Wadah makanan kaleng bisa berbahaya. Foto: Getty Images/iStockphoto/SarapulSar38 |
Banyak makanan kaleng dilapisi bahan yang mengandung BPA (Bisphenol A) di bagian dalamnya. BPA digunakan untuk mencegah karat dan menjaga makanan tetap aman. Namun, zat ini dikenal sebagai pengganggu hormon. Paparan jangka panjang terhadap BPA dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker serta gangguan sistem endokrin.
2. Makanan Cepat Saji dengan Pembungkus Anti Minyak
Kertas pembungkus burger, kentang goreng, dan makanan cepat saji lainnya, dilapisi bahan tahan minyak. Lapisan ini kerap mengandung PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances), yaitu bahan kimia yang sulit terurai dan dapat bertahan lama di lingkungan maupun tubuh manusia.
PFAS dikenal sebagai 'forever chemicals' karena sangat sulit dihilangkan. Beberapa penelitian mengaitkan paparan jangka panjangnya dengan peningkatan risiko kanker.
3. Kantong Popcorn Microwave
Kantong Popcorn Microwave Foto: Getty Images/fcafotodigital |
Kantong popcorn khusus microwave juga dilapisi bahan tahan panas dan minyak yang mengandung PFAS. Saat dipanaskan dalam suhu tinggi, ada kemungkinan zat tersebut berpindah ke popcorn yang dikonsumsi. Selain itu, uap yang keluar saat kantong dibuka juga bisa mengandung residu bahan kimia.
4. Wadah Styrofoam untuk Makanan Panas
Wadah styrofoam, yang biasa digunakan untuk makanan panas dan sisa makanan, terbuat dari polistirena. Saat dipanaskan, polistirena dapat melepaskan stirena, suatu zat kimia yang diklasifikasikan sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia. Cairan panas dan makanan berminyak meningkatkan kemungkinan migrasi zat kimia dari wadah styrofoam ke dalam makanan.
5. Botol Plastik untuk Minuman
Ilustrasi botol air mineral plastik. Foto: Site News |
Beberapa botol plastik, terutama jika terpapar panas, seperti ditinggal di mobil, dapat melepaskan zat kimia tertentu ke dalam minuman. Paparan panas bisa mempercepat proses perpindahan bahan kimia dari plastik ke cairan.
Kebiasaan berulang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kesehatan. Karena itu, disarankan untuk tidak menyimpan botol plastik di tempat bersuhu tinggi.
6. Kemasan Plastik Makanan Beku
Ilustrasi wadah makanan beku. Foto: Ilustrasi iStock |
Sebagian makanan beku dikemas dalam plastik yang dirancang tahan suhu rendah. Namun, ketika makanan tersebut langsung dipanaskan dalam kemasan aslinya, ada kemungkinan bahan kimia dalam plastik ikut berpindah ke makanan.
Beberapa jenis plastik memang tidak dirancang untuk pemanasan tinggi. Itulah sebabnya banyak ahli menyarankan memindahkan makanan beku ke wadah kaca atau keramik sebelum dipanaskan.
7. Kemasan Makanan Siap Saji Tahan Minyak
Makanan seperti pastry, donat, dan sandwich siap saji sering dikemas dalam kantong atau kotak kertas tahan minyak. Bahan-bahan ini mungkin juga mengandung PFAS atau bahan kimia serupa yang dirancang untuk mencegah penyerapan minyak.
Paparan berulang melalui pembelian sehari-hari dapat menumpuk dalam tubuh, terutama bagi orang-orang yang bergantung pada konsumsi makanan siap saji.
Simak Video "Mengulik Khasiat Alpukat untuk Kesehatan Kulit"
[Gambas:Video 20detik]
(raf/adr)





KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN