Sering Konsumsi 'Junk Food' Bisa Memicu Risiko Diabetes, Ini Kata Ahli Gizi

Devi Setya - detikFood
Minggu, 16 Jan 2022 08:00 WIB
assorted junk food
Foto: iStock

2. Terjadi resistensi insulin

Obesitas dan penumpukan lemak tubuh berkaitan dengan resistensi insulin. Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas dan digunakan oleh tubuh untuk mendorong gula ke dalam sel dan selanjutnya diubah menjadi energi.

Ketika tubuh tidak menggunakan insulin dengan benar, pankreas berasumsi bahwa ada kebutuhan insulin lebih. Produksi insulin yang berlebih membuat sel-sel pada pankreas kelelahan, dan akhirnya menyebabkan diabetes.

Makanan cepat saji yang tinggi kandungan gula dan kalori mendorong lonjakan gula darah, meningkatkan produksi insulin secara konstan. Efek lainnya adalah menyebabkan rasa lapar terus menerus. Peningkatan konsumsi kalori turut menjadi penyebab diabetes.

Murah Meriah! Fried Chicken dan Pizza Enak Juga Ada di Gerobak Kaki 5Ayam goreng di restoran fast food Foto: iStock

3. Penumpukan lemak

Junk food identik dengan makanan tinggi lemak jenuh dan sebagian juga mengandung lemak trans. Kedua jenis lemak ini meningkatkan kadar trigliserida dalam darah. Tingkat trigliserida yang tinggi secara langsung terkait dengan risiko diabetes.

Tubuh memang secara alami membutuhkan asupan lemak namun berupa lemak sehat dan dalam porsi tertentu. Konsumsi junk food secara berlebihan dan rutin membuat tubuh menampung banyak lemak.

Efek jangka panjangnya bisa berupa kolesterol tinggi, kegemukan bahkan stroke dan penyakit jantung. Junk food boleh dikonsumsi asalkan dalam porsi terbatas dan diselingi dengan makanan tinggi nutrisi seperti sayuran, buah dan kacang-kacangan.



Simak Video "Ini Bahayanya Jika Santan Dipanaskan Berulang"
[Gambas:Video 20detik]

(dvs/dvs)