Toleransi Kafein, Begini Efek Kafein bagi Tubuh dan Cara Mengatasinya

Diah Afrilian - detikFood Kamis, 11 Feb 2021 06:00 WIB
Toleransi Kafein, Begini Efek Kafein bagi Tubuh dan Cara Mengatasinya Foto: Getty Images/iStockphoto/amenic181
Jakarta -

Kafein pada kopi sering diandalkan sebagai pembangkit energi sebelum beraktivitas.Tetapi bagaimana jika kafein sudah tidak lagi memberikan pengaruh pada tubuh?

Sebagian besar orang dewasa memilih kopi sebagai minuman pembangkit energi di pagi hari. Hal ini sering dikaitkan dengan kandungan kafein pada kopi yang cukup tinggi.

Kafein memang merupakan senyawa alkaloid xantina. Kafein mampu bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan diuretik ringan.

Kemampuan kafein yang dapat merangsang psikoaktif ini yang kemudian akan membantu produksi energi dalam tubuh. Tetapi bagaimana jika kamu merasakan kafein sudah tidak berpengaruh lagi?

Menurut Livestrong (6/2), kondisi ini biasa dikenal sebagai toleransi kafein. Hal ini akan membuat efek adenosin atau yang mencegah kantuk menjadi tidak lagi memberikan pengaruh pada tubuh.

Toleransi Kafein, Begini Efek Kafein bagi Tubuh dan Cara MengatasinyaToleransi Kafein, Begini Efek Kafein bagi Tubuh dan Cara Mengatasinya Foto: Getty Images/iStockphoto/amenic181

"Reseptor adenosin di otak memainkan peran dalam tidur, gairah dan kognisi. Kafein untuk sementara memblokir reseptor ini, menciptakan efek merasa lebih waspada, mengurangi lelah dan lebih berenergi," kata Danielle Gaffen.

Ternyata, mengonsumsi kafein setiap hari justru akan memberikan efek yang berlawanan dengan yang diharapkan. Kafein yang diminum secara rutin justru akan menjadi kurang efektif karena tubuh akan membangun toleransi terhadap kafein.

"Sayangnya, dengan minum minuman berkafein secara teratur, otak mengkompensasi dengan membuat lebih banyak reseptor adenosin, sehingga memungkinkan lebih banyak molekul adenosin untuk mengikat mereka," kata Gaffen.

Ketika seseorang telah mencapai kondisi toleransi kafein, konsumsi kafein dalam jumlah besar menjadi pilihan yang sangat keliru. Sayangnya, sebagian besar orang justru melakukan hal tersebut ketika kafein dirasa mulai tidak berpengaruh pada tubuhnya.

Asupan sebanyak 400 miligram kafein per hari atau setara 4 cangkir kopi masih bisa disebut aman. Tetapi jika jumlah ini secara rutin dikonsumsi dan bahkan terus bertambah akan memberikan beberapa efek samping bagi tubuh.

Baca Juga: Lebih Baik Minum Kopi atau Teh Saat Sarapan? Ini Kata Ahli

Toleransi Kafein, Begini Efek Kafein bagi Tubuh dan Cara MengatasinyaToleransi Kafein, Begini Efek Kafein bagi Tubuh dan Cara Mengatasinya Foto: Getty Images/iStockphoto/amenic181

Efek samping kelebihan kafein bisa seperti sakit kepala, insomnia, gugup, iritabilitas, ketidakmampuan mengendalikan buang air kecil, detak jantung yang lebih cepat hingga tremor otot. Maka, pilihan terus menambah dosis kafein seharusnya tidak dilakukan.

Cara terbaik untuk mengatasi kondisi toleransi kafein adalah reset kafein. Reset kafein merupakan proses yang dilakukan secara perlahan untuk mengembalikan kemampuan tubuh mengenali kafein.

Reset kafein bukan dengan cara berhenti konsumsi kafein secara tiba-tiba. Cara seperti ini justru dapat berbahaya dan menimbulkan sakit kepala, kesulitan berkonsentrasi hingga mual dan nyeri otot.

Reset kafein bisa dimulai dengan memberikan jeda konsumsi kafein. Mulai dari 12 jam sampai 24 jam. Kemudian lakukan hal ini setidaknya selama 2 - 9 hari.

Selain menjaga jarak waktu konsumsi kafein, reset kafein juga bisa dengan cara lainnya. Misalnya dengan mengganti konsumsi kopi menjadi decaf atau beberapa minuman yang bisa menggantikan sumber energi kafein.

Berikut ini ada 5 minuman yang bisa membangkitkan energi tanpa kafein untuk kamu yang ingin melakukan reset kafein:

Baca artikel di halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com