Kalau Lagi Sedih dan Galau Mengapa Orang Cenderung Makan Lebih Banyak?

Devi Setya - detikFood Sabtu, 12 Mei 2018 07:20 WIB
Foto: iStock Foto: iStock
Jakarta - Suasana hati seseorang ternyata mempengaruhi nafsu makannya. Saat sedang sedih, orang cenderung lebih banyak makan. Kenapa ya?

Kegiatan makan bukan hanya proses memasukkan makanan ke dalam mulut atau kegiatan biologis semata. Makan berkaitan erat dengan pikiran dan emosi. Suasana hati ikut berperan pada pilihan makanan dan jumlah makanan yang diasup.

Ternyata mood seseorang sangat erat kaitannya dengan emosi dan ini juga mempengaruhi nafsu makan. Orang yang sedang dalam suasana hati sedih, depresi dan tertekan cenderung makan lebih banyak dibandingkan saat suasana hati sedang baik. Ketika orang merasa terisolasi, saat itulah oeang mencari cara untuk menghibur diri, salah satunya dengan makan.

Sebagaimana dilansir dari Food.Ndtv (10/5), sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association, para peneliti menemukan hubungan antara makan cokelat dan depresi. Dikatakan bahwa cokelat mengandung bahan-bahan yang dikenal bisa memperbaiki suasana hati. Demikian pula, ada makanan lain yang dikenal bisa mempengaruhi suasana hati juga.

Baca juga : Inilah Alasan Mengapa Saat Sedih Orang Cenderung Pilih Makanan Berlemak

Mengapa Saat Sedih dan Galau Orang Cenderung Makan Lebih Banyak?Foto: Istimewa
Tapi sebenarnya apa yang memicu otak untuk merangsang tubuh menyantap lebih banyak makanan. Terutama jenis makanan berlemak tinggi yang pastinya tidak baik bagi tubuh.

Menurut Ahli Nutrisi Dr. Rupali Datta, "Orang makan lebih banyak untuk menenangkan diri dan mengalihkan perhatian mereka dari situasi saat ini. Mereka beralih ke makanan yang mengandung gula dan tinggi lemak agar merasa lega. Hormon juga memainkan peran penting dalam perubahan suasana hati."

Pola makan memang menjadi komponen penting dari kesehatan mental. Menurut Harvard Health Publishing, Harvard Medical School pola makan yang tinggi buah, sayuran, biji-bijian, ikan, minyak zaitun, susu rendah lemak dan antioksidan sering dikaitkan dengan menurunkan risiko depresi.

Sementara orang yang banyak mengonsumsi daging merah, biji-bijian olahan, makanan manis, susu tinggi lemak, dikaitkan dengan pengingkatan risiko depresi. Terlalu banyak mengonsumsi makanan bergula atau makanan berlemak tinggi dapat menjadi pemicu pelepasan dopamine.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature Neuroscience, memakan makanan seperti itu dapat memicu pelepasan dopamine dan neurotransmitter yang baik di otak.

Baca juga : Sedang Patah Hati? Dessert Enak Ini Bantu Pulihkan Rasa Sedih

Mengapa Saat Sedih dan Galau Orang Cenderung Makan Lebih Banyak?Foto: iStock

Jadi, semakin banyak makanan yang dimakan, otak mulai kecanduan makanan. Ketika sedang sedih, maka psikis cenderung mendorong untuk makan lebih banyak. Orang cenderung menggunakan makanan untuk mengobati diri sendiri, yang diharapkan bisa membantu mengurangi perasaan negatif atau tidak nyaman.

Alasan lainnya adalah makanan bisa meningkatkan kadar serotin yakni zat kimia dalam otak yang mengubah suasana hati menjadi lebih tenang. Kalau sedang program diet, jangan terlalu banyak menyimpan kesedihan. Bisa-bisa diet Anda gagal 100 persen karena terus menerus menyantap makanan. (dvs/odi)